
"makanya kak, jangan negatif thinking dulu jadi malu sendiri bukan?" cibir Cindy.
Albert tak menanggapi cibiran Cindy, dia memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela. Di samping Cindy Satria menghela nafasnya lega, dia memikirkan hal yang sama dengan Albert namun dia tak berani mengungkapkannya.
'Alhamdulillah ternyata bukan suka sama cowok' batin Satria.
"Cin kita beli seblak dulu yuk sebelum pulang ke rumah." ajak Adel pada Cindy.
"ayo." jawab Cindy antusias.
"Al bolehkan kita jajan dulu sebentar?" tanya Adel meminta izin kepada suaminya.
"hmmm" jawab Albert.
Adel senang bukan main, dia bertos ria dengan Cindy. Albert tak menyangka kebahagiaan Adel begitu sederhana hanya dengan jajan seblak dan juga boba sudah beres urusannya, berbeda dengan mantan kekasihnya yang super duper matre minta di belikan ini dan itu mulai dari tas mahal, jam, sepatu dan lain sebagainya.
"Satria nanti mampir dulu ke warung bu Karmila yang ada di deket gang sebelum ke rumah ibu." ucap Adel.
"baik nona." ucap Satria.
Adel menelan air liurnya beberapa kali, dia membayangkan cita rasa seblak varian baru yang sudah di lihatnya di postingan whatsap bu Karmila.
__ADS_1
Mobil yang di tumpangi Adel sudah sampai di depan warung bu Karmila, Adel tak sabar ingin turun dari mobil dia mendesak Satria untuk kembuka kunci pintunya.
" Satria buruan buka," teriak Adel dari belakang.
"Astagfirullah saking pengennya makan seblak sampe segitunya, emang apa enaknya sih." gerutu Satria dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh telinga tajam Albert.
Cindy dan Adel langsung berburu seblak, sedangkan Albert menunggu di dalam mobil bersama orang tua Adel. Satria di tugaskan untuk turun mendampingi Adel dan Cindy lebih tepatnya mengurus pembayaran seblak, Adel memesan seblak spesial untuknya dan juga Albert, dia ingin suaminya juga mencobanya.
Tak.. Tak.. Tak..
"bu Karmila... Oohhhh Karmila.. Kemarilahh.. Hooo... Pesan seblak.." Adel menabuh meja sambil menyanyikan lagu dangdut.
"loe masih aja nyanyi lagu buata bu Karmila, kirain gue loe udah lupa." ucap Cindy.
" udah kebiasaan gue," ucap Adel.
bu Karmila memberikan catatan menu baru kepada Adel dan juga Cindy.
"kemana aja del? Kok baru datang lagi, kemana aja?" tanya bu Karmila.
"ya adalah bu gak kemana-mana, cuman sekarang mah lagi sibuk." jawab Adel.
__ADS_1
"kamu Cindy bukan?" tanya bu Karmila menunjuk ke arah Cindy.
"iya bu ini Cindy yang suka traktir Adel sama para konco-konco jajan di sini." jawab Cindy.
"oalah, makin cantik aja ya sekarang, lama gak ketemu jadi pangling lihatnya." ucap bu Karmila.
sejak masa sekolah dulu, Adel dan empat sahabatnya yang lain sangat sering jajan di warung seblak bu Karmila dan Cindy yang selalu mentraktir para sahabatnya karena hanya dia seorang yang berasal dari keluarga kaya, sedangkan yang lainnya berasal dari keluarga sederhana.
"bu mau di bungkus aja, seblak ceker spesial pedesnya udah tau kali ya, yang original satu sama yang pedesnya sedang satu." ucap Adel.
"minumannya?" tanya bu Karmila.
"boba cokelat aja empat." ucap Adel.
"aku mau seblak kwetiaw campur kerupuk yang lainnya, sama baso terus minumnya boba taro." ucap Cindy.
"yayang mau seblak gak?" tanya Cindy kepada Satria.
"tidak perlu nona, saya tidak pernah makan seblak." ucap Satria.
Cindy memesankan menu yang sama untuk Satria, karena Satria belum pernah mencobanya maka Cindy mewajibkan Satria untuk memakannya, Satria menolak namun Adel memaksanya. Akhirnya Satria Pasrah jika ibu negara sudah memerintah, dari kejauhan Albert terus memantau Adel dan adiknya.
__ADS_1