
Keesokan harinya tepatnya pasa hari minggu semua orang menikmati hari liburnya tanpa bekerja, Edgar dan Rasya masih dialam mimpinya karena bergadang semalaman bermain game.
Adel turun kelantai bawah dengan hati-hati karena perutnya yang semakin membuncit, Albert berjaga-jaga di belakang istrinya menjadi suami siaga di setiap saat.
"Kakanda kok makin lama nih perut makin berat aja, jadi makin susah jalannya." keluh Adel.
"Namanya juga ada debay nya dinda, pasti semua ibu juga merasakannya kan kata dokterjuga semakin lama bayi didalamnya semakin membesar." ucap Albert.
"Aku kayaknya pengen dibawah aja kamarnya, capek kalau naik turun tangga jadi ngeri sendiri." ucap Adel.
"Yaudah nanti kita langsung pindah aja sayang, aku juga ngeri lihat kamu jalan gundal gandul kayak gitu." ucap Albert ngeri senidiri.
"Gundal gandul kek gini juga ulah kamu mas," ucap Adel.
"Hehehe, iya sih tapi kan semua atas dasar kemauan kita berdua." ucap Albert cengengesan.
"Aku lagi pengen masak banyak nih, kamu bantuin ya?" ucap Adel.
"Yaudah ayo, mumpung orang-orang juga masih belum pada bangun biar masakan kamu di nikmati banyak orang gimana? Tapi jangan terlalu kecapean ya?" seru Albert.
__ADS_1
Adel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia berjalan kearah dapur memilah dan memilih bahan-bahan masakan yang akan dia masak. Albert mengambil sayuran yang diberikan oleh Adel, ia juga meminta pelayan untuk tidak membantu ataupun memasak di dapur karena Adel hanya ingin masak sendiri dibantu oleh Albert saja.
"Kakanda potongin sayurannya ya, jangan terlalu kecil." titah Adel.
"Oke permaisuriku." ucap Albert mengacungkan jempolnya.
Adel tersenyum menanggapi ucapan suaminya, dia mengupas bumbu lalu membersihkan cumi-cumi kemudian menumis bumbu yang sudah ia haluskan menggunakan blender. Aroma wangi tercium dengan begitu harumnya sampai membuat perut Albert lapar, Adel memasak dengan begitu cekatan dan terkesan cepat sehingga beberapa menu selesai dimasaknya.
"Woooww, sayang banyak banget." ucap Albert.
"Biar sekalian buat pelayan juga, mumpung aku lagi kepengen masak kan sejak hamil jarang banget masuk kedapur soalnya kamu selalu larang aku." ucap Adel.
"Buat yang udah mateng tolong kakanda tata di meja makan ya, kayaknya bentar lagi yang lain turun." ucap Adel.
Cup.
Albert mengecup pipi Adel sekilas.
"Siap komandan." Seru Albert memberi hormat pada Adel.
__ADS_1
Albert menuruti perintah dari sang istri tercinta, dia mengambil beberapa menu makanan yang sudah matang dan siap disantap. Tak lupa Albert juga menyimpan beberapa lauk pauk di meja makan khusus pelayan, Cindy turun ikut membantu Adel menyiapkan piring dan juga nasi untuk sarapan.
Tak berselang lama Indah, Satria, pak Ahmad keluar dari kamarnya masing-masing kecuali Edgar dan Rasya, Indah terkejut melihat banyaknya menu makanan yang sudah tesaji diatas meja makan.
"Tumben menunya banyak banget?" heran Indah.
"Biasa mom, bumil tiba-tiba pengen masak banyak." jawab Albert.
"Yaudah gapapa biarin aja, asal jangn biarin Adel terlalu kecapean ya mommy ngeri liat perutnya udah gede banget padahal kan baru 5 bulan." ucap Indah.
"Iya mom, Al pasti awasin terus Adel." ucap Albert.
Adel menyeka keringatnya mulai kelelahan, melihat kakak iparnya mulai lelah Cindy langsung mengambil alih tugas Adel.
"Loe gabung aja sama yang lain, biar gue yang lanjutin." ucap Cindy.
"Okey, gue udah mulai engap nih." ucap Adel.
Adel berjalan kearah suaminya, dia meminta Albert mengambilkan baju baru karena baju yang Adel pakai sudah basah oleh keringat.
__ADS_1