Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Pembalasan 2


__ADS_3

Clarissa dan Baskara kini sedang menjalani operasi pengangkatan peluru yang ada ditubuhnya, Rio menugaskan beberapa penjaga untuk mengawasi Baskara dan juga Clarissa.


"Apa yang akan daddy lakukan pada mereka?" tanya Edgar.


"Sesuai yang mereka lakukan, terutama kakekmu." ucap Rio dingin.


Beberapa jam kemudian operasi berhasil dilakukan, Edgar dan Rio kembali ke rumahnya dan meminta para penjaga memperketat keamanannya.


Satu minggu kemudian.


kondisi Clarissa dan juga Baskara sudah pulih, anak buah Edgar membawa mereka pergi dari rumah sakit ke tempat yang kotor dan bau.


Bruukkk.


Anak buah Edgar menghempaskan tubuh Claeisaa dan Baskara sampai tersungkur dilantai, Rio berjalan tepat dihadapan keduanya.


"Mas kenapa kau membawaku kesini?" tanya Clarissa.


"Aku bukan suamimu!" tekan Rio.


Rio berjongkok kemudian ia menarik rambut Clarissa kebelakang, Clarissa meringis kesakitan karena Rio menarik rambutnya dengan begitu kuat.


"Lepaskan mas!" teriak Clarissa.

__ADS_1


"Bahkan rasa sakitmu ini tidak ada apa-apanya dengan rasa sakit yang Nadia rasakan!" amuk Rio.


Rio melepaskan rambut Clarissa dari tangannya, dia kemudian pindah posisi menghadap kepada ayahnya.


"Diamana Nadia?! berikan dia padaku!" tekan Baskara.


"Kau ingin tahu dimana dia? Dia sudah tiada ditangan menantu pilhanmu! PUAS KAU TELAH MEMBUAT ISTRIKU TIADA! PUASKAH KAU TELAH MENGHANCURKAN KEBAHAGIANKU HAH?!" berang Rio.


Tubuh Baskara langsung mematung di tempatnya, selama ini dia mencari wanita yang sudah sah menjadi istri dari anaknya namun tanpa sepengetahuannya Clarissa sudah lebih duku membunuhnya.


"BOHONG!" teriak Baskara.


"Untuk apa aku berbohong hah?! Kau tanyakan lada menantumu itu, apa aku berbohong?!" emosi Rio semakin menjadi.


PLAK..PLAK..PLAK..


Rio menampar wajah Clarissa berulang kali sampai ia mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya, bekas tamparan begitu tergambar jelas di pipi Clarissa yang memerah. Tak sampai disitu Rio menarik baju ayahnya kemudian ia menghajarnya dengan membabi buta, kekecewaan, sakit hati, emosi, dendam bercampur adik dalam diri Rio. Baskara melawan serangan Rio namun karena dikuasai oleh emosi dia kewalahan menghadapi anaknya sendiri, Clarissa hendak kabur namun segera dihentikan oleh Rio.


"Kau tidak bisa kabur lagi!" ucap Rio.


Rio memanggil anak buah Edgar untuk menyeret Clarissa kedalam sebuah ruangan yang sudah tersedia alat pasung, ia memerintahkan anak buah Edgar untuk memasung Clarissa agar tak bisa lepas darinya.


"Jangan beri dia makan ataupun minum walau sedikitpun, lakukan apa saja yang kalian inginkan padanya yang jelas aku hanya ingin dia menderita." ucap Rio.

__ADS_1


"Boleh kami mencicipi tubuhnya tuan?" tanya salah satu anak buah Edgar.


"Terserah kalian saja, aku tidak peduli." ucap Rio.


"Widiihh, mantep dapet gratisan kita mana montok lagi." ucap anak buah Edgar.


Rio meninggalkan Clarissa diruangan tersebut, terdengarnya Clarissa memberontak dan berteriak namun Rio tidak memperdulikannya. Baskara sudah terkulai lemas diatas lantai, Rio mengeluarkan senjata api dari saku celananya lalu memasukkan peluru kedalamnya.


"Rio aku mohon maafkan aku." ucap Baskara dengan lemah.


"Sudah terlambat." ucap Rio.


Ceklek..


Dorr..Dorr..Dorr..


Rio menutup matanya lalu menarik pelatuknya mengarahkan senjatanya kearah Baskara, dia menembak tubuh Baskara berkali-kali sampai darah segar mengalir dibawahnya.


"Ma-af-kan a-aku." ucap Baskara terbata sampai akhirnya menutup matanya.


Rio membuka matanya melihat keadaan ayahnya, air mata mengalir dari matanya dengan begitu deras. Walau bagaimanapun Baskara tetaplah ayahnya, namun perbuatannya tak bisa diampuni.


"Pergilah, semoga kau bertemu dengan ibu dan juga istriku minta maaflah pada mereka berdua." ucap Rio.

__ADS_1


__ADS_2