Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Adel Siuman


__ADS_3

Kini Adel sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP atas perintah dari Albert, Fatimah dan Yusuf berdiri di samping Adel begitupun dengan Albert.


"Anak ayah cepat sadar ya nak, ayah tau kamu itu kuat." ucap Yusuf lembut.


"Nak ini ibu, udah lama kita gak ketemu ya cepat sadar nanti kalo kamu udah sembuh kita masak makanan enak kumpul bareng lagi." ucap Fatimah.


Hati orangtua mana yang tak sakit melihat anaknya terbaring lemah diatas hospital Bed dengan selang di hidung serta jarum infus yang di tancapkan di tangannya, Adel masih betah menutup matanya mungkin karena obat bius serta tubuhnya masih membutuhkan beberapa waktu untuk sadar.


Suara Adzan berkumandang, Fatimah dan Yusuf berpamitan untuk menunaikan sholat kepada Albert sedangkan Albert sendiri dia akan menjaga Adel.


"Nak Al ayah sama ibu mau sholat dulu." ucap Yusuf.


"Iya silahkan yah, biar Al yang jagain Adel nanti kita gantian aja sholatnya." ucap Albert


Yusuf dan Fatimah keluar dari ruangan rawat Adel. Saat kedua mertuanya sudah keluar Albert kembali memandangi wajah Adel yang pucat, dia memegang tangan istrinya seorang istri yang selalu menjadi garda terdepan untuknya, seorang istri yang rela mengorbankan nyawanya, seorang istri yang tidak memandang fisik suaminya namun satu hal yang tak pernah Albert ungkapkan kepada Adel yakni tentang perasaannya yang entah apa isi dan deskripsinya.


" Hanya ucapan terimakasih yang akan selalu aku katakan dan aku ingat kepadamu, kau adalah harta terindah di kala duniawi tak bisa membuatku bangkit." ucap Albert membelai wajah Adel.


Tok..Tok..Tok..


"Masuk." sahut Albert dari dalam.


Suara ketukan pintu membuat Albert berhenti melakukan aktifitas membelai wajah Adel. Setelah mendapat jawaban dari Albert Satria datang menghampirinya.


"Maaf jika saya mengganggu tuan, ada yang ingin saya bicarakan dengan tuan saat ini juga." ucap Satria.

__ADS_1


"Ikut aku." ucap Albert bangkit dari duduknya.


Albert berjalan menuju sofa yang berada agak jauh dari tempat Adel, Satria mengikuti kemana Albert pergi.


"duduk." ucap Albert.


Satria duduk di sofa, ia mengeluarkan laptop magnetik miliknya.


"Tuan saya mendapat laporan bahwa istri dari tuan Lucas menjual sahamnya dengan harga yang cenderung murah, apakah tuan berniat membelinya?" tanya Satria.


"Untuk itu kau pasti sudah tau apa yang harus kau lakukan, tapi disini aku ingin membahas sesuatu denganmu." ucap Albert serius.


"Katakan saja tuan muda." ucao Satria.


"Edgar Giomani? Bukankah dia?" tanya Satria.


"Iya, aku ingin kau secepatnya menyelidiki kedua orang itu." ucap Albert


" Baik tuan." ucap Satria.


"Aku ingin kau juga sita semua aset yang di miliki oleh keluarga Lucas termasuk Sonia, berikan semua buktinya kepada pihak kepolisian." ucap Albert.


"Baik Tuan." ucap Satria.


Adel bangun mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya di sekitarnya, dia melenguh kecil tenggorokannya terasa kering. Albert mendengar suara Adel dia langsung bangkit dari duduknya menghampiri Adel lalu memeluknya, Adel mencoba bangun tetapi Albert melarangnya.

__ADS_1


"Jangan banyak bergerak dulu, kalau butuh sesuatu katakan saja." ucap Albert.


"Aku mau minum." ucap Adel.


Albert mengambilkan segelas air untuk Adel, dia juga membantu memposisikan tubuh Adel setengah duduk.


Gluk..glukk..glukk..


"Haus sekali ya?" tanya Albert.


"Iya gatau nih tenggorokan kayak kering gitu." ucap Adel.


"Istirahatlah." ucap Albert dengan senyuman manisnya.


"Al jangan senyum, lama-lama aku bisa diabetes liat senyuman kamu yang manis itu." goda Adel.


"Kau ini lagi sakit masih saja bisa bercanda." ucap Albert.


"siapa yang bercanda? Aku serius, coba kau senyum lagi." ucap Adel.


Albert menuruti kemauan Adel, dia kembali tersenyum dan senyumannya sangatlah manis menurut Adel.


"Kan.. Kan.. Manis banget dehh, jadi pengen ngunyah deh hihi." ucap Adel terkikik.


Wajah Albert langsung memerah, dia menarik hidung Adel sungguh istrinya adalah manusia langka yang pernah ia temui selama hidupnya, meskipun Adel berteman dengan Adiknya tetapi Albert sama sekali belum pernah bertemu dengannya, Adel selalu membuat hidupnya berwarna.

__ADS_1


__ADS_2