Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
kebelet


__ADS_3

Adel mendengarkan Albert dengan serius, dia jadi penasaran seperti apa sosok kakek yang di ceritakan oleh Albert.


"tapi kenapa saat bersamaku kau berisik?" tanya Adel.


"entahlah, rasanya aku pernah melihatmu sebelumnya tapi aku tidak tau dimana." ucap Albert.


"dunia ini luas, wajar saja kalau kau pernah melihatku presiden saja pernah bertemu denganku." ucap Adel sambil menopang dagunya.


"kau pikir dirimu orang penting gitu?" cibir Albert.


"jangan salah, gini-gini aku pernah memenangkan juara silat tingkat nasional tauk wajar aja kalo presiden bertemu denganku." ucap Adel dengan bangga.


Albert berdecih, dia sama sekali tidak percaya kalau Adel pernah memenangkan kejuaraan tingkat nasional saat sekolah dulu, Al bisa saja percaya tapi jika berbicara dengan Adel harus bisa membedakan mana membual dan mana serius dan untuk saat ini Al belum bisa menilainya sendiri.


"kalo gak percaya tanya aja sama Cindy, udah ahh ayo tidur jangan begadang mulu gak baik buat kesehatan, besok kan mau terapi istirahat yang cukup biar fresh pa boss." ucap Adel menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.


'biar gak gila beneran, hihi' tambah Adel dalam hatinya.


'Adel, sejak kau hadir hatiku merasa lebih tenang, pikiranku pun jauh lebih baik aku tak tau apa aku sudah jatuh hati padamu atau hanya ketertarikan semata karena sikap konyolmu, Entahlah rasanya aku tak ingin jauh darimu dunia ini lebih berwarna di banding sebelumnya, terimakasih telah hadir di hidupku yang sunyi ini. Aku berjanji, suatu saat aku akan membuatmu bahagia, tak akan ku lepaskan dirimu walaupun hanya sebentar, kau milikku dan tak boleh ada yang memilikimu selain diriku.' batin Albert.


Perlahan Albert menutup matanya, dengkuran halus terdengar dari mulut Albert. Adel membuka selimut yang membungkus tubuhnya, dia melihat ke arah samping memastikan Albert benar-benar tidur, Adel membalikkan posisinya membelakangi Albert dia tak bisa memejamkan matanya karena teringat dengan indah.


'bagaimana keadaan mommy sekarang ya? Apa dia sudah sehat? Kalau aku menelponnya bisa-bisa Al curiga lagi.' batin Adel.

__ADS_1


Adel mulai bisa menutup matanya saat jam menunjukkqn pukul 2 dini hari, pada kenyataannya Albert selalu menanyakan Indah dan juga Rasya yang tidak bisa di hubungi, beruntung Adel bisa memberikan alasan kepada Albert jikalau Indah dan Rasya pergi ke pelosok yang susah untuk mendapatkan signal, Albert percaya kepada ucapan Adel jadi dia tak bertanya-tanya lagi.


pagi hari.


Cahaya matahari mulai menembus masuk melewati celah tirai yang menutupi kamar Albert, Adel membuka matanya karena silau dengan cahaya matahari yang menerangi wajahnya, dia melihat jam di atas nakas lalu menggeliatkan tubuhnya.


"hooaamm.. Ini rambut udah kayak gembel aja." ucal Adel menguap dan melihat rambutnya.


"Al bangun sudah pagi" ucap Adel menggoyangkan tubuh Al.


Albert enggan membuka matanya, Adel tetap menggoyangkan tubuh Al agar bangun dari tidurnya.


"5 menit lagi." ucap Albert masih menutup matanya.


"ishh.. Berisik." protes Albert.


"ALBERT BANGUNNN!!!!!!" teriak Adel.


Albert langsung membuka matanya, dia menggosok-gosok telinganya yang sakit akibat mendengar teriakan Adel.


"apaan sih pagi-pagi udah ribut aja." sewot Albert.


"bangun ih udah siang, kamu mandi dulu gih biar aku bantu." titah Adel.

__ADS_1


"kamu duluan Aja, nanti aku mandi kalo kamu dah beres." ucap Albert.


"yaudah, kamu duduk dulu di kursi roda biar nanti kalo aku udah beres kamu tinggal masuk." ucap Adel.


"Hemm" jawab Albert singkat


Adel mengangkat tubuh Albert dan mendudukannya di atas kursi, setelah itu Adel membereskan kasur dan juga merapikan selimut. Selesai merapikan semuanya, Adel mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Adel menyalakan musik dengan volume yang tinggi, dia mandi sambil berjoget di bawah guyuran shower. Diluar Albert sudah bergerak tidak nyaman, dia mendorong kursi rodanya ke depan pintu kamar mandi rasanya sudah di ujung tanduk dia menahan rasa ingin buang air kecilnya, Albert menggedor pintu tapi Adel sama sekali tak membuka pintu kamar mandinya.


Dugdug..dug..dug..


"del buka pintunya, aku sudah tidak tahan." teriak Albert di balik pintu.


"billaaaa.. Ingin melilhat ikaannnn... Di dalam kolamm tupang tingting josss, tak..tak tak.. Hobaahhh, aseekk.. Asekk.. " Adel bernyanyi dengan hebohnya.


"ADELLL.. BUKA PINTUNYA.." pekik Albert.


Karena tidak ada jawaban dari dalam, Albert mendorong kursinya ia mencari kunci cadangan di dalam lacinya.


"dapat." ucap Albert mendapatkan apa yang dia cari.


Al kembali mendorong kursi rodanya lalu ia memasukkan kunci pintunya sampai terdengar bunyi ceklek, pintu terbuka dan alangkah terkejutnya Al melihat pemandangan langka, Adel merasa ada yang memperhatikannya seketika ia berteriak menutupi aset berharga miliknya.

__ADS_1


"aaarrrgghhh..." teriak Adel.


__ADS_2