Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Hanya menjalankan tugas


__ADS_3

Kring..Kriing..Kring


Handphone Cindy berdering, dilihatnya tertera nama kakaknya Albert di layar handpone, dengan ragu Cindy mengusap tombol hijau lalu menempelkan hp nya ke telinga.


"Hallo kak"


".................."


Glukk..


Cindy menelan ludahnya dengan kasar mendengar omelan kakaknya di seberang telepon, saat telpon terputus Cindy langsung loncat dari atas kasurnya kemudian membuka pintu kamarnya.


Ceklek..


Cindy keluar dari kamarnya, dia menundukkan kepalanya sambil memainkan jemarinya seperti anak kecil. Satria tidak benar-benar pergi dia masih berdiri di depan pintu kamar Cindy, Satria mendekati Cindy dia meraih tangannya kemudian


mengusap wajah Cindy dengan lembut.


"Katanya benci sama aku, giliran mau di tinggal langsung nongol aja," ucap Satria lembut.

__ADS_1


"Habisnya kamu jahat, kenapa sembunyiin semuanya dari aku?" ucap Cindy.


"Aku disini hanya menjalankan tugasku sweety, asal kau tahu aku juga sebenarnya tidak sanggup apalagi aku harus menyembunyikan semuanya dari tuan muda Albert dan darimu." ucap Satria.


"Iya maafkan aku karena tidak mau mendengarkanmu, tadi kakak menelponku dan memarahiku dia sudah memberitahuku semuanya." ucap Cindy.


"Syukurlah jika kau sudah tahu." ucap Satria.


Satria menarik Cindy ke dalam pelukannya, dia mengusap rambut Cindy dengan sayang.


'Cindy entah sejak kapan perasaan ini muncul dan hanya tertera namamu di dalam hatiku, aku tau ini salah namun salahkah aku jika aku mencintaimu meskipun statusku disini hanyalah seorang asisten pribadi yang mencintai adik dari majikanku sendiri?' batin Satria.


Satria langsung melepaskan pelukannya, Cindy menatap tidak suka pada kepala pelayan yang selalu saja mengganggu kebahagiaannya bersama Satria.


"Apaan sih paman ngagetin aja, padahal lagi anget-angetnya di peluk jadinya di lepas lagi kan." protes Cindy.


"Bukan muhrim nona, sekarang nona siap-siap karena kita akan berangkat ke luar negeri atas permintaan tuan Albert." ucap pak Ahmad.


"Kau juga ikut bukan?" Tanya Cindy pada Satria.

__ADS_1


"Tidak, aku masih banyak pekerjaan yang tidak bisa di tunda selama tuan muda masih di negara A." ucap Satria.


Wajah Cindy langsung berubah masam, dia melipat kedua tangannya dan menghentakkan kakinya. Cindy berharap Satria ikut dengannya ke negara A, tapi harapan hanyalah harapan Satria selalu saja di sibukkan dengan pekerjaannya.


"Jangan cemberut seperti itu, wajah cantik yang selalu aku lihat langsung hilang loh." ucap Satria.


"Iihh.. gombal deh," ucap Cindy tersipu.


"Kau berangkat dengan paman saja ya, aku janji jika pekerjaanku sudah beres aku akan mengajakmu ke suatu tempat menghabiskan waktu hanya berdua saja, bagaimana?" bujuk Satria.


"Janji?" tanya Cindy.


"Janji." jawab Satria dengan mantap.


Cindy bersorak gembira mendengarnya, dia langsung masuk ke kamarnya mengemasi barang yang akan di bawanya. Satria dan pak Ahmad menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, pak Ahmad tahu betul bagaimana perjalanan kisah cinta mereka dari awal sampai saat ini. Pak Ahmad menepuk pundak Satria, dia memberikan isyarat kepada Satria yang hanya di mengerti oleh keduanya.


"Tetap berusaha." ucap pak Ahmad.


"Insyaallah paman." ucap Satria.

__ADS_1


Pak Ahmad dan Satria turun ke lantai bawah, mereka berdua berjalan beriringan tanpa berbicara sepatah kata pun. Satria sibuk dengan pikirannya sendiri, selain sibuk dengan pekerjaannya Satria juga sibuk mencari sosok ayahnya yang pernah di ceritakan oleh Indah kepadanya saat Satria tak sengaja menemukan buku yang sudah berdebu di ruang kerja Albert saat ia sedang mencari file penting yang saat itu lupa di letakkannya.


__ADS_2