Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Kehilangan jejak


__ADS_3

"Benar, dia pasti orangnya. Wajahnya sangat mirip dengan Nadia, mungkinkah dia Edelio?" ucapnya.


Rio tak sengaja melihat Satria saat keluar dari toko bersama Cindy, dia berjalan dengan tergesa sampai menabrak orang-orang yang ada di depannya. Rio mengedarkan pandangannya mencari Satria namun tak mendapatkannya, tadinya Rio berharap jika pria yang dilihatnya memang benar-benar anaknya Edelio.


"Mungkin aku terlalu banyak berharap." ucap Rio putus asa.


Rio berada di mall yang sama dengan Satria, dia datang sendirian tanpa di temani siapapun. Rio bosan dengan Clarissa yang selalu mengatur hidupnya, untuk itu ia memutuskan keluar dari rumah dan pergi jalan-jalan seraya mencari anak dan wanita yang selama ini ia cari.


Satria menemani Cindy ke toko boneka, Cindy sangat menyukai boneka kelinci jadi Satria tentu saja akan memberikan apapun yang diinginkan oleh Cindy. Jangankan sebuah barang hati pun ia berikan kepada Cindy, keduanya saling mencintai ketika Cindy masih duduk dibangku sekolah.


Di perusahaan.


Waktu menunjukkan pukul lima sore, waktunya untuk pulang. Adel tidur meringkuk diatas sofa sedangkan Albert masih duduk berhadapan dengan tumpukan berkas, Albert melihat jam di pergelangan tangannya dia menghentikan aktivitasnya lalu membereskan kacamata, laptop dan juga merapikan beberapa berkas yang sudah ia kerjakan.


Pok..pok.


"Huhh, akhirnya selesai juga." ucap Albert sambil menepuk tangannya.


Albert berjalan ke arah sofa, dia duduk disamping Adel yang masih tertidur dengan pulasnya.

__ADS_1


"Istriku satu ini pules banget bobonya." ucap Albert seraya mengecup pipi Adel.


Adel merasa terusik kala Albert mengecup pipinya, akhirnya ia menguap kemudian menggeliatkan tubuhnya saking nikmatnya menggeliat tak sadar tangannya meninju wajah suaminya.


Bugh..


"Auuhhh.." ringis Albert.


Adel terlonjak mendengar suara suaminya yang terdengar kesakitan, dia segera mendudukkan tubuhnya dan membuka matanya.


"Beb, kamu kenapa?" tanya Adel khawatir.


"Emangnya apa yang aku lakuin? Perasaan diem-deim bae deh?" tanya Adel heran.


"Tadi kamu menggeliat, terus tanganmu nimpuk ke wajahku." omel Albert.


"Atututuu.. Maaf ya sayangku, cintaku, kakandaku ." ucap Adel mengusap wajah Albert dengan pelan.


"Aku gak mau di usap, maunya di eccuunn aja." ucap Albert.

__ADS_1


Cup Cup Cup Cup


Adel mengecup seluruh wajah Albert, bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Albert di berikan banyak kecupan oleh sang istri tercinta, dia senyum-senyum sendiri saking bahagianya.


"Kurang kah?" tanya Adel.


"Udah nanti dilanjutin aja di rumah." ucap Albert.


"Wokeyy." ucap Adel.


Albert mengajak Adel pulang, dia menggandeng tangan Adel jika ada karyawan pria yang berani menatap Adel, maka Albert langsung melayangkan tatapan tajamnya.


Edgar sedang sibuk dengan pekerjaannya, pikirannya terus saja berkelana hatinya pun berdenyut sakit kala mengingat ibunya.


"Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya mereka saat itu, disini aku bisa tidur dengan nyenyak diatas kasur yang mewah, makan makanan yang sehat dan mahal, uang pun tak pernah kekurangan." ucap Edgar dengan suara seraknya.


Edgar menghentikan pekerjaannya, dia memikirkan bagaikana caranya ia menghempaskan kekuasaan kakeknya, sialnya kakeknya sampai saat ini masih hidup dan kekuasaanpun masih berada dalam genggamannya.


"Sepertinya aku harus mengatur strategi, membongkar semua kebusukan orang-orang yang telah menyakiti ibu dan adikku, aku juga harus mengambil alih sebagian kekayaan yang masih di genggam erat oleh si tua bangka itu. Astaga aku sampai lupa kalau nenek sihir itu juga punya bagian di perusahaan ini, lama-lama kepalaku bisa pecah memikirkan semua ini." gumam Edgar stress sendiri.

__ADS_1


__ADS_2