
Setibanya di rumah sakit Albert berjalan dengan langkah tegapnya menuju ruangan ibunya, tidak perlu bertanya lagi dimana tempat ibunya karena Satria sudah mengirimkan dokumen lengkap jadi tidak perlu lama mencari. Adel sampai kewalahan menyeimbangi langkah Albert, dia setengah berlari agar tidak ketinggalan oleh suminya itu.
Tak..tak..tak..
Rasya mendengar suara langkah kaki menuju kearahnya, dia mencari sumber suara dan betapa terkejutnya dia melihat kakaknya kini bisa berjalan normal seperti sediakala. Rasya bangkit dari duduknya menghampiri Albert, dia langsung memeluk kakaknya dengan tumpahan air mata antara rasa bersyukur dan duka yang menyelimuti hatinya.
" Kakak kau bisa berjalan?" tanya Rasya masih tak percaya.
"Menurutmu?" ucap Albert dingin.
" Aku sangat beryukur kau bisa berjalan, mommy pasti senang melihatmu kak." ucap Rasya penuh haru.
"Bagaimana kondisi mommy?" tanya Albert.
"Dia ada di dalam, dokter mengatakan kalau mommy harus segera melakukan operasi karena ginjalnya sudah tak bisa melakukan cuci darah lagi karena kondisinya semakin kroni." jelas Rasya.
"Bukankah kalian sudah lama disini? Tapi kenapa tidak ada perubahan sama sekali Sya?" tanya Adel.
__ADS_1
"Kakak ipar kami kesini memang sudah lama, karena awalnya memang aku mengajak mommy kesini agar mendapat perawatan yang lebih baik dan juga ada seseorang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk mommy, orang itu sudah menjalani serangkaian proses pencocokan ginjal dan hasilnya cocok kemudian dia meminta uang muka karena dia sedang membutuhkan biaya tetapi orangnya malah kabur setelah aku berikan uang muka, jadi sampai sekarang kami belum menemukan ginjal yang cocok dengan mommy." ucsp Rasya menundukkan kepalanya.
Rasya merasa bersalah kepada kakaknya karena tidak bisa menjaga ibunya dengan baik, dia menundukkan kepalanya di hadapan Albert.
Albert melangkahkan kakinya ke depan pintu, dilihatnya dari balik pintu ibunya sudah tak berdaya lagi. Albert mengepalkan tinjunya ia ingin marah kepada adiknya namun Rasya tidak sepenuhnya bersalah disini, Albert memjamkan matanya yang memerah menahan tangisnya.
"Panggil dokter kesini!" titah Albert.
Rasya memanggil dokter yang biasa menangani Indah atas perintah Albert, Adel memegang tangan Albert lalu mengusapnya dengan lembut dia tersenyum lalu memejamkan matanya sejenak sebagai pertanda kalau semua akan baik-baik saja.
"Bicaralah." Ucap Albert menyodorkan hp miliknya kepada sang dokter.
Dokter mengambil hp milik Albert, dia berbicara serius dengan seseorang yang ada di sebrang telepon. Dilihatnya sang dokter mengangguk-anggukkan kepalanya, tak berapa lama kemuadian dia mematikan telponnya.
" Kami akan melakukan operasi satu jam lagi." ucap dokter.
" Lakukan yang terbaik untuk ibuku, kalau terjadi sesuatu padanya maka nyawamu menjadi taruhannya." ucap Albert dingin.
__ADS_1
Glekk..
Dokter tersebut menelan ludahnya dengan kasar, dia tak berani menatap Albert karena auranya sangat menakutkan.
"A-akan saya usahakan tuan." ucap dokter gugup.
"Hemm." ucap Abert singkat.
Dokter yang bernama Zack itupun pergi dari hadapan Albert, dia harus menyiapkan ruangan operasi dan juga beberapa hal yang dibutuhkan nantinya.
Adel duduk bersebelahan dengan Rasya sedangkan Albert tetap berdiri di balik pintu memandangi ibunya dari kejauhan, ada rasa penyesalan yang begitu besar dalam hatinya andai waktu bisa di putar kembali ia ingin tetap sehat agar bisa menjaga ibunya. Rasya tak sengaja melihat luka di bagian tangan Adel yang mengeluarkan darah segar, tetapi Adel seperti tidak menyadarinya.
"Kakak ipar tanganmu mengeluarkan darah." Ucap Rasya.
"Iyakah?" tanya Adel.
Adel memeriksa tangannya yang ternyata benar darah segar keluar dari balutan perban yang menutupi lukanya, Albert mendengar percakapan Adel dan Rasya segera ia menghampiri istrinya membuka balutan perban memeriksa lukanya.
__ADS_1