
Albert mendorong kursi roda Adel menuju ruangan dokter obgyn, Albert tak perlu mendaftar karena rumah sakit yang ia datangi adalah salah satu rumah sakit milik ayahnya. Dokter wanita yang bernama Riana menyambut kedatangan Albert dan juga istrinya, dia mempersilahkan kedua pasutri itu untuk duduk.
"Selamat sore tuan Albert dan nyonya Adel," sapa dokter Riana.
"Selamat sore juga dokter." jawab Adel.
"Dokter Burhan tadi sudah mengabari saya bahwasannya pemilik rumah sakit ini akan datang, beliau mengatakan kalau nyonya ingin memeriksakan kandungannya. Sebelumnya saya ingin bertanya terlebih dahulu pada nyonya Adel, apakah ada keluhan nyonya?" ucap dokter Riana dengan Ramah.
Sebelum datang ke rumah sakit Albert menelpon Burhan terlebih dahulu, dia meminta Burhan menyiapkan dokter kandungan wanita untuk memeriksa kandungan istrinya. Dia tidak ingin Adel di periksa oleh dokter laki-laki untuk itu ia meminta bantuan Burhan, Indah menyusul Albert masuk ke dalam ruangan sebelum Adel menjawab pertanyaan dari dokter Riana.
"Silahkan duduk nyonya." ucap dokter Riana mempersilahkan Indah untuk duduk di sofa yang berada di dalam ruangannya.
"Terimakasih." ucap Indah.
"Kalau untuk keluhannya sih cuman mual kalau nyium bau pengharum ruangan aja sih dok, selebihnya sih gak ada keluhan lagi yang aku rasakan." jawab Adel.
"Oke, kalau begitu saya coba cek tensi dulu ya nyonya." ucap dokter Riana.
Dokter Riana memasang alat tensi darah di lengan Adel kemudian memeriksa tekanan darah Adel, selesai mengecek darah Adel dokter Riana menimbang berat badan Adel lalu mencatatnya kedalam sebuah buku catatan untuk ibu hamil.
"Allohuakbar, waduh 54 kilo." ucap Adel terkejut melihat berat badannya yang naik.
__ADS_1
"Sayang kenapa?" tanya Albert.
"Kakanda, lihat masa berat badan dinda 54 kilo?" ucap Adel menunjuk kearah timbangan.
"Emangnya tadinya berapa?" tanya Albert lagi.
"50 kilo." jawab Adel.
"Ya bagus dong, berarti kamu naik 4 kilo pantesan makin chubby pipinya." ucap Albert.
"Emangnya kakanda suka lihat aku chubby?" tanya Adel memegang pipinya.
Albert menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Adel tersenyum menanggapinya. Selama suaminya menyukainya Adel tidak akan mempermasalahkannya, yang terpenting baginya adalah jika suami senang istri pun ikut senang.
"Jangan diet, kan sekarang kamu lagi hamil dinda." ucap Albert.
"Iya juga ya, maaf kakanda mohon di maklumi ya namanya juga mahmud baru hihi." ucap Adel dengan cengengesan.
"Mohon dimaklumi ya dokter, menantu saya memang agak lain daripada yang lain." ucap Indah.
"Tidak apa-apa nyonya, saya suka karakter nyonya Adel biasanya kalau berat badan seorang perempuan naik dia langsung risau gak mau gendut atau apalah karena gengsi, tapi nyonya Adel bersikap santai malahan tadi dia bilang jika tuan Albert menyukainya maka dia tidak mempermasalahkannya." ucap dokter Riana.
__ADS_1
"Iya, sesederhana itu menantuku Albert sangat beruntung dapat istri seperti Adel." puji Indah.
Dokter Riana meminta Adel berbaring diatas hospital bed, ia menyingkap baju Adel lalu mengoleskan gel diatas perutnya. Dokter Riana menunjuk kearah layar diatas, dia menunjukkan sebuah titik kepada Albert dan juga Adel dimana titik tersebut adalah bakal janin yang yumbuh di rahim Adel.
"Tuan dan nyonya bisa lihat titik hitam diatas? Itu adalah janin atau bayi yang akan tumbuh di dalam perut nyonya Adel, ukurannya masih sangatlah kecil tapi semakin lama janin akan semakin membesar sampai usia kandungannya menginjak 9 bulan." jelas dokter Riana.
Albert terharu melihat anaknya secara langsung, dia mengecup kening Adel sebagai ucapan rasa syukurnya kini ia telah dianugerahkan seorang anak di rahim istri tercintanya. Mata Indah sudah berkaca-kaca saat melihat monitor dimana cucunya kini sudah hadir, tak lupa Indah merekam moment berharga tersebut menggunakan layar hp nya.
Selesai melakukan USG dokter Riana membersihkan gel diatas perut Adel, Albert membantu Adel turun dari hospital bed kemudian menuntunnya duduk dihadapan dokter Riana.
"Nyonya Adel nanti Vitamin dan juga obat penambah darahnya dihabiskan ya, ini foto dedek bayinya disimpan juga ya. Setiap satu bulan sekali kalian datang lagi kesini, jaga kesehatan dan jangan bekerja telalu berat, ibu hamil tidak boleh stress karena itu bisa menganggu pertumbuhan bayi didalam perut nyonya." jelas dokter Riana.
"Dokter kalau melakukan hubungan suami istri masih boleh gak dokter?" tanya Adel.
"Tentu saja boleh nyonya, tapi saya sarankan jangan terlalu sering apalagi sekarang usia kandungan nyonya masih sangat rentan jadi saya sarankan dalam satu minggu 1 atau dua kali, jangan terlalu bersemangat lakukan semuanya dengan hati-hati jangan sampai membahayakan janin." jawab dokter Riana.
"Al istri kamu itu aneh banget sih? Masa ceweknya yang nanya kek gituan biasanya kan cowok, mommy curiga kayaknya Adel yang sering minta jatah sama kamu deh?" tebak Indah.
"Emang iya mom." sahut Adel dengan polosnya.
"Astagfirullah sayang, jangan buka kartu kita didepan mommy dong." ucap Albert malu.
__ADS_1
"Emangnya kenapa sih mas? Gapapa juga kali kan sama mommy doang bukan sama orang lain, ya kan mom?" tany Adel sambil meminta persetujuan mertuanya.
Indah dan dokter Riana terkekeh mendengarnya, sedangkan Albert hanya mendengus dengan kesal. Dokter Riana memberikan resep obat dan juga vitamin untuk Adel, Albert mengambil semua obat yang diberikan oleh dokter Riana kemudian ia mendudukkan Adel kembali di kursi rodanya dan mendorongnya keluar dari ruangan dokter Riana.