Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Menyusul Indah


__ADS_3

Adel mengangkat telponnya yang terus berdering, dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya lalu mengambil handphone miliknya yang menyala dan disana tertera nama Rasya, Adel langsung menggeser tombol hijaunya menempelkan telponnya ke telinga.


" Hallo."


"..."


Prannkkkk.


Telpon Adel lepas dari genggamannya, dia menutup mulutnya dan air matanya pun mengalir di pipinya.


"Mommy," gumam Adel.


Disaat Adel mengangkat telponnya yang berdering disaat itu pula Albert berdiri di ambang pintu, melihat Adel menjatuhkan telponnya Albert segera menghampiri istrinya.


"Sayang ada apa?" tanya Albert.


Deg!!


Jantung Adel seakan berhenti berdetak, dia bingung harus bagaimana sekarang.


" Eem, ti-tidak ada apa-apa." jawab Adel gugup.


"Jangan menyembunyikan apapun dariku." desak Albert.


Adel menghela nafasnya panjang, dia memegang tangan Albert kemudian menatapnya dengan lekat sekarang tidak ada jalan lain selain jujur kepada suaminya.


"Al maafkan aku jika selama ini aku tidak jujur padamu, aku melakukan semua ini demi kebaikanmu sendiri jadi aku harap kau tidak membenciku, kondisi Mommy semakin drop dan harus segera di operasi." ucap Adel berkaca-kaca.


Deg!!

__ADS_1


Albert menatap lurus kedepan, tubuhnya seakan kaku mendengar kabar ibunya dari Adel. Sesaat pikirannya kosong namun dia langsung tersadar saat Satria mengetuk pintu kamarnya, Albert langsung membuka pintunya beruntung Satria masih ada di mansion jadi Albert tidak perlu menelponnya.


"Tuan.." ucap Satria.


"Siapkan helikopter sekarang juga." titah Albert.


"Laksanakan tuan." ucap Satria.


Satria langsung turun ke lantai bawah kemudian ia mulai sibuk dengan telponnya, Albert mengambil hp nya tanpa memerdulikan Adel yang terus mengikutinya.


"Burhan tolong kirimkan nomor profesor Julius sekarang juga!." ucap Albert.


Tutt..


"Al kau mau pergi?" tanya Adel.


Albert sibuk dengan hp di genggamannya, dia mengotak-atik hp nya menghubungi beberapa orang yang mungkin bisa membantunya.


Handphone Adel berbunyi, dia langsung mengangkat telponnya yang tertera nama Satria.


" Nona tolong berikan hp nya pada tuan muda." ucap Satria.


" baik." ucap Adel.


Adel menyodorkan hp miliknya pada Albert, tetapi Albert tidak segera mengambilnya karena masih sibuk menelpon dengan seseorang.


"Al ini Satria mau bicara sama kamu." ucap Adel saat Al selesai menelpon.


Albert mengambil handphone milik Adel, dia menempelkan dua handphone sekaligus di telinganya.

__ADS_1


"Bagaimana Satria?" tanya Albert.


"Tuan mungkin beberapa menit lagi helikopternya akan datang, aku meminta pilotnya langsung datang ke halaman mansion." ucao Satria.


"Kerja bagus." ucap Albert.


Albert mengembalikan hp milik Adel, dia menyugar rambutnya dengan kasar pikirannya berkecamuk tetapi Albert tetap harus mengontrol dirinya. Adel diam tanpa bersuara, dia tak berani bertanya ataupun mengajak suaminya untuk bicara karena dia tau Albert sedang mencemaskan ibunya.


Albert berjalan ke walk in closet mengambil koper lalu memasukkan pakaian ke dalam koper tersebut, Selesai memasukkan pakaian Albert menyeret kopernya keluar.


"Al." panggil Adel.


"Apa?" tanya Albert.


"Tidak ada, jika kau ingin pergi berhati-hatilah sampaikan salamku pada mommy." ucap Adel.


Feeling Adel mengatakan kalau Albert pasti akan pergi menyusul ibunya ke negara A, untuk itu dia hanya bisa berpesan kepada suaminya.


"Kau pikir aku akan pergi sendiri?" ucap Albert.


"maksudnya?" tanya Adel.


"Tentu saja denganmu." ucap Albert.


"Denganku?" tunjuk Adel pada dirinya sendiri.


"Kau tidak marah atau kecewa padaku?" tanya Adel.


"Tidak usah dibahas sekarang, sekarang kita pergi sebelum terlambat." ucap Albert.

__ADS_1


Adel menganggukkan kepalanya, dia mengambil tas dan juga obat serta perban untuk luka di tangannya.


__ADS_2