Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
ngehalu


__ADS_3

Kepala Albert seperti di putar dan juga di tusuk oleh belati, dia mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu kala melihat wajah tegang supir di depannya.


"awaass!! Mobil.. Mobil ada mobil di depan." teriak Albert.


Adel mengernyitkan dahinya, supir pun langsung menekan rem mobil karena teriakan Albert yang mengatakan kalau ada mobil di depan padahal kenyataannya tidak ada satupun mobil yang berlalu ataupun berada di depan mobil yang di tumpanginya, jalanan sepi mambuat Adel ketar ketir sendiri.


"Al stop ngehalu, orang cuman mobil kita doang yang ada di sini." ucap Adel melihat kanan kiri depan belakang mobil.


"tidak..tidak ada mobil di depan." kekeh Albert.


"wah..wah.. Mulai gak waras lagi, hadeuhh nasib..nasib." ucap Adel pasrah


"mobil..mobilnya berjalan kearahku, cepat tepikan mobilnya cepaaatttt...." racau Albert berkeringat.


Adel memeluk Albert dengan erat meskipun dia tetap berteriak, Adel meneteskan air matanya tak tega melihat Albert yang terus meracau.

__ADS_1


"Al tenangkan dirimu, lihatlah tidak ada mobil lain disini." ucap Adel lembut tepat di telinga Albert.


Rasa sakit di kepala Albert mulai mereda, dia melihat kedepan yang ternyata memang tidak ada mobil yang melintas. Albert menghirup udara dan menghembuskannya secara perlahan, setelah dia tenang Albert melihat wajah Adel yang basah dengan air mata.


"kau menangis?apa aku menyakitimu?" tanya Albert beruntun.


Adel mengusap air matanya, dia melepaskan pelukannya dari tubuh Albert dan kembali duduk di samping Albert.


"tidak, kau tidak menyakitiku." jawab Adel.


"untuk apa kau minta maaf? Emang udah lebaran ya?" tanya Adel.


"tidak perlu menunggu sampai lebaran untuk meminta maaf, aku selalu saja menyusahkanmu maka dari itu aku meminta maaf padamu." ucap Albert.


"sudahlah, dengarkan aku! Sudah sering aku ingatkan padamu, kendalikan emosimu Al jika kau tidak bisa mengendalikannya apalagi kita sedang berada di luar rumah bisa saja orang lain menjadi sasaran amukanmu." ucap Adel.

__ADS_1


Albert menganggukkan kepalanya, mau bagaimana lagi Albert sudah berusaha mengendalikan emosinya namun apalah daya dia tak bisa terus menahannya. Adel meminta supir untuk melajukan kembali mobilnya, sedangkan ia meminta Al untuk tidur di bahunya.


'bagaimana caranya agar Albert cepat lepas dari traumanya, kasihan mommy' batin Adel.


Adel menatap lurus kedepan, dia khawatir dengan kondisi Indah jika beliau tau bagaikana kondisi anaknya yang masih sama sampai saat ini, sebelum pergi Indah selalu berpesan untuk menjaga Albert kalau bisa sampai Albert kembali normal seperti semula, hanya kepada Adel Indah mempercayakan semuanya.


Sampai di mansion pak Ahmad menyambut kedatangan Albert, dia di beritahu oleh Satria kalau pennyakit Albert kambuh. Pak Ahmad sangat khawatir untuk itu dia ingin menyusul Albert yang sudah dia anggap anak sendiri, tetapi sebelum dia pergi mobil yang di tumpangi oleh Albert sudah datang ke mansion.


pak Ahmad membantu membukakan pintu mobil, kemudian dia membuka pintu bagasi mengambil kursi roda milik Albert, Adel membawa Albert keluar dari mobil dibantu oleh supir dan juga pak Ahmad.


"bagaimana kondisi tuan muda nona?" tanya pak Ahmad.


"ya begitulah paman, paman tau sendiri bukan kalau penyakit mental Albert sudah bereaksi gimana? Tapi tadi agak berbeda, mungkin karena ada banyak masalah yang belum terselesaikan salah satunya tadi kasus korupsi, dan aku tadi tidak sengaja melihat beberapa rentetan kasus di salah satu berkas di hadapan Albert." ucap Adel sambil berjalan mendorong kursi roda.


"maafkan saya nona, jika saya tau kalau di perusahaan ada masalah saya mungkin bisa membantu." ucap pak Ahmad.

__ADS_1


__ADS_2