
"kau tidak sendiri, ada aku dan keluargamu yang mensupport dirimu." ucap Adel menangkup wajah Albert.
Wajah Al basah dengan air matanya, Adel mengusap wajah Al dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Adel mengangkat tubuh Al lalu merebahkannya di atas kasur dan menyelimutinya, dia juga naik ke atas kasur berbaring di samping Al dengan guling di tengah sebagai pembatas untuk keduanya.
"tidak perlu pakai pembatas, percuma saja aku juga tidak akan memakanmu." ucap Al.
"bukan begitu, aku tidak bisa diam saat tidur makanya aku buat pembatas sekarang tidurlah jangan banyak bicara mataku sudah mengantuk." ucap Adel menutup matanya.
Tak berselang lama Adel terbang ke alam mimpinya, dengkuran halus terdengar oleh Albert dia memandangi wajah Adel wanita yang saat ini menjadi istrinya, Entah darimana ibunya mendapatkan wanita seperti Adel sungguh Al beruntung disandingkan dengannya.
"aku tidak tau bagaimana tuhan menyiapkan skenario di kehidupanku, kau memang benar aku kurang bersyukur seharusnya aku mensyukuri semua yang menimpaku, di balik kelumpuhanku aku bisa menilai siapa yang tulus dan yang tidak aku memang kehilangan wanita yang aku cintai dan menjalin hubungan bertahun-tahun denganku tapi Tuhan sungguh baik menggantinya dengan sosok dirimu dengan segala kelebihan dan sabarnya meskipun kau barbar." Ucap Al mengusap pucuk rambut Adel.
Al ikut memejamkan matanya, dia merasa seperti hidup kembali sejak Adel tidur di sampingnya.
__ADS_1
pagi menyapa keluarga Wiguna kini sedang menikmati sarapan tanpa ada yang bersuara satupun, Cindy yang suka menggoda Satria pun diam. Adel merasa heran melihatnya, suasana ramai kini tergantikan dengan keheningan.
"kenapa pada diam sih?" ucap Adel memecah keheningan.
"jangan banyak bicara, makan saja makananmu." ucap Al.
Indah selesai dengan sarapannya, dia pamit untuk pergi ke kamarnya. Sebagai anak bungsu Cindy berat melepas kepergian ibunya, dia mengekor di belakang Indah dan menghentikan aktifitas makannya.
"iya, Mommy gak akan lama kok kan ke luar negerinya juga sebentar." ucap Indah memegang kedua tangan Cindy.
"tapi Cindy nanti kangen Mom." rengek Cindy.
"kalau kangen ya tinggal telpon, lagian kakakmu Rasya juga ikut sama Mommy jadi kalau mommy lagi gak ada tinggal telpon kakakmu, disini juga kamu gak sendirian ada Adel yang nemenin kamu sekalian kamu juga jagain kakakmu Al." ucap Indah.
__ADS_1
Cindy memeluk tubuh ibunya, entah mengapa Cindy begitu berat melepaskan ibunya untuk saat ini, padahal sedari dia kecil Cindy sering di tinggal ke luar kota maupun keluar negeri oleh orangtuanya namun kali ini begitu berbeda dari biasanya. Indah mengajak Cindy keluar dari kamarnya dengan menyeret kopernya, Adel dan Al sudah siap mengantar Indah untuk pergi ke bandara.
"Al kau juga ikut mengantar mommy?" tanya Indah.
"hemm, tapi aku hanya melihat dari kejauhan saja biar Adel yang masuk akan berbahaya jika ada orang lain yang melihatnya" jelas Al.
" tidak apa-apa, kau tunggu saja di mobil." ucap Indah.
Rasya datang menyeret kopernya dan juga membawa beberapa berkas di tangannya, tidak ada yang menanyakan mengenai berkas tersebut karena mereka pikir itu adalah berkas pekerjaan tapi tidak dengan Al dia menatap curiga kepada Rasya yang membawa berkas padahal pikirnya untuk apa membawa berkas? Rasya bisa melihat data perusahaan lewat email tanpa perlu repot membawa berkas dari rumah.
"apa yang kau bawa itu Rasya?" tanya Al.
Degg!!
__ADS_1