
Adel keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang pucat, Albert menuntunnya dengan hati-hati karena ia khawatir pada istrinya. Adel duduk di meja makan, Albert segera mengambilkan segelas air putih sedangkan Rasya masih sibuk dengan seblaknya.
"Sayang minum dulu." ucap Albert menyerahkan segelas airnya.
Glek..Glekk..Glekk.
Adel meminum airnya sampai tandas, Rasya menghidangkan seblak kedalam mangkok lalu membawanya kehadapan Adel.
"Ini dia seblak ala Rasya." ucap Rasya.
"Awas kalau gak enak ya?!" ancam Adel.
Syyuuhh..Syuuhhh..Hap..
Adel langsung saja meniup seblaknya dan melahapnya, dia menikmati seblaknya mencari apa yang kurang namun ternyata rasanya lumayan enak.
"Gimana rasanya?" tanya Rasya.
"Lumayan." jawab Adel.
Albert panasaran dengan rasa seblak buatan adiknya, sebenarnya dia ragu tapi karena rasa penasarannya Albert akhirnya menyuapkan satu sendok seblak ke mulutnya.
Hap..
"Huekk..kok rasanya asin banget sih Sya?" tanya Albert memuntahkan seblaknya.
"Masa sih? Tadi kakak ipar bilang enak kok?" tanya Rasya.
"Coba aja sendiri." titah Albert.
Hap..
"Wleekk..Asin kak, tapi kenapa kakak ipar malah keliatan doyan banget?" heran Rasya.
__ADS_1
Albert mengendikkan bahunya, dia melihat istrinya makan dengan lahapnya tanpa merasa keasinan sedikitpun.
"Kenyang, kakanda habisin sisanya." ucap Adel.
"Hah? Enggak deh dinda, kakanda gak suka pedes." tolak Albert.
Adel menatap kearah Rasya, dengan gerakan cepat Rasya menyilangkan tangannya.
"Please, jangan nyuruh aku ngelihat cabenya aja udah bikin perut mules." ucap Rasya.
Adel menghela nafasnya dengan kasar, entah mengapa dia ingin seblak yang ada di mangkoknya habis. Tiba-tiba Edgar datang mengunjungi mansion Wiguna, Adel langsung saja memanggil Edgar.
"Edgar sini." panggil Adel.
"Kenapa kamu manggil Edgar?" tanya Albert tak suka.
"Katanya kamu gak mau habisin seblaknya, jadi aku nyuruh Edgar aja sayang kalau dibuang orang Rasya udah capek bikinnya." jawab Adel santai.
Edgar yang merasa dipanggil pun berjalan menghampiri Adel, perasaannya langsung saja tidak enak melihat tatapan Adel yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa nih? Kok tumben baik?" tanya Edgar.
"Mau cobain masakan Rasya gak? Dijamin enak, gak tau nih tiba-tiba aku pengen kamu habisin seblak ini." ucap Adel menyodorkan mangkuk seblaknya.
"Enggak, enggak, aku gak suka makan-makanan kayak gitu gak sehat." tolak Edgar.
BRAK..
Adel menggebrak meja makan dengan keras, dia menatap tajam Edgar yang mana membuat nyali seorang Edgar menciut. Albert memberi kode kepada Edgar agar memakan seblaknya dengan mengatupkan kedua tangannya, Adel langsung saja berubah menjadi macan betina yang sial menyerang mangsanya. Edgar langsung saja meraih mangkuk yang disodorkan Adel dan menyuapkan seblak ke mulutnya, rasanya aneh Edgar ingin sekali memuntahkannya tetapi Adel terus menatap tajam kearahnya jadi dengan terpaksa dia menghabiskn seblaknya sampai habis tak tersisa meskipun sensasi panas dimulutnya seakan terbakar.
'Anjay khodamnya keluar' batin Edgar.
Adel tersenyum puas melihat mangkuk seblak sudah bersih tak tersisa, dengan santainya ia bergelayut manja dilengan suaminya.
__ADS_1
"Kakanda pengen olahraga." ucap Adel dengan manjanya.
"Ayok kita ke tempat gym, udah lama aku juga gak olahraga lama-lama perutku bisa buncit." ucap Albert.
PLAK!
Adel memukul pundak Albert dengan sedikit keras, dia kesal Albert tak mengerti kode darinya.
"Bukan ahraga gym, aku mau olahraga di ranjang kakanda ih." kesal Adel.
"Astaga, sayang jangan ngomong olahraga nganu disini gak enak kedengeran sama yang lain." ucap Albert malu.
"Ya habisnya kamu gak peka? Kalau gak mau kedengeran sama yang lain ayok cepetan kita ke kamar." ucap Adel.
"Iya-iya sayang ayo." ucap Albert pasrah.
Edgar menelan air minumnya dengan susah payah, dia menatap kepergian Albert dan Adel tanpa berkedip.
"Emang mereka setiap harinya aneh kek gitu ya?" tanya Edgar pada Rasya.
"Bahkan lebih dari itu, telingaku pernah ternodai gara-gara mendengar mereka yang sedang bertempur." jawab Rasya.
"Kenapa kau memakai wig?" tanya Edgar.
"Aku dan kau sama-sama korban disini, ini ulah kakak iparku." jawab Rasya mendengus kesal.
"Dia menyeramkan kalau sudah marah, beuuhh khodamnya langsung rraaarrrr." ucap Edgar menirukan suara singa.
"Kenapa kau takut pada kakak ipar? Bukannya kau terkesan dingin dan tidak takut siapapun?" tanya Rasya.
"Entahlah, aduhh perutku mules." ucap Edgar memegangi perutnya mangaduh kesakitan.
"Tunggu disini, aku carikan obat sakit perut. Aku yakin ini akan terjadi, lihat cabenya aja aku merinding apalagi kalau makan pasti perut sakit." ucap Rasya.
__ADS_1
Rasya mencarikan obat sakit perut untuk Edgar, sedangkan Edgar sendiri ia pergi ke toliet karena tak tahan. Berulangkali Edgar keluar masuk toilet akibat seblak yang dimakannya langsung kontan membuatnya diare, Edgar sampai lemas dibuatnya.