Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
hilang nafsu makan


__ADS_3

"hihi.. Bercanda kakanda," goda Adel lengkap dengan mata genitnya.


Adel memindahkan Albert ke kursi roda, dia mendorong kursi roda menuju lift untuk turun ke bawah.


" tunggu disini, aku akan mangambil sarapan untukmu." ucap Adel.


"hemm" jawab Albert.


Adel menata menu sarapan diatas meja makan, tak lupa dia juga membuat ramuan ajaib untuk kaki Albert.


"huekk.. Kau membuat ramuan lagi?" tanya Albert menutup mulutnya.


"tentu saja Al, kan ramuannya harus diminum setiap hari bukan?" jawab Adel.


Albert menghela nafasnya pasrah, sungguh ujian yang sangat berat baginya harus meminum ramuan yang baunya sangat tidak enak.


"setidaknya jauhkan dulu ramuannya, bisa hilang nafsu makanku jika mencium terus baunya." ucap Albert.


Adel menjauhkan ramuannya dan juga menutup gelasnya, Albert sarapan bersama Adel beruntung masakan Adel selalu membuat nafsu makannya meningkat, meskipun harus hilang selera makan sejenak.


"Cindy kok belum turun juga ya?" tanya Adel mencari sosok adik ipar sekaligus sahabatnya.

__ADS_1


"dia memang selalu bangun siang, jadi biarkan saja nanti juga kalo mau makan ada bibi yang akan memasak makanan untuknya." ucap Albert.


"kau ini jadi kakak gimana sih? aku nyari Cindy hanya ingin memastikan kalau dia tidak sakit, soalnya dari semalam dia tidak keluar dari kamarnya." ucap Adel.


"hmm" ucap Albert.


Kriing..kring...


Suara telpon Albert berdering, di layar hp tertera nama Satria dengan gerakan cepat Albert menggeser telponnya.


"apa?" tanya Albert.


Albert membulatkan matanya, tangannya mengepal dengan kuat rahangnya pun mengeras. Adel hampir tersedak melihat wajah menyeramkan Albert, dia tidak tau apa yang sedang Satria bicarakan lewat sambungan telponnya.


"kita harus segera pergi ke kantor!." tegas Albert.


"baiklah, tunggu sebentar aku akan mengambil tas dan ramuan sakti milikmu." ucap Adel.


Adel menyuapkan satu sendok makanan terakhirnya, dia buru-buru naik ke atas mengambil barang yang di butuhkan.


"awas saja kalian, berani kalian bermain di belakangku aku pastikan kalian akan menyesal seumur hidupmu!!" geram Albert.

__ADS_1


Adel bergegas turun ke bawah, dia mendorong kursi roda Albert keluar dari mansion dan masuk ke dalam mobil. Adel tak berani mengeluarkan suara melihat ekspresi wajah Albert yang menakutkan, dia hanya memegang tangan Albert agar suaminya itu tetap tenang.


"tambah lagi kecepatannya." titah Albert kepada supir di yang mengemudikan mobilnya.


"jangan dengarkan Al paman, tetap jalankan dengan kecepatan sedang agar kita tetap selamat sampai tujuan." tegas Adel.


Albert menatap Adel dengan tatapan yang tak bisa diartikan, bukannya takut Adel malah menatap tajam balik ke arah Albert.


"aku tidak suka dibantah!" tekan Albert.


"tapi aku tidak suka kau seenaknya, aku tau kau sedang marah tapi kau harus kendalikan emosimu jangan sampai penyakitmu kembali menguasai tubuhmu!" sentak Adel.


"aku tidak peduli!" tegas Albert.


"dasar kepala batu." kesal Adel.


"tambah kecepatannya." titah Albert dengan meninggikan suaranya.


"jangan!! Jika paman menambah kecepatannya, maka aku akan mencekikmu dari belakang." ancam Adel dengan tatapan seriusnya menatap supir di depannya.


Supir yang mengemudikan mobil merasa serba salah, kedua majikannya sama-sama menyeramkan dan tidak ada yang mau mengalah tapi jika dia pikir-pikir kembali ucapan Adel ada benarnya, jadi selain dia tidak ingin mati konyol supir menuruti perintah Adel meskipun Albert melayangkan tatapan membunuh kepadanya.

__ADS_1


'Dasar keras kepala, aku tidak akan membiarkan kau mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu' batin Adel.


__ADS_2