
Keesokan harinya di pagi hari Rio menemui Edgar di apartemennya, Leo langsung mempersilahkan Rio masuk. Edgar masih berada di dalam kamar mandinya, Rio menunggu Edgar di ruang tamu sambil melihat-lihat apartemen milik Edgar. Asyik berkeliling Rio menangkap sesuatu diatas laci, karena penasaran Eio pun mengambil sebuah buku yang sudah lusuh dan berdebu kemudian membukanya.
"Seperti tulisan Nadia." gumam Rio.
Hari ini adalah hari terberatku karena disaat aku masih dalam keadaan lemah seseorang memisahkan kebahagiaan keluarga kami, dia memaksa suamiku kembali pulang dan menikah dengan orang pilihannya. Saat itu tidak ada pilihan lain selain aku melepaskannya, aku tau ini tak mudah bagi mas Rio tapi disini dua bayi yang tak berdosa menjadi taruhannya.
Aku hidup berdua dengan anakku Edelio, setiap hari aku banting tulang bekerja demi sesuap nasi dan juga kebutuhan Edelio.
Selama berbulan-bulan aku berusaha mengikhlaskan suamiku menikah lagi dan membawa salah satu putraku, aku kira semuanya sudah selesai namun aku salah. Istri kedua suamiku datang mengacaukan hidupku, dia selalu datang ke rumahku menggangguku mengajak warga lain memfitnahku dengan tuduhan hamil tanpa suami karena memang kami menikah secara agama/siri.
Selama hampir dua tahun lamanya aku bertahan bersama anakku meskipun orang-orang membenciku, menjauhiku bahkan berusaha mencelakaiku. Aku bertahan demi anakku, sampai suatu hari dia datang bersama pria berbadan besar menggedor pintu rumahku, Edelio sampai ketakutan aku membawanya bersembunyi di balik tumpukan baju sampai mereka pergi.
Harapanku hanya satu, baik aku masih hidup ataupun mati aku ingin Edelio bersatu dengan kakaknya dan juga ayahnya. Cukup aku yang merasakan rasa sakitnya, aku tidak mau anakku pun merasakannya.
__ADS_1
"Daddy." panggil Edgar.
Rio menutup buku yang ada ditangannya, dia membalikkan tubuhnya menghadap kearah Edgar.
"Darimana kau mendalatkannya?" tanya Rio menunjukkan buku yang ada ditangannya.
"Dari rumah yang dulu pernah di tempati oleh Ibu." jawab Edgar apa adanya.
"Apa kau sudah menemukan ibumu?" tanya Eio lagi.
"Lalu dimana dia sekarang Edgar? Daddy ingin bertemu dengannya, izinkan daddy bertemu dengannya sekali ini saja dadsy mohon Edgar." desak Rio memohon kepada Edgar.
"Tunggu sebentar, aku mau pakai baju dulu sekalian membawa hadiah untuk Ibu." ucap Edgar.
__ADS_1
Rio menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Rio sangat senang sekali akhirnya dia bisa bertemu dengan pujaan hatinya yang sudah lama dicarinya, dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan Nadia sampai ia mendesak terus Edgar agar lebih cepat. Edgar terdiam sejenak, dia merasa bersalah telah memberikan harapan kepada ayahnya namun kini sudah saatnya Rio mengetahuinya Edgar tidak mau menundanya lagi.
'Maafkan aku daddy' batin Edgar.
Edgar membawa seikat bunga yang sudah ia siapkan untuk ibunya, Leo memberi kode kepada Edgar yang dibalas dengan senyuman oleh Edgar.
Beberapa menit kemudian Edgar sudah sampai di pemakaman, Rio heran kenapa Edgar berhenti di pemakaman bukankah dia mengajaknya untuk bertemu dengan Nadia pikirnya.
"Edgar kenapa kita kesini?" tanya Rio.
"Ikut aku." jawab Edgar.
Rio mengikuti Edgar dari belakang, dia berjalan sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah makam. Edgar berjongkok lalu meletakkan bunga diatas nissan yang tertulis nama Nadia diatasnya, Rio membaca nama yang tertulis diatas Nisan betapa syoknya ia sampai dadanya terasa sesak.
__ADS_1
Deg!!