
Sonia mengetuk pintu rumah seseorang, rumah yang lumayan besar namun sepi penghuninya. Dia dan juga ibunya menunggu diluar, tak berapa lama seseorang datang membukakan pintu untuknya.
Ceklek.
"Sonia." panggilnya.
Sonia membalikkan badannya, dia langsung memeluk orang yang memanggilnya.
" Ada apa?" tanyanya.
" Kevin Albert menyita semua hartaku, aku tidak tau harus kemana lagi kalau bukan datang padamu kasihan ibuku dia sudah tua sekarang aku dan ibuku tidak punya tempat tinggal." ucap Sonia memasang wajah sedihnya.
"Kau pikir rumahku penampungan apa?" tanya pria bernama Kevin.
"hanya benerapa hari saja setelah aku mengumpulkan banyak uang aku akan pergi dari sini dan membayar semua biaya hidupku dan ibuku selama tinggal bersamamu aku mohon." ucap Sonia mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
Karena tak tega Kevin pun mengizinkan Sonia untuk tinggal dirumahnya, Sonia dan ibunya sangat bahagia karena masih bisa tinggal di rumah yang layak.
"Baiklah tapi aku hanya memberikanmu waktu satu minggu setelah itu kau harus pergi dari sini." ucap Kevin.
"Tidak apa-apa, terimakasih telah mengizinkanku tinggal disini." ucap Sonia.
Kevin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sonia dan ibunya menyeret kopernya masuk ke dalam rumah Kevin, di rumah yang lumayan besar Kevin tinggal sendirian orangtuanya berada di luar negeri. Kevin adalah mantan kekasih Sonia yang pernah dibuat babak belur oleh Adel sewaktu di bandara, orangtuanya mengetahui kejadian tersebut sampai hampir bangkrut karena perusahaan milik kedua orangtuanya adalah perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan milik Wiguna yang di pimpin oleh Rasya, Sejak saat itu juga Kevin memutuskan untuk putus dengan Sonia.
Di rumah sakit waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Adel merasa bosan terus berdiam diri di rumah sakit tetapi apalah daya saat dia meminta pulang Albert marah-marah kepadanya.
" Semua orang yang di rawat di rumah sakit ini juga bosan, bukan hanya kau saja." ucap Albert datar.
" Tapi Al aku ingin pulang saja." tambah Adel.
"Berisik, diam jangan banyak bicara setelah dokter mengizinkanmu pulang maka saat itu juga aku akan membawamu pulang." Ucap Albert.
__ADS_1
Adel menghela nafasnya kasar, dia menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil. Yusuf dan Fatimah sudah kembali tiba di rumah sakit, ibunya Adel menenteng rantang berisi makanan yang di inginkan Adel.
"Adel ini makanan yang kamu mau sudah datang, sekalian makan ajak suamimu juga makan ya." ucap Fatimah.
"Wooaahh.. Wangi banget bu." ucap Adel berbinar bahagia.
"Nak Al, makanlah jangan sungkan." ucap Yusuf.
" Baik ayah." ucap Albert.
Fatimah membuka rantang yang di bawanya, isinya ada nasi, cah kangkung, sambel terasi sesuai yang Adel minta di tambah ikan lele goreng dan yang terakhir tahu. Albert melihat menu sederhana hasil masakan Fatimah, dia pun tergiur apalagi mencium wangi masakannya membuat perutnya menggonggong minta di isi.
"Biar aku suapi, tanganmu sedang sakit." ucap Albert.
"Uhh so sweetnya kakandaku." puji Adel.
__ADS_1
Albert mengambil piring dan juga menyendokkan nasi beserta lauk yang Adel inginkan, dia menyuapi Adel dengan penuh perhatian. Adel makan dengan lahapnya, Albert senang melihat istrinya yang tak pernah menunjukkan rasa sakitnya kepada orang lain, Adel selalu berusaha kuat meskipun di dalam hatinya ingin berteriak menjelaskan kepada dunia kalau dia terluka tetapi dia tak pernah melakukannya itulah yang membuat Albert salut kepada istrinya itu.