Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Cindy kepanasan


__ADS_3

Albert tersenyum penuh kemenangan, tetapi senyum itu hilang ketika ia mengingat nama seseorang yang saat ini di curigainya.


"Mungkinkah dia orangnya?" tanya Albert pada dirinya sendiri.


"Kakak ngapain disini? Gimana Adel udah siuman belum?" tanya Cindy.


Cindy menepuk pundak Albert dari belakang yang mana membuatnya sedikit terkejut, Cindy memang datang bersama orangtua Adel tetapi dosennya meminta dia untuk datang ke kampus jadi untuk itu dia pergi dan kembali lagi ke rumah sakit karena terus kepikiran dengan kondisi Adel.


"Ayo masuk." ajak Albert.


Ceklek.


Cindy mengekor di belakang Albert, saat masuk mereka melihat Adel di papah oleh ibunya masuk ke kamar mandi.


"Mau kemana?" tanya Albert.


"Mau pipis, kakanda mau ikut?" jawab Adel dengan memberi pertanyaan kepada Albert.


"Boleh." jawab Albert.


"Enggak..enggak.. bercanda kok." ucap Adel panik sendiri.


"Tadi nawarin kenapa sekarang malah gak boleh?" tanya Albert.

__ADS_1


"Enggak kok, aku kan udah bilang cuman bercanda ya kan bu?" ucap Adel meminta bantuan kepada ibunya.


"kenapa tanya ibu? Kalau nak Al mau ikut juga gak papa kan suami kamu del gimana sih?" heran Fatimah.


"Ih ibu mah gak bisa diajak kerjasama, ayok ahh nanti keburu banjir disini Adel udah gak tahan." ucap Adel.


Fatimah kembali memapah Adel, Albert terkekeh melihat wajah panik istrinya. Dia mengingat kejadian satu bulan yang lalu dimana Adel sedang mandi dan dirinya menerobos masuk sampai istrinya itu menjerit, Cindy heran melihat kakaknya seperti orang yang sedang kasmaran senyum-senyum sendiri.


"Kakak gak gila kan?" tanya Cindy.


Albert menoyor kening Cindy, sejak kapan adiknya berani kepadanya sampai mengatai Albert gila.


"Mulai berani ya hemm?" ucap Albert mengangkat dagunya.


Ceklek.


Adel keluar dari kamar mandi, Albert tidak jadi marah dia menghampiri istrinya. Tanpa di duga Albert mengangkat tubuh Adel, sedangkan Fatimah memegangi selang infus Adel.


"Turunkan aku Al." ucap Adel.


"Diam." ucap Albert.


Adel merapatkan mulutnya, sumpah demi apapun dia malu di gendong oleh Albert. Dia menyembunyikan wajah merahnnya di dada Albert, Cindy memutar bola matanya jengah dia jijik sekali melihat wajah singa yang berubah menjadi kucing kecil.

__ADS_1


'Anjay demi apa ni manusia kulkas mau gendong gue, slebbeewww uhhuy.' batin Adel.


Albert menurunkan Adel di hospital bed, tak lupa ia juga menyelimuti kaki Adel.


"Biasa aja kali tuh mukanya." ledek Cindy.


"Kakanda, Adinda mau jeruk tolong kupasin ya." ucap Adel dengan sengaja membuat Cindy kepanasan.


"tentu saja." ucap Albert.


"Sumpah demi apa loe nyebelin banget." sewot Cindy.


Albert mengupas jeruk untuk Adel, Cindy mencoba menghubungi nomor Satria namun tak ada jawaban. Adel tersenyum lebar melihat Cindy yang mulai hareudang, Fatimah dan Yusuf menggelengkan kepalanya melihat kelakauan putrinya yang absurb meskipun sedang dalam kondisi sakit.


"Kakanda suapin." rengek Adel.


Albert menyuapi jeruk yang sudah selesai di kupasnya, dia tau istrinya itu sedang mengerjai adiknya sebagai suami yang baik ia ikut mendukung Adel.


"Dasar kakak ipar gak ada akhlak." gerutu Cindy.


"nyam..nyam..nyam. Emm syueggerrnyaa." ucap Adel menikmati makanannya.


"nyesel gue balik lagi kesini, huhuhu Satria kemana sih gak tau apa gue kesepian." gumam Cindy pelan.

__ADS_1


Pada akhirnya Cindy tak tahan melihat Adel dan juga Albert yang terlihat mesra, dia pergi dan terus menggerutu sepanjang jalan.


__ADS_2