Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
syueedeepp


__ADS_3

Adel mengambil mangkok untuk seblaknya, dia langsung menyambar kantong seblak yang di pegang oleh Satria.


"uhh syuueedeep ini mah." ucap Adel.


"del tungguin gue napa," ucap Cindy langsung duduk bersebrangan dengan Adel.


" Al ini buatmu." ucap Adel menyodorkan mangkuk yang sudah di tuangkan seblak.


"aku tidak mau, makanan ini tidak sehat kelihatannya juga tidak higienies." tolak Albert.


Adel memutar bola matanya jengah, sesuai dengan dugaannya Albert pasti menolaknya, Adel menuangkan seblak pedas miliknya. Albert membulatkan matanya melihat seblak ceker yang merah oleh cabe, dia bergidik ngeri melihatnya.


"Apa itu cabai?" tanya Albert menunjuk mangkuk Adel.


"iya, emangnya kenapa? Namanya juga seblak pedes ya pasti pakai cabai." jawab Adel.


"apa kau tidak sakit perut setelah memakannya?" tanya Albert lagi.


"enggak, kapan makannya kalo kamu nanya mulu? Nih air liur udah hampir banjir ke bawah nyium aromanya." protes Adel.


Albert merapatkan mulutnya, dia memperhatikan Adel yang memakan seblak merah cabai tanpa kepedesan sekalipun.


'hiihh dia makan kaki ayam? mengerikan' batin Albert.


Cindy makan dengan lahapnya, sedangkan Satria hanya menelan ludahnya melihat Cindy.

__ADS_1


'sepertinya enak' batin Satria.


"kenapa diam saja? Makanlah, kalau seblaknya tidak enak kau tidak usah khawatir aku yang akan menghabiskannya." ucap Cindy.


Dengan Ragu Satria menyendokkan seblak ke mulutnya, mata Satria langsung melotot saking enaknya.


"gimana enak kan?" tanya Adel.


"enak, baru pertama kali aku mencobanya ternyata rasanya enak sekali." ucap Satria.


Albert menautkan alisnya, dia jadi penasaran dengan rasa seblak yang dikatakan oleh Satria itu enak. Selama ini Satria seing rewel perihal makanan, tapi seblak? Dia bilang enak.


"kau juga harus mencobanya Al," ucap Adel.


"tidak." ucap Al menggelengkan kepalanya.


Hhapp..


Albert membuka mulutnya, dia mengunyah makanan yang masuk ke dalamnya.


"enak kan?" tanya Adel menaik turunkan alisnya.


"hmm" jawab Al.


"ya sudah ini, silahkan dimakan kakanda." ucap Adel meletakkan seblak di hadapan Albert.

__ADS_1


"pak Ahmad sini." panggil Cindy.


merasa di panggil pak Ahmad langsung berjalan ke arah Cindy, dia melihat Satria dan juga Albert makan seblak dengan lahap dalam benaknya dia bertanya-tanya sejak kapan para pria datar ini suka makan seblak.


"paman duduklah, ini aku udah pesenin juga sekalian buat paman di makan ya." ucap Adel.


"terimakasih nona." ucap pak Ahmad.


semuanya makan dengan khidmat, Adel selesai dengan makannya dia membereskan mangkuk bekasnya sekalian dengan mangkuk milik Cindy. Adel meletakkannya ke dapur lalu mencucinya, sedari kecil Adel di latih mandiri oleh ibunya setiap kali habis makan Adel pasti akan mencuci piring dan perabot kotor yang sudah di pakainya.


Di negara lain.


Rasya mondar mandir di depan ruang rawat ibunya, dia khawatir dengan kondisi indah yang sempat drop sampai akhirnya dia memanggil dokter untuk memeriksa Indah.


Ceklek.


"bagaiamana keadaan Mommy dokter?" tanya Rasya dalam bahasa inggris.


"sekarang kondisi pasien sedang tidak baik-baik saja, tim dokter harus tetap memantau perkembangannya sampai sejauh mana agar kami bisa mengambil tindakan yang tepat untuk pasien" jelas Dokter.


"lakukan yang terbaik untuk mommy saya dokter, hanya dia orangtua ku satu-satunya di dunia ini yang tersisa." ucap Rasya.


"akan kami usahakan, doakan yang terbaik untuk ibumu semoga dia bisa melewati rasa sakitnya." ucap Dokter menepuk bahu Rasya.


Dokter pamit dari hadapan Rasya. Dari luar Rasya melihat ibunya yang lemah tak berdaya dengan wajah pucat, beberapa alat bantu di pasangkan ke tubuh Indah, betapa sakitnya hati seorang anak melihat kondisi seorang ibu yang telah melahirkannya ke dunia terbaring lemah.

__ADS_1


"mom, maafkan aku jika aku tak bisa menepati janjiku padamu." ucap Rasya.


__ADS_2