Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Rasa takut Edgar.


__ADS_3

Dikamar Rasya.


Edgar dan Rasya menatap langit-langit kamar dengan pikirannya masing-masing, mereka berdua seakan sedang berperang dengan isi kepalanya.


"Sya." panggil Edgar.


"Apa?" tanya Rasya.


"Gue ngerasa ada yang aneh dari diri gue, entah perasaan gue aja atau gimana gue tak tahu." ucap Edgar.


"Emangnya apa yang sedang loe rasain sekarang?" tanya Rasya.


Edgar memiringkan tubuhnya kemudian ia membisikkan sesuatu di telinga Rasya, Rasya membulatkan matanya langsung menatap kearah Edgar dengan wajah terkejutnya.

__ADS_1


"Loe serius?" tanya Rasya.


"Beneran, gue gak berani periksa karna gue takut apa yang gue takutin terjadi." ucap Edgar sedih.


"Loe udah cerita sama om Rio atau ke adik loe gak?" tanya Rasya serius.


"Enggak Sya, loe tahu gak kenapa gue sering dateng ke rumah ini?" tanya Edgar balik.


"Kenapa emangnya?" tanya Rasya penasaran.


"Gue udah anggap nyokap loe kayak nyokap gue sendiri, setiap kali gue dateng kesini seakan kesedihan yang gue rasakan berkurang meskipun gue harus jadi korban si madam tetep aja gue seneng, makasih loe udah jadi sobat kekonyolan gue, masalah yang sedang menimpa gue sekarang hanya loe sama Leo yang tahu selebihnya gue gak cerita sama siapapun termasuk bokap gue, gue gak mau nambahin beban pikiran daddy karena selama ini gue pikir dadsy udah cukup menderita." jelas Edgar dengan mata yang berkaca-kaca.


Rasya menatap iba pada Edgar, dia menepuk pundak Edgar memberikan kekuatan padanya. Rasya pikir Edgar adalah pria yang kuat namun ternyata ia salah, ternyata dibalik sikapnya yang terkesan dingin dan juga konyol tersimpan luka didalam hatinya yang tak bisa ungkapkan.

__ADS_1


"Kapanpun loe butuh gue buat sekedar temen cerita atau apapun itu gue pasti siap, sekarang loe jangan banyak pikiran dulu lebih baik loe tenangin diri loe Ed." ucap Rasya.


"Thanks Sya." ucap Edgar.


Edgar merasa bersyukur karena telah dipertemukan dengan orang-orang yange begitu baik padanya, membuka pintu selebar-lebarnya setiap kali ia datang. Setiap harinya Edgar melampiaskan kesedihannya dengan bekerja dan menghabiskan sisa waktunya bersama keluarga besar Wiguna, selain itu dia tidak memiliki tujuan lain lagi.


"Yaudah loe tidur gih, udah malem juga gak baik buat kesehatan loe." ucap Rasya.


"Gue gak bisa tidur Sya, gue kepikiran terus." sahut Edgar.


"Biar loe gak kepikiran terus, gimana kalau kita main game aja?" saran Rasya.


"Gaslah." seru Edgar.

__ADS_1


Rasya sebenarnya sudah mengantuk tetapi demi menghibur Edgar dia rela manahan kantuknya, Edgar begitu terlihat bersemangat jadi tidak mungkin Rasya membuatnya kembali bersedih. Untuk pertama kalinya Rasya melihat seorang Edgar bersedih, selama ini Edgar selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang menutupi lukanya dengan sangat sempurna.


Sudah sekian lama Edgar menutupi apa yang terjadi pada dirinya tanpa memberitahu ayahnya, sebelumnya Edgar selalu dibawah tekanan ibu tirinya dan juga kakeknya jadi sangat sulit jika ia memang ingin menceritakan masalahnya pada Rio. Setelah semua kebenaran terbongkar Edgar semakin tidak ingin bercerita pada ayahnya, dia cukup tahu bagaimana dalamnya luka yang ada pada hati Rio dimana Rio ditinggal pergi ibunya, dipisahkan dengan istrinya sampai akhirnya ibunya pun ikut pergi meninggalkan Rio untuk selama-lamanya.


__ADS_2