
Orangtua Adel pamit pulang terlebih dahulu karena ada yang harus mereka kerjakan di rumah, meskipun Adel tidak ingin orangtuanya pergi namun dia juga tidak ingin egois.
" Adel ibu sama ayah pulang dulu ya, nanti kita kesini lagi kasian kambing ayah mau lahiran sama sekalian mau kasih makan hewan ternak yang lainnya." ucap Fatimah.
"Lah kok pulang sih bu?" tanya Adel.
"Kan ibu tadi udah bilang kita bakal kesini lagi, kita punya tanggung jawab banyak hewan ternak yang harus tetap kita rawat karena tadi kita kesininya buru-buru jadi gak sempet nyari orang buat ngasih makan hewan peliharaan ayah." ucap Yusuf.
"Hmm.. Yaudah deh, tapi janji ya kesini lagi sekalian bawa cah kangkung sama sambel ya bu." ucap Adel.
"Iya nanti ibu bawain, sekalian ibu mau bawa baju ganti." ucap Fatimah.
"Nak Al, kami pulang dulu tolong jaga Adel ya." ucap Yusuf.
"tenang saja ayah, kalo kalian mau pulang nanti Satria yang akan mengantar kalian sampai rumah." ucap Albert.
"Terimakasih nak, maaf merepotkan." ucap Yusuf.
"Tidak sama sekali." ucap Albert.
Sejak Adel menikah Yusuf dan Fatimah menggunakan tabungannya untuk membeli kambing, bebek, ayam dan ikan keduanya memutuskan untuk berternak karena Fatimah khawatir Yusuf celaka seperti dulu, untuk itu mereka pulang karena yusuf dan Fatimah benar-benar mengerjakan semuanya hanya berdua saja tanpa bantuan orang lain.
__ADS_1
Fatimah dan Yusuf keluar dari ruang rawat Adel, Albert memerintahkan Satria mengantarkan kedua mertuanya sampai rumah. Cindy tak ingin ditinggalkan lagi oleh Satria, untuk itu dia ikut mengekor di belakang Fatimah.
Setelah memastikan orangtua Adel pulang Albert kembali ke ruangan Adel, sampai di ruangan Adel Albert di buat heran dengan perubahan sikap Adel yang tiba-tiba mendelik serta memasang wajah jutek mode banteng.
'ini anak kenapa? Kok cepet banget berubah mukanya' batin Albert heran.
"Kenapa?" tanya Albert.
"Pikir aja sendiri." sewot Adel memalingkan wajahnya.
Albert menggaruk-garukan kepalanya yang tidak gatal, dia bingung kenapa Adel berubah menjadi marah sedangkan tadi saat ada orangtuanya Adel terlihat baik-baik saja.
"Banyak," jawab Adel singkat.
"Kesalahan apa?" tanya Albert bingung.
"Pake nanya lagi, seneng ya bisa di peluk-peluk sama di kecup lambe doer? Keasyikan apa keenakan itu bang." cibir Adel.
'oh dia cemburu' batin Adel.
"Ohh." ucap Albert.
__ADS_1
'What dia cuman bilang oh? Dasar laki-laki buaya pantesan tuh ulet maen nemplok aja orang lakinya keenakan' batin Adel.
Wajah Adel berubah merah, kepala serta hidungnya mengeluarkan asap kemarahan. Albert mulai ketar-ketir sendiri, dia mencoba mencari jalan keluar agar istrinya tidak marah.
"hei dengarkan aku, aku diam bukan berarti aku menikmati apa yang dilakukan oleh Sonia, kau tahu sendiri bukan kalau aku masih berpura-pura tidak bisa berjalan tetapi aku tidak bisa membiarkan dia terus menggataliku." jelas Albert.
Ucapan Albert ada benarnya, Adel merasa malu sendiri karena telah menuduh Albert tanpa mencari fakta yang sebenarnya.
" terus kenapa kamu tiba-tiba bisa berjalan? Kan tadi pagi kau bilang padaku kakimu sakit padahal kita latihan jalan cuman bentar doang." tanya Adel.
'kenapa wanita seribet ini sih' batin Albert.
"ADELIA CAHYA KINANTI aku bisa berjalan karena refleks atas ketidaknyamananku saat Sonia menggetaliku, alhasil aku bisa berdiri dan berjalan sampai sekarang meskipun tidak bisa berdiri terlalu lama." jelas Albert mulai emosi.
"Jangan ngegas dong kan cuman nanyeak." ucap Adel.
"Lagian kalo cemburu tinggal bilang aja apa susahnya, gak usah berbelit." cibir Albert.
Wajah Adel memerah bak tomat, dia memainkan kukunya menutupi kegugupannya Adel tak menyadari kalau dirinya sedang dalam mode cemburu.
' kok gue cemburu ya liat tuh dedemit ama Al padahal kan cuman mantan, tapi habisnya mantan celamitan masa iya sebagai istri yang solehah ridho liat suaminya di gerayangin tu dedemit ya kali.' batin Adel.
__ADS_1