Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Satria cemburu


__ADS_3

Farid, Nabila dan juga Luna memberikan selamat kepada Adel meskipun mereka kecewa karena Adel menyembunyikan pernikahannya dari ketiga sahabat masa kecilnya itu.


" Del selamat ya sekarang loe udah jadi istri konglomerat." ucap Nabila.


"Iya del, tadinya gue mau marah sama loe kenapa juga loe gak ngasih tau kita kalo loe udah nikah?" tambah Luna.


"Terus sekarang kalian tau darimana kalo gue dah nikah?" tanya Adel.


"Kita tau dari nyokap sama bokap loe pas kita nyari loe mau ngajak maen bola, mereka bilang loe lagi ada di rumah sakit tadinya sih kita mau jenguk tapi ibu loe bilang hari ini pulang jadi kita berangkat bareng ama Ibu kesini." jawab Farid.


"oh ngono toh." ucap Adel.


"eh nyet lu hutang cerita ama kita ya, mentang-mentang nikah ama orang kaya loe lupain kita." ucap Farid.


"Sembarangan loe bilang nyat nyet nyat nyet, sekarang gue udah jadi istri pengusaha bukan geng monyet lagi." protes Adel.


"Udah jangan pada berisik, mending kita makan aja noh bibi udah nyiapin makanan yang banyak." ajak Cindy.


"Wah kalo kayak gini mah gaskeun, slewbbeew makanan orang kaya mah biasanya enak-enak." ucap Luna.


Farid sudah lebih dulu melesat ke arah meja makan, dia mengambil semua makanan yang dia mau. Adel menepuk jidatnya merasa malu sendiri dengan tingkah norak Farid dan temannya yang lain, Nabila dan juga Luna makan enggak ada anggun-anggunya yang ada malah makan seperti orang kesurupan.

__ADS_1


"Malu-maluin dasar pada udik loe semua." ucap Adel.


Cupp.


Albert mengecup pipi Adel, kini ia sudah lebih berani karena Adel sudah resmi menjadi miliknya.


"Biarkan saja, kalo mereka mau bungkus saja." ucap Albert.


Wajah Adel merah merona dibuatnya, orangtua Adel bahagia melihat putrinya kini terlihat memancarkan aura bahagianya saat bersama Albert. Di dalam hati mereka berdoa agar pernikahan Adel dan juga Albert langgeng sampai maut memisahkan, mereka juga berharap Adel berada di tangan yang benar.


Albert menarik kursi mempersilahkan Adel untuk duduk, tak lupa ia mengambil makanan lalu menyuapi Adel dengan penuh perhatian. Di sudut lain ada seorang pria yang mengerucutkan bibirnya sambil bersidekap memandangi wanita yang sedang asyik bercanda dengan teman-temannya, pendangannya pun beralih ke arah Albert dan juga Adel yang makan sambil bercanda di selingi tawa bahagia membuat moodnya semakin memburuk.


"Kasihan sekali pemuda satu ini." cibir pak Ahmad.


"Diamlah paman jangan merusak moodku yang sudah hancur." omel Satria.


Pak Ahmad terkekeh melihat wajah Satria yang semakin kusut, Satria kesal melihat Cindy yang sibuk haha hihi dengan temannya apalagi disana ada Farid yang terlihat seperti mendekati Cindy semakin panas lah hati Satria.


"Sudahlah jangan diliatin terus, sini paman suapi cemburu juga butuh tenaga bro." goda Pak Ahmad.


" Apaan sih paman, emangnya aku cowok apaan." sewot Satria.

__ADS_1


"Jangan ngomong gitu sama orang yang lebih tua, sini buka mulutnya." ucap pak Ahmad.


Satria membuka mulutnya tanpa melihat sendok yang di suapkan pak Ahmad itu apa karena masih sibuk memantau Cindy dari kejauhan, saat mengunyah makanannya Satria membulatkan matanya merasakan sensasi pedas di mulutnya.


"haaahhh.. Pedeessss." teriak Satria.


"Hahaha.." pak Ahmad tertawa puas mengerjai Satria.


Glukk..Glukkk..Glukkk..


"Satria jangan." cegah Pak Ahmad.


Satria tak mendengarkan ucapan pak Ahmad, dia terus meneguk air dihadapanya karena kepedesan.


"Kenapa air kobokan kamu minum?" tanya pak Ahmad.


Satri membulatkan matanya, dia terkejut mendengar kata air kobokan.


"hueekk.. Paman kenapa gak ngasih tau?" omel Satria berusaha mengeluarkan isi perutnya.


"orang tadi udah ngomong, kamunya aja yang gak dengerin paman." ucap Pak Ahnad.

__ADS_1


__ADS_2