Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Keputusan Burhan


__ADS_3

Albert memutuskan sarapan dikamarnya, dia menemani istrinya yang tidak ingin ditinggap pergi olehnya.


"Kakanda aku mau ngomong sesutu," ucap Adel.


"Sebentar, aku habisin dulu makannya." ucap Albert.


Albert menyuapkan satu sendok terakhir ke mulutnya, ia juga menggak minumannya sampai habis.


"Mau ngomong apa sayang?" tanya Albert.


"Menurut kamu Burhan itu gimana orangnya?" tanya Adel.


"Kenapa kamu tiba-tiba nanyain Burhan?" tanya balik Albert.


"Aku mau jodohin dia sama si Nabila." ucap Adel.


"Burhan itu baik orangnya, cuman kadang dia suka lebay aja dan selalu menyibukkan dirinya sama pekerjaannya. Sebenarnya banyak juga wanita yang ngejar-ngejar dia, cuman dia nya aja gak mau." ucap Albert.


"Kira-kira mereka bakalan mau enggak ya aku jodohin? Dua-duanya tuh sama-sama ditinggal nikah, jadi aku kepikiran buat jodohin mereka dan Burhan juga sebenernya udah ngomong ke aku katanya minta dicariin cewek yang mau diajak serius." ucap Adel.


"Gak ada salahnya kalau kita coba deketin mereka mumpung masih disini, biar kenalan aja dulu." ucap Albert.


"Yaudah, yuk kita ke bawah." ajak Adel.


Albert membantu Adel turun dari kasurnya, dia sangat menjaga istrinya sebagaimana ia menjaga seorang bayi.


Dibawah Fatid and the geng sedang berkumpul diruang tamu bersama Indah dan orangtua Adel, sedangkan Trio jomblo sedang bermain game dikamar tamu.


"Mom Burhan udah lulang belum?" tanya Albert begitu sampai dibawah.

__ADS_1


"Ada, pada main game dikamar tamu." jawab Indah.


"Dinda, aku susulin mereka dulu ya." ucap Albert.


"Iya kakanda." jawab Adel.


Albert menyusul trio jomblo ke kamar tamu, dan benar saja ketiganya sedang bermain game sampai berjingkrak-jingkrak tidak jelas.


"Burhan." panggil Albert.


Burhan membalikkan tubuhnya menatap kearah Albert, dia mematikan game nya kemudia menghampiri Albert.


"Ada apa Al?" tanya Burhan.


"Ayo ikut aku." ucap Albert.


"Duduk." titah Albert.


Burhan duduk bersebrangan dengan Nabila, Adel melihat Nabila yang tengah duduk namun bergerak gelisah.


"Begini, waktu acara kemarin Burhan bilang padaku kalau dia ingin aku mencarikan wanita yang bisa diajak serius." ucap Adel.


"Apa kau sudah mendapatkan calonnya?" tanya Burhan.


"Loe ini gak sabaran banget, dengerin dulu kakak ipar ngomong tolil." tegur Rasya.


"Aku mau jodohin kamu sama Nabila, tuh orangnya di depan yang pake baju biru." ucap Adel.


Deg!

__ADS_1


Pandangan Burhan dan juga Nabila bertemu, entah mengapa jantung keduanya langsung bersahutan. Burhan menatap wajah Nabila dengan seksama, kemudian ia mengingat wajah Nabila saat berjoget diatas panggung yang ia sawer menggunakan uang berwarna merah.


'Cantik, manis, dan tidak pemalu. Fiks, gue suka cewek kayak gini' batin Burhan.


Wajah Nabila bersemu merah dan salah tingkah ditatap oleh Burhan, apalagi jantungnya yang sudah seakan inhin lompat daemri tempatnya.


"Gak usah buru-buru, kalian kenalan aja dulu terus pendekatan kalau udah klop ya dilanjut kalau enggak ya gapapa." ucap Adel.


"Aku mau Nabila jadi istriku." ucap Burhan mantap.


"APA?!" tanya semua orang terkejut berjamaah.


"Kenapa emangnya? Ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Burhan.


"Heh tolil, loe serius ngomong kayak gitu? Emangnya loe gak mau bicarain dulu sama Nabila nya? Gak nanya dia mau enggak nya?" tanya Rasya beruntun.


"Nabila kamu mau kan jadi istriku?" tanya Burhan.


Nabila bingung harus jawab apa, dia syok Burhan langsung mengajaknya untuk menikah tanpa basa basi terlebih dahulu. Nabila menatap kearah Adel, untuk urusan itu Adel tidak ikut campur karena keputusan ada ditangan Nabila sendiri jadi dia hanya mengendikkan bahunya.


"M-mau, ta-tapi tidakkah ini terlalu cepat?" tanya Nabila terbata.


"Lebih cepat lebih baik, besok aku akan mengajak kedua orangtuaku langsung melamarmu dan dalam jangka satu minggu kita menikah." ucap Burhan.


"APA?!" beo semua orang.


"Burhan jangan mengambil keputusan sembarangan, pernikahan bukanlah hal yang bisa kau permainkan. Disini kau harus memikirkannya dengan matang, bukan kau saja tapi Nabila juga harus memikirkan masa depannya mengingat ia masih muda berbeda dengan kau yang sudah menginjak kepala tiga." ucap Albert.


"Kau tahu, umurku semakin bertambah dan aku ingin memiliki pendamping hidup. Aku tidak perlu wanita sempurna karena aku hanya butuh wanita yang bisa menerima semua kekuranganku, aku bisa melihat kalau Nabila adalah wanita yang baik jadi itu sudah cukup buat ku. Terlebih lagi aku percaya pada istrimu, dia tidak mungkin mengenalkanku pada seornag wanita yang tidak jelas bukan?" ucap Burhan.

__ADS_1


__ADS_2