Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Dua biangkerok


__ADS_3

Di meja makan semua orang tidak langsung memulai sarapan sebelum semuanya terkumpul, Satria bangkit dari duduknya menyusul kedua kakaknya yang masih betah dikamarnya.


Tok..Tok..Tokk.


"Kak Edgar, Rasya, bangun.." penggil Satria dari luar.


Edgar dan Rasya bukannya bangun keduanya malah saling mengeratkan pelukannya, mereka tidur diatas kasur yang sama. Karena tak ada jawaban Satria mencoba membuka pintu kamar Rasya yang ternyata tidak dikunci, dia masuk kedalam kamar dilihatnya kakak ipar dan kakak kandungnya masih bergelung dalam selimut.


"Kakak bangun." ucap Satria menggoyangkan tubuh Edgar.


"Kak." Satria terus berusaha membangunkan keduanya.


Usaha Satria tetap tidak membuahkan hasil, dia berulang kali menggoyangkan tubuh keduanya dan juga menarik selimutnya namun mereka masih tidak mau bangun. Adel heran karena Satria tidak kunjung kembali dari kamar Rasya padahal Satria pergi sebelum dia mandi, sekarang Adel sudah selesai mandi pun dua biangkerok tetap tidak keluar dari kamar.


"Ini mah harus gue yang turun tangan." gumam Adel.


Adel melangkahkan kakinya ke kamar Rasya, dia mengambil panci dan juga spatula. Tiba dikamar Rasya Adel melihat Satria mengoyangkan tubuh keduanya, ia meminta Satria menyingkir kebelakangnya.

__ADS_1


KKLOOONNTTRRAAAANNGG..


BAKKK...BAKK..BAKK..


"BANGUUUUUUNNNN." teriak Adel memggelegar.


"POLISI SYA POLIISSSIII.." teriak Edgar.


"TIAAARAAAPPPP.." teriak Rasya.


Edgar dan Rasya dengan setengah nyawanya yang belum terkumpul bergegas bangun, Adel berkacak pinggang tepat dihadapan keduanya.


Samar-samar Rasya melihat Adel yang sedang berkacak pinggang, dia mengucek matanya menajamkan penglihatannya dan benar saja Adel sedang berdiri tepat dihadapannya. Rasya menyenggol lengan Edgar agar ia membuka matanya, dia berbisik di telinga Edgar yang kemudian langsung melotot.


"Bangun! Katanya mau nemenin ke mall gimana sih? Bukannya bangun lebih pagi malah masih tidur aja." omel Adel.


"Sorry madam, habisnya kita gadang semalam." ucap Edgar.

__ADS_1


"Emangnya siapa yang nyuruh kalian gadang hah?" tanya Adel.


"Edgar lagi sedih, jadi..emmm." ucap Rasya tidak melanjutkan ucapannya.


Edgar membekap mulut Rasya yang hampir saja keceplosan, Adel memicingkan matanya menatap kearah Edgar dia bisa melihat ada sesuagu yang disembunyikan olehnya.


"Edgar kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Adel memicingkan matanya.


"Eng-enggak kok madam." ucap Edgar gugup.


"Edgae kau tahu, aku paling tidak suka kalau kau menhembunyikan sesuatu atau berbohong padaku, jika memang kau punya masalah jangan sungkan bilang padaku atau pada yang lainnya, ingat! Kita keluarga disini." ucap Adel bijak.


"Kakak, aku juga adikmu dimana kita bisa berbagi masalah dan berbagi solusi satu sama lain, jangan kau menumpuk masalah dipundakmu sendirian walau bagaimanapun kita itu terlahir kembar meskipun rupa kita berbeda tetapi aku bisa merasakan kalau kau menyembunyikan sesuatu dari kami semua." ucap Satria.


Edgar cukup tersentuh mendengar ucapan Adel dan juga Satria, tanpa disadari matanya mulai memanas. Rasya menganggukkan kepalanya tetapi Edgar membalas dengan gelengan kepala, dia belum siap memberitahukan masalahnya pada orang lain.


"Kita tidak akan memaksamu untuk memberitahukan apa masalahmu, jadi kapanpun kau siap kita akan selalu stay mendengarkanmu dan mendukung apapun keputusanmu." ucap Adel.

__ADS_1


Satria menepuk pundak kakaknya, dia tersenyum kearah Edgar kemudian mengajak kakaknya keluar dari kamar Rasya untuk ikut bergabung dengan yang lainnya. Indah langsung berdiri menyiapkan nasi untuk anak-anaknya, dia sangat senang bila hari weekend tiba karena mansion pasti ramai dengan celotehan orang-orang didalamnya.


__ADS_2