
Siang hari.
Edgar dan Rasya pergi ke sebuah mall berdua saja tanpa ada yang ikut bersama mereka, rencananya mereka ingin membeli pakaian untuk menghadiri pesta salah satu rekan bisnis yang sama-sama mengundangnya. Adel tidak jadi ikut ke mall karena perutbya tiba-tiba keram, alhasil suami posesifnya melarang Adel pergi.
"Ed loe mau beli baju apa?" tanya Rasya.
"Liat-liat aja dulu Sya," jawab Edgar.
Keduanya berjalan dengan gagahnya, semua mata para pengunjung di mall menatap ke arah Edgar dan Rasya. Siapa yang tidak akan terkesima melihat dua pria tampan, keren, tajir melintir, paket komplit pokoknya, para wanita berbisik-bisik seraya merapikan penampilannya masing-masing mencari perhatian keduanya.
"Norak banget, liat cowok bening dikit aja nyengir." cibir Rasya.
"Biarin aja." ucap Edgar.
Edgar dan Rasya tak sengaja lewat di tempat pernak pernik bayi, keduanya saling bertatap muka kemudian menyunggingkan senyumannya.
"Belanja buat ponakan kita yuk?" ajak Rasya.
"Siap, gue gak sabar nunggu anak si madam lahir." seru Edgar.
Mereka begitu bersemangat masuk kedalam toko pakaian bayi, Edgar yang paling excited memilih baju dan juga kaos kaki lucu untuk bayi. Rasya melihat stroller, babby bouncer, dan mainan bayi.
"Sya lihat deh, lucu banget baju bayinya." ucap Edgar memperlihatkan jumper untuk bayi.
__ADS_1
"Baju apaan sik kayak kodok gitu? Jangan beli baju yang susah pup dong Ed gimana sih?" heran Rasya.
"Yaudah gue cari yang lain lagi." ucap Edgar.
Dua CEO tampan berubah menjadi emak-emak heboh di toko perlatan bayi, Edgar memanggil salah satu karyawan dan menunjuk semua barang yang dipilihnya begitu pun Rasya. Selesai dari toko peralatan bayi keduanya beralih ke toko pakaian pria dan juga jam tangan, Edgar dan Rasya asyik menikmati waktu liburannya sampai mereka hampir lupa waktu.
Di mansion.
Adel mengerucutkan bibirnya karena Albert melarangnya pergi ikut ke mall bersama Edgar dan juga Rasya, dia lebih memilih berdiam diri diruang tamu menonton tv sambil ngemil tanpa di temani siapapun.
"Ini, itu gak boleh semuanya gak boleh, untung gue masih di bolehin nafas." gerutu Adel.
Albert turun dari kamarnya karena istrinya tak kunjung kembali, dilihatnya Adel sedang mengomel sendiri yang ia yakini kalau istrinya itu masih marah padanya.
"Apa!" sewot Adel.
"Kok gitu sih jawabnya? Kamu masih marah sama mas?" tanya Albert.
"Masih nanya lagi?!" amuk Adel.
Albert memeluk leher Adel dari belakang kursi, dia mengecupi pipi Adel dan juga rambutnya.
"Maafin mas ya." ucap Albert.
__ADS_1
Mendengar ucapan maaf dari suaminya mata Adel tiba-tiba memanas, hidungnya kembang kempis seketika menangis terisak.
"Hiks,hiks,hiks, huhuhu..Kakanda jahat, larang aku pergi ke mall huhu." ucap Adel sambil menangis terisak.
"Utuututu..Dindaku kok nangis sih, kan mas udah minta maaf sama kamu, mas kan khawatir tadi pagi perut kamu keram." ucap Albert.
Kraauuukk..Krauuukk..
Adel tetap memasukkan keripik kedalam mulutnya, semakin ia kesal semakin lapar pula perutnya.
"Pokoknya hiks, aku hiks, bete hiks, sama ka-mu." ucap Adel sesenggukan.
"Yaudah, kalau mau ke mall yuk kita jalan sekarang." ajak Albert.
"Gak mau, udah males. Pokoknya nanti malem kakanda tidur diluar, aku gak mau tidur sama kamu TITIK." seru Adel.
"Loh, loh gak bisa gitu dong sayang. Nanti aku gak bisa jengukin baby di dalem, terus nanti siapa yang elus perut kamu kalau mau bobok?" ucap Albert tidak terima.
"Ada mommy, Edgar sama Rasya, mereka pasti mau kok elusin perut aku."
Albert membulatkan matanya, bagaimana mungkin ia rela kalau perut istrinya di pegang oleh pria lain.
"Tapi..
__ADS_1
TIITTT..TIIIITT..TIIITTTT