Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
ratu cicak


__ADS_3

Adel dan Cindy merapikan pakaiannya setelah bergulat di bawah lantai, Yusuf dan Fatimah pun sudah rapi dengan pakaiannya.


"del ayo kita berangkat takutnya terlalu sore pulangnya jaraknya juga agak jauh dari rumah." ucap Yusuf.


"iya yah" ucap Adel.


Adel keluar dari kamarnya, dia membawa masuk Albert ke dalam mengganti pakaian suaminya dengan baju ganti yang di bawanya sebelum berangkat ke klinik.


"perfect." ucap Adel membentuk huruf O di tangannya.


"Kenapa kau membawa baju ganti kaos?" tanya Al.


"memangnya harus bawa baju apa? Pakai jas? Batik? Kita kan mau periksa kamu bukan mau ke kondangan." ucap Adel.


"kan Ada kemeja lengan pendek, aku tidak biasa bepergian pake baju kaos." protes Albert.


"terserah aku aja jangan protes, orang baju gede semua makanya makan yang banyak biar badannya gedean dikit sayang baju seabreg gak kepake semua." omel Adel.


Albert mengerucutkan bibirnya, Adel mencomot bibir Al dengan tangannya. Entah mengapa melihat Al cemberut membuat Adel gemas sendiri, dia mendorong kursi roda Al keluar bergabung dengan ayahnya yang sudah menunggu di dekat mobil.

__ADS_1


saat Adel menngangkat tubuh Al di bantu oleh Satria dan juga Yusuf para tetangga melihatnya, mereka krasak krusuk memanggil tetangga yang lainnya untuk bergabung gibah massal. Albert merasa tidak nyaman dengan apa yang di lakukan oleh para tetangga di sekitar rumah orangtua Adel, mereka bergosip melihat ada mobil mewah yang terparkir di halaman depan rumah Adel.


" *mobil siapa itu keren banget."


" itu yang di dorong sama si Adel ganteng sih tapi cacat."


"jangan-jangan Adel di jual sama ema bapaknya*."


"*denger-denger katanya si adel udah nikah'


'kayaknya bener deh dia di jual sama laki cacat'


'ihh amit-amit percuma ganteng sama kaya kalo cacat*'


"berani banget mencampuri urusan seorang Adel, belum tau rasanya bibir berdarah pipi bengkok." geram Adel.


"del udah, jangan di ladenin." cegah Fatimah.


"gak bisa di biarin bu, mereka harus di kasih pelajaran biar kapok." ucap Adel.

__ADS_1


Fatimah dan Yusuf tidak bisa mencegah Adel, mau di larang ataupun tidak Adel akan tetap keras kepala.


"sini kalau berani jangan cuman bisik-bisik di belakang!" tantang Adel.


Para tetangga saling menyenggol satu sama lain, mereka tau sifat Adel bila sudah mengeluarkan taring dan tanduknya. Mereka tidak berani semuanya diam seketika, Adel maju menarik biang kerok pemimpin ghibah di tempat tinggalnya.


"sini, pasti loe ya biang karoknya ratu cicak si tukang ghibah." sentak Adel.


"si-apa bi-ilang, aku gak ghibah kok jangan nuduh sembarangan del kalo gak ada buktinya." kilahnya dengan gugup.


"semua orang disini juga pada tau, loe itu biang kerok dari segala penjuru gosip yang menyebar mau itu lama ataupun terbaru pasti sumbernya dari mulut loe." amuk Adel berkacak pinggang.


"Hey jaga mulutmu ya del, sama orang yang lebih tua kok gitu ngomongnya." lawan markonah menunjuk ke wajah Adel.


"lu yang harusnya jaga mulut loe markonah ratu ghibah, gue gak takut sama loe." bentak Adel menyingkirkan tangan markonah dari wajahnya.


Markonah seketika diam saat Adel membentaknya, para tetangga yang lainnya hanya diam menyaksikan perdebatan keduanya.


"denger ya semuanya kalau ada yang berani ngusik ataupun bergosip mengenai keluarga gue, gue jamin nyawa kalian melayang bareng rumahnya sekalian biar tau rasa, mau gue dateng sama siapapun bukan urusan loe loe pada paham!!" teriak Adel.

__ADS_1


"paham" jawab para tetangga serempak ancaman Adel tak pernah main-main maka dari itu mereka menuruti ucapan Adel.


Adel membalikkan badannya, dia masuk ke dalam mobil duduk bersama suaminya sedangkan orang tuanya duduk di belakang Adel dan Al. Wajah Adel memerah menahan marah, nafasnya pun naik turun menetralkan emosinya jika dia tak ingat akan pergi ke klinik bisa di pastikan dia membungkam mulut para tetangga julidnya.


__ADS_2