
Anak buah yang ditugaskan untuk mencari Indah tak bisa menemukan keberadaan pak Ahmad yang membawa Indah dan juga Cindy kabur dari kejarannya, mereka kembali menemui Baskara namun mereka terkejut melihat kawannya sudah banyak yang tergeletak dibawah.
Albert terus melawan anak buah Baskara sampai tangannya tergores pisau, sama halnya dengan Albert Leo pun menghajar beberapa anak buah Baskara. Edgar menangkis semua tembakan tang diarahkan kepadanya, sampai ia berdiri dihadapan kakeknya yang kebingungan karena pelurunya habis tak tersisa.
"MAU MATI SEKARANG?!" tanya Edgar dengan lantangnya.
"DASAR CUCU KURANG AJAARR!! MENYESAL AKU TELAH MEMBUATMU HIDUP DI DUNIA INI!" berang Baskara.
"HAHAHAHAHA." Edgar tertawa menggelegar mendengar ucapan kakeknya.
"Kau memang ditakdirkan mati di tanganku pak tua!" ucap Edgar dengan tersenyum liciknya.
Baskara maju menyerang Edgar dengan membabi buta, berbeda dengan Edgar yang begitu dengan senang hatinya ia melayani serangan demi serangan yang dilayangkan oleh kakeknya.
"Sepertinya usia mu sangat berpengaruh, lihatlah baru sebentar saja bertarung kau sudah bengek." ledek Edgar.
__ADS_1
"Kasih dia waktu untuk istirahat, biarkan dia menikmati sisa hidupnya yang hanya tinggal beberapa menit lagi." ucap Rasya yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Nimbrung aja kerjaannya." cibir Edgar.
"Siapa suruh ninggalin." ucap Rasya.
Baskara kembali menyerang Edgar, dia mengambil pisau yang berada tak jauh darinya. Pertarungan kembali sengit, banyak anak buah Baskara yang sudah berhasil dilumpuhkan sehingga mempermudah segalanya.
Adel menendang tangan Clarissa yang digunakan untuk memegang belatinya, dia meninju perut Clarissa sampai terjatuh ke bawah.
"BAC*T!" umpat Clarissa.
"Uhhuyy, ramah juga ternyata mulutnya." cibir Adel.
Clarissa kembali menyerang Adel dengan membabi buta, bukannya takut Adel malah semakin bersemangat. Lama kelamaan Clarissa mulai kewalahan dan kehabisan tenaga, dia memanfaatkan kesempatannya kabur dari Adel kemudian dia berlari keluar dari jendela ruang tamu menuju mobilnya. Adel mengajak suaminya untuk mengejar Clarissa, tak lupa ia mengambil senjata api yang ada di tangan anak buah Baskara yang sudha terkulai tak sadarkan diri.
__ADS_1
Clarissa hendak masuk kedalam mobilnya namun pintu mobil tertutup rapat, dia terus mengumpat dan panik karena Adel dan Albert semakin mendekat kearahnya. Clarissa memutuskan untuk berlari kearah gerbang utama, namun Adel dengan beraninya menarik pelatuk senjata apinya yang mengarah kearah Clarissa. Adel menyipitkan matanya untuk menyesuaikan fokusnya agar tepat sasaran, sampai akhirnya..
Dor.. Dor..
Dua kali Adel menembakkan senjatanya yang ternyata tepat mengenai kaki dan juga bahu Clarissa, darah segar mengalir dari bahu dan juga kaki yang terkena tembakan ditubuh Clarissa. Adel meniup ujung senjata apinya merasa bangga karena berhasil melumpuhkan Clarissa, Albert tak menyangka istrinya seberani itu. Tubuh Clarissa ambruk seketika, karena darah yanga terus mengalir membuat Clarissa semakin melemah dampai akhirnya ia tak sadarkan diri.
Didalam Edgar masih tetap bertarung melawan kakeknya, Arion datang membantu Edgar karena ia melihat tubuh Edgar yang sudah terdapat banyak luka sampai mengeluarkan darah.
"Arion? jadi kau membantu mereka?!" tanya Baskara dingin sekaligus terkejut.
"Kau masih mengingatku rupanya." ucap Arion datar.
Arion menyingkirkan Edgar kesampingnya, dia mengambil alih pertarungannya sampai Baskara kewalahan.
Dorr..
__ADS_1
Tubuh Baskara langsung jatuh keatas lantai, Arion dan Edgar mencari siapa orang yang sudah menembak kakeknya. Dilihatnya Rio datang dengan wajah yang penuh amarah, dia menggenggam senjata api ditangannya yang digunakan untuk menembak Baskara saat sedang bertarung dengan Arion.