
Albert sudah selesai mengganti bajunya yang basah oleh keringat, dia meminta kepada pak Ahmad untuk mengantarnya kembali ke ruangan Adel.
Albert membuka pintu ruangan dimana Adel berada, tetapi ia melihat wanita yang berstatus istrinya itu sedang menatap lurus kedepan.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Albert.
Adel langsung tersadar dari lamunannya begitu Albert berbicara, Adel terlihat seperti menyembunyikan sesuatu yang mana membuat Albert memicingkan matanya.
"emm ti-tidak, tidak ada." jawab Adel tergagap.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" desak Albert.
"Menyembunyikan apa? Orang aku gak nyembunyiin apapun dari kamu, aku selalu berusaha terbuka dalam bentuk apapun itu, udah ah ngapain bahas yang gak penting mending kita pulang aja." ucap Adel.
Albert masih belum puas dengan jawaban Adel namun dia tetap menuruti ajakan Adel untuk pulang ke rumahnya, Adel sudah merasa lebih baik jadi dia mengajak Albert pulang agar suaminya itu tidak terus mendesaknya. Pak Ahmad tidak ingin ikut campur urusan Albert dan juga Adel, dia lebih memilih diam mendorong kursi roda Albert keluar.
Di dalam mobil Adel berpura-pura menutup matanya, di sepanjang perjalanan Albert menatap ke arah luar jendela mobil.
'apa yang sedang Adel sembunyikan di belakangku? Kenapa sikapnya begitu aneh, apa dia punya kekasih lain? Kalau saja mommy ada disini aku ingin bercerita padanya, tapi entah kenapa dia sangat sulit dihubungi begitu juga Rasya." batin Albert.
"Mommy aku yakin kau bisa, berjuanglah demi anak-anakmu mom, apa yang harus aku katakan pada Al jika dia mengetahui semua kebenarannya.' batin Adel.
__ADS_1
Saat Adel menunggu Albert mengganti pakaiannya dia memanfaatkan kesempatannya untuk menanyakan keadaan mertuanya, Rasya memberitahukan jikalau Indah drop tubuh Adel menegang mendengarnya.
Sampai di mansion Adel turun dari mobil, pak Ahmad membantu Albert untuk duduk di kursi rodanya. di waktu yang bersamaan pula Cindy datang membawa mobilnya, dia turun lalu berjalan ke arah Adel dilihatnya wajah Adel yang pucat tak seperti biasanya.
"Kakak ipar loe lagi sakit ya?" tanya Cindy.
"Iye, emangnya nape?" tanya balik Adel.
"Emang manusia strong kayak loe bisa sakit del?" ledek Cindy.
"Loe pikir gue fir'aun yang gak pernah sakit selama di dunia?!" sewot Adel.
"Bantu kerokin gua yok Cin," ucap Adel.
"kenapa di kerok? Kau tahu kerokan itu tidak baik untuk kesehatan." ucap Albert.
"kakak, Adel tuh kalo sakit mau di bawa ke rumah sakit berapa kalipun dia gak bakal sembuh kalo gak di kerok." ucap Cindy.
"kenapa begitu?" tanya Albert heran.
"tau tuh anak, kayak manusia zaman old aja." cibir Cindy.
__ADS_1
Adel tak menggubris ucapan Cindy, dia nyelonong masuk menarik tangan Cindy ke dalam mansion. Albert menggelengkan kepalanya, istrinya selalu memiliki hal unik yang tak pernah ia temukan dari orang lain.
"Al jangan masuk ke kamar dulu ya, nanti kamu mandi di kamar tamu sama paman aku mau kerokan dulu." teriak Adel dari arah tangga.
"hmm." sahut Albert.
"nanti bajunya Cindy yang anterin." tambah Adel.
Geplakk..
Cindy menggeplak punggung Adel, bisa-bisanya Adel memberikan banyak perintah padanya.
"kenapa jadi gue yang loe suruh-suruh sih." protes Cindy.
"Udah jangan berisik kan gak tiap hari, gue janji nanti gue bantuin loe deket ama Satria." ucap Adel.
Wajah Cindy langsung berseri mendengar tawaran Adel yang sangat menggiurkan baginya, dia langsung menarik kembali tangan Adel masuk ke kamar lalu menunggu Adel mengambilkan pakaian untuk kakaknya, Cindy buru-buru turun memberikan baju ganti kepada Albert.
Sedangkan Albert dia masuk ke kamar mandi ruang tamu di bantu oleh pak Ahmad. Di atas kamar Adel menikmati kerokan karya adik iparnya, Cindy mesam-mesem membayangkan wajahnya dan wajah Satria yang sedang berada di pelaminan.
' ahh.. Membayangkannya saja membuat hatiku berdebar tak sabar, Satria kau membuatku gila' batin Cindy.
__ADS_1