
BRAAKKK.
"EDGAR!!" teriak Clarissa.
Edgar tersenyum menyeringai menyambut kedatangan Clarissa, dia melipat kedua tangannya diatas dada kemudian mengangkat kakinya keatas meja.
"Beginikah caramu menyambut ibumu EDGAR GIOMANI CHRISTIAN!" tekan Clarissa.
"Apa aku tidak salah dengar? Ibu? Siapa bilang kau ibuku?" tanya Edgar dengan nada mengejek.
"Apa maksudmu? Kau pikir siapa yang merawatmu dan membesarkanmu sampai kau sukses seperti sekarang ini hah?!" sentak Clarissa.
"Ohh..hohoho... Prok..prok.. Wow acting yang sangat bagus nyonya." ucap Edgar sambil bertepuk tangan.
Edgar menurunkan kakinya lalu bangkit dari duduknya, dia berjalan menghampiri Clarissa.
"Kau bilang ibuku? Hahahaha.. Kau bahkan tidak pernah mengandung selama kau sah menjadi istri daddy ku, tidak lain tidak bukan ibuku adalah ibu Nadia, seorang wanita malang yang kau hancurkan kebahagiaannya." ucap Edgar dengan tawa yang menggelegar.
Clarissa tertegun mendengar kata Nadia yang disebut oleh Edgar, dia takut setengah mati jika memang Edgar sudah mengetahui kebenaran yang sesunguhnya.
__ADS_1
"Nadia siapa yang kau maksud?" tanya Clarissa dengan tatapan menyidik.
"Nadia yang kau hancurkan masa depannya, dan kau juga yang memisahkan aku dari adik kandungku, kau terkejut bukan?!" berang Edgar.
Deg!!
"Da-darimana kau tahu semua itu?" tanya Clarissa tergagap.
"Kau tidak perlu tahu, yang jelas aku sudah mengetahui kebenaran yang sebenarnya terjadi." ucap Edgar.
"Ti-tidak mungkin." ucap Clarissa tak percaya.
Clarissa langsung pergi meninggalkan ruangan Edgar, dia berjalan tergesa sampai menabrak banyak karyawan yang berlalu-lalang dihadapannya. Clarissa menelpon seseorang di sebrang telponnya, dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata pikirannya sudah melanglang buana, rasa cemas dihatinya begitu terasa sampai tubuhnya pun gemetar.
Cekiiiittt...
Clarissa hampir saja menabrak seseorang karena tidak fokus melihat kearah jalan, dia memukul-mukul setirnya frustasi.
"Aaaargghhh... Brengsek, sialan.." teriak Clarissa di dalam mobil.
__ADS_1
Di sebuah restoran Satria dan Cindy sedang makan malam romantis, keduanya benar-benar menghabiskan waktunya hanya untuk berdua saja.
"Terima kasih." ucap Cindy secara tiba-tiba.
"Untuk apa?" tanya Satria heran.
"Terimakasih untum waktu yang sangat berharga ini, aku tidak menyangka kau akan benar- enar menepati janjimu." ucap Cindy.
"Selama ini kau selalu sabar menungguku, aku harap kau tidak akan pernah bosan menungguku sampai kapanpun, percayalah aku sedang berusaha agar kita bisa disatukan dalam sebuah ikatan janji suci dihadapan sang maha pencipta." ucap Satria dengan lembut.
Cindy terharu mendengar kata-kata Satria, mungkin penilaiannya selama ini salah, ia mengira Satria tidak pernah bersungguh-sungguh padanya namun kenyataannya dibalik diamnya dia sedang berusaha menyatukan semua rasa cintanya lewat pengirbanannya. Awalnya Cindy selalu ragu dengan sikap Satria disetiap ia mendekatinya, namun setelah mendengar apa yang diceritakan oleh ibu dan juga kakaknya akhirnya Cindy kembali memantapkan hatinya yang memang sejak awal tak pernah terpaut kepada lelaki lain selain Satria seorang.
"I LOVE YOU" ucap Satria sambil memegang tangan Cindy.
Cindy menutup mulutnya tak percaya, untuk pertama kalinya Satria mengucapkan kata cinta padanya.
"I LOVE YOU MORE" jawab Cindy debgan mata yang berkaca-kaca.
Satria bangkit dari duduknya dia merentangkan tangannya kepada Cindy, dengan mata yang masih menahan air mata Cindy bangkit kemudian masuk kedalam dekapan Satria. Cindy menumpahkan air matanya di baju Satria, dia tak menyangka perjuangannya kini berbuah manis, Satria memeluk erat Cindy sambil mengecup kepalanya tanpa Cindy sadari Satria pun ikut meneteskan air matanya.
__ADS_1
'Kau adalah alasan aku untuk tetap kuat melanjutkan hidupku' batin Satria.
'Astagfiruah, saking mengahayatinya gue sampe lupa tugas dari kakak' batin Cindy.