Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Come back negara tercinta


__ADS_3

Indah bersama yang lainnya masuk ke dalam jet pribadi, mereka duduk dengan tenang menunggu pesawat mengudara terbang ke negara tercinta.


Di dalam pesawat Adel dan Albert menempel seperti perangko, sedangkan Rasya sibuk dengan khayalannya. Berbeda dengan Cindy dia melamun sepanjang perjalanan, dia masih penasaran dengan kekasihnya Satria entah apa yang ia sembunyikan membuat Cindy terus bertanya-tanya.


'Kok gue jadi penasaran ya pas Satria bilang ada tugas yang harus ia selesaikan? Waktu di rumah sakit juga dia gak terlalu ngerespon pas gua chat? Njir bikin penasaran aja gue punya yayang satu ini.' batin Cindy.


Tidak butuh waktu lama jet pribadi yang di tumpangi oleh Indah dan yang lainnya sudah sampai di bandara, mereka keluar dari dalam jet dengan senyum yang mengembang, supir yang bertugas menjemput pun sudah menunggu.


30 menit kemudian.


Indah dan yang lainnya kini sudah sampai di mansion, bu Endah dan pelayan lainnya menyambut kedatangan Indah dan anggota keluarga lainnya. Sebelumnya pak Ahmad sudah memerintahkan kepada para pelayan di mansion untuk memberi sambutan kepada nyonya rumah, para pelayan mengambil koper dari Albert, Rasya dan juga pak Ahmad, mereka membawanya masuk ke p3miliknya masing-masing.


"Selamat datang kembali nyonya Indah." ucap bu Endah.


"Terima kasih bu Endah." jawab Indah tersenyum.


"Loh kak, Adel mana?" tanya Cindy.


"Tidur." jawab Albert singkat.


"Emang dasar ya, dari dulu gak pernah berubah kerjaannya molor aja tuh anak." ucap Cindy.


"Kenapa jadi kamu yang ribut sih, biarin aja dia tidur orang dia kecapean." ucap Albert.

__ADS_1


"Kecapean digoyang kek nya." cibir Cindy.


Pletak.


"Kalau ngomong suka bener." ucap Albert sembari menyentil dahi Cindy.


"Ayok masuk, tadi mommy bilang apa? kita mau adain rapat keluarga kalo udah sampe bukan? Setelah masuk kita makan dulu habis itu kumpul di ruang kerja." ucap Indah.


"Oke mom." sahut ketiga anaknya.


"Pak Ahmad juga ikut rapat." titah Indah.


"Baik nyonya." ucap pak Ahmad.


Di dalam gendongan Albert Adel mengerjapkan matanya saar wajahnya di terpa sinar matahari, perlahan dia membuka matanya dan melihat sekeliling yang ternyata ia sudah sampai di mansion.


"Mas kita udah sampai?" tanya Adel.


"Ehh, kok bangun? Tadi kamu kan tidur sepanjang perjalanan jadi kamu gak tahu kalau kita udah sampai di mansion." ucap Albert.


"Kenapa gak bangunin aja tadi pas nyampe?" tanya Adel.


"Kasihan istriku pasti kecapean, tidurnya pules banget jadi gak tega banguninnya." ucap Albert.

__ADS_1


"Iya capek lah, orang berjamjam goyang." gerutu Adel.


"Tapi enak kan?" goda Albert menaik turunkan alisnya.


"Iya sih enak, nanti malam lagi ya?" ucap Adel kembali mengajak Albert bergoyang.


"Oke, dengan senang hati, sekarang mending kita ikut makan biar nanti malam full tenaganya." ucap Albert.


"Woke." ucap Adel.


Adel dan Albert ikut bergabung bersama yang lainnya di meja makan, Albert menarik kursi untuk sang istri ia juva mengambilkan nasi beserta lauknya menyuapi Adel dengan begitu romantis.


"Kak please deh, jangan bikin selera makan aku hilang." protes Rasya.


"Iri bilang boss, slebbeeww ahh." goda Adel.


"Makanya cari cewek biar gak kesepian kak." ucap Cindy.


"Betul itu." ucap Albert mengacungkan jempolnya.


"Astagfirullah, waktunya makan juga masih aja ribut kalian ini bikin pusing mommy aja deh." keluh Indah.


"Berseteru antar saudara itu menyenangkan mom." ucap Cindy.

__ADS_1


"Au ahh gelap." ucap Indah.


__ADS_2