Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
kelicikan


__ADS_3

"Satria kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?!" ucap Albert.


Kepala produksi mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Albert agar tidak membawanya ke penjara, barang siapa yang berani berkhianat di belakang Albert maka orang tersebut akan menerima akibatnya antara masuk ke penjara atau ruang bawah tanah.


"tuan, saya mohon ampuni saya, semua saya lakukan secara terpaksa demi pengobatan anakku tuan, jangan penjarakan saya." ucap kepala produksi memohon.


"kau meremehkan kemampanku?" cibir Albert dengan tersenyum miring.


melihat kepala produksi yang bernama Robin memohon kepada Albert membuat hati Adel tergerak ingin membantunya, namun sebelum dia maju Albert mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar Adel tetap diam di tempatnya.


"diam di tempatmu, atau aku akan menghukummu!" Ancam Albert dengan nada dua kali lipat lebih dingin.


Tangan Robin sudah berkeringat dingin, jantungnya berdetak tak karuan kala melihat Satria menyodorkan laporan kepada Albert.


"apa ini yang kau maksud demi pengobatan anakmu?" tanya Albert tersenyum licik.


Albert memutar laptopnya lalu menekan tombol yang menghubungkan data dari laptop ke layar monitor, disana terpampang jelas jika Robin memang menggunakan uang perusahaan untuk pengobatan anaknya yang sedang sakit, tetapi sakit yang di derita oleh anaknya bukanlah penyakit yang serius, Albert menscroll bukti data kelicikan Robin yang menyalahgunakan kekuasaannya dengan mengganti bahan baku produk dengan kualitas rendah, melemburkan karyawan tanpa membayarnya, membeli fasilitas mewah dan juga keluar masuk hotel yang berbeda, memanipulasi dan masih banyak lagi kejahatan yang dia lakukan.


"tuan, ampuni saya tuan." ucap Robin memasang wajahnya memelas kepada Albert.


Bukannya kasihan melihat wajah memelas Robin Albert malah memerintahkan Satria untuk menyeret Robin keluar dari ruang meetingnya, kini Adel mengerti mengapa Albert melarangnya untuk membantu Robin.

__ADS_1


"maafkan aku Al." ucap Adel.


"jika kau tidak tau apa-apa lebih baik kau diam saja, jangan mengambil keputusan sendiri." ucap Albert.


Para staff yang lain berbisik-bisik di dalam ruangan, mereka mencibir kelakuan yang di lakukan oleh Robin yang tak berani mereka laporkan kepada Albert.


"apa kalian sudah bosan bekerja?!" tanya Albert dengan tegas.


Seketika ruangan menjadi hening kembali, Albert menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan. Mata Albert tertuju pada satu pria yang terus melihat ke arah Adel, dia memasang mode tidak suka ke arah pria tersebut.


"apa yang sedang kau lihat tuan Daniel?" tanya Albert.


"tidak ada tuan." ucap Daniel.


"aku ingatkan kepada kalian semua, jika ada salah satu dari kalian yang berani bermain di belakangku maka akan kupastikan nasib kalian akan lebih buruk daripada yang saat ini Robin terima, mengerti!!" tekan Albert.


"mengerti tuan." ucap para karyawan serentak.


"perbarui semua data, dari mulai keuangan, bahan baku, gaji karyawan dan lain sebagainya mulai dari sekarang tidak boleh ada yang terlewat sedikitpun, kumpulkan semua laporannya besok pagi harus ada di meja kerjaku sebelum aku datang." titah Albert.


Wajah tegang terpancar dari setiap orang yang hadir, bagaimana tidak. Semua harus di selesaikan dalam satu hari, perintah Albert tidak bisa di bantah maka dari itu mau tidak mau seluruh karyawan di perusahaan harus lembur.

__ADS_1


Albert mengepalkan tangannya, matanya mulai memerah, Adel melihat gerak gerik Albert yang mulai berubah di langsung memberikan kode kepada Satria agar membawa Albert keluar daei ruangan meeting, Satria membubarkan semua orang dari dalam ruangan dia langsung menutup pintu setelah di pastikan tidak ada lagi karyawan atau staff yang tersisa disana.


" Albert kendalikan emosimu, rileks.. Tarik nafas dan buang perlahan.." ucap Adel.


"huuuhh.. Kepalaku mulai terasa sakit." keluh Albert memegang kepalanya.


"Satria bantu aku, kita bawa Albert ke bawah jika dia tidak mengendalikan dirinya disini maka bisa di pastikan orang-orang akan tau kondisinya." ucap Adel.


"baik nona."


"aarrgghh.. Sakiitt." teriak Albert.


Satria buru-buru membuka pintu keluar rahasia, Adel mendorong kursi roda Albert mengikuti langkah Satria hingga sampai di bawah, supir membukakan pintu untuk majikannya yang datang.


"Satria aku yakin kau bisa mengatasi masalah yang lainnya, serahkan Albert padaku dan tolong kau pastikan tidak ada orang lain yang melihatnya." ucap Adel.


"baik nona" ucap Satria.


"paman bawa kita pulang." titah Adel.


Supir menyalakan mesin mobil lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi, di dalam mobil Albert terus memegang kepalanya yang terasa berdenyut, mungkin karena kemarahannya kepada Robin dan masih ada lagi masalah yang harus di selesaikan membuat pikirannya terbebani sampai dia tak bisa mengendalikan emosinya.

__ADS_1


__ADS_2