Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Wanita langka


__ADS_3

"Berikan nomor telponmu agar aku mudah menghubungimu" ucap Edgar.


Albert meminta ponsel Edgar, dia menuliskan nomor teleponnya setelah selesai dia pun mengembalikan ponselnya kepada Edgar.


"Maaf aku tidak bisa berlama-lama karena istriku sudah menungguku." ucap Albert.


"Kau sudah menikah? Aku kira kau menikah dengan Elina." cibir Edgar.


"Bukankah kau yang menginginkannya?" sindir Albert.


"Sudahlah, dia cuman sebuah mawar busuk yang kita perebutkan dulu." ucap Edgar.


"Aiihh, malas sekali aku membahasnya." ucap Albert.


Albert bangkit dari duduknya, dia berpamitan kepada Edgar dan Leo karena malam pun semakin larut dia takut Adel bosan menunggunya karena terlalu lama.


Di dalam mobil Adel memanyunkan bibirnya saat melihat Albert keluar dari gedung tempat acara berlangsung, Albert sudah menduga kalau istrinya akan cemberut.


"Kok cemberut gitu mukanya?" tanya Albert.


"Laper, pengen jajan." rengek Adel.

__ADS_1


"Mau jajan apa?" tanya Albert sambil membuka pintu mobilnya kemudian masuk dan duduk di samping Adel.


"Seblak dong." ucap Adel sumringah.


"Jam segini mana ada warung seblak yang buka sayang." ucap Albert.


"Beli aja bahan-bahannya ke supermarket 24 jam." ucap Adel.


"oke, Satria kau dengar bukan apa yang istriku mau?" ucap Albert.


"Baik tuan." ucap Satria.


Satria melajukan mobilnya ke arah supermarket sesuai permintaan Adel, di sepanjang jalan Albert menatap lurus ke arah depan, di dalam benaknya banyak sekali pertanyaan yang memenuhi otaknya. Adel mengibaskan tangannya di depan wajah Albert namun Albert sama sekali tak merespon, karena terus diam akhirnya Adel mengejutkan Albert dengan menggoyangkan tubuhnya sambil berbicara keras tepat di telinga Albert.


Albert terkejut ia refleks memegang dadanya, Rasya melihat ke arah belakang sedangkan Satria hanya melihat dari depan kaca mobil mereka sama-sama terkejutnya.


"Woyy, berisik ngagetin aja nihh cewek satu." protes Rasya.


"Ini nih suamiku satu-satunya daritadi ngelamun aja, ngebayangin cewek bohay yah?" tuduh Adel.


"Mana ada aku ngebayangin yang begituan, ngarang deh kamu dinda." ucap Albert tak terima.

__ADS_1


"Terus kenapa ngelamun?" tanya Adel.


"Kamu ini kepo sekali, nanti aku kasih tau di rumah aja ya." ucap Albert sambil berbisik.


"Oke!" ucap Adel mengacungkan jempolnya.


Satria dan Rasya kembali fokus melihat kearah depan, sedangkan Adel bergelayut manja di bahu suaminya.


"Kakanda, tadi emangnya siapa? apa kakanda mengenalnya?" tanya Adel dengan suara pelan.


"Yang terus menatap kearah kita tadi namanya Edgar, dia junior ku saat aku masih kuliah, dia seumuran Satria kita pernah terlibat cinta segitiga saat itu dia baru masuk ke universitas sedangkan aku tinggal menunggu kelulusan." ucap Albert jujur.


"Kok bisa?" tanya Adel.


"Iya bisa saja, dulu aku menembak seorang wanita dan sialnya ternyata wanita itu sudah menjalin hubungan dengan Edgar, bodohnya aku malah memperebutkan wanita itu." ucap Albert.


"Memangnya dia cantik atau gimana sampai di perebutkan begitu?" tanya Adel.


"Selain cantik dia juga bisa membuat kita nyaman, dia bisa membawa warna ke dalam kehidupan kita maka dari itu kita memperebutkannya." jawab Albert.


"Ohh." ucap Adel ber oh ria.

__ADS_1


"Tapi sekarang aku mendapatkan bidadari yang satu paket lengkap, wanita langka yang saat ini menjadi istriku." ucap Albert menarik hidung Adel dengan gemas.


Adel tersenyum malu dibuatnya, rasa cintanya kepada Albert semakin membesar karena setiap harinya Adel diperlakukan dengan baik mau itu oleh Albert sendiri ataupun anggota keluarga lainnya.


__ADS_2