
Albert mengecup leher jenjang Adel dan membalikkan tubuh Adel berhadapan dengannya, mata Albert sudah berkabut gairah. Tanpa menunggu lama Albert langsung menyambar b**** Adel dengan lembut namun menuntut, Adel membalas c***** suaminya keduanya m******p satu sama lain, c***** semakin lama semakin panas. Albert melepaskan tautan b******* saat Adel mulai kehabisan nafas, dia menggendong tubuh Adel lalu meletakkannya ke atas kasur king size yang ditaburi kelopak bunga mawar diatasnya.
"Bolehkah aku meminta hakku sebagai suamimu?" tanya Albert.
"Hak seperti apa? Aku tidak mengerti?" tanya Adel.
"Bukankah kau ingin memberikan mommy seorang cucu? Jika memang kau ingin memberikannya maka kau harus bersedia melakukan hubungan s****** dengan suamimu agar benih yang ku taburkan tumbuh menjadi janin di dalam perutmu." ucap Albert dengan sabar.
Akhirnya Adel mengerti apa itu hak yang dimaksud oleh Albert, dengan malu-malu ia menganggukkan kepalanya. Albert mendapat lampu hijau dari Adel, ia mengambil hp miliknya dan milik Adel kemudian ia menekan tombol power off agar tidak ada yang mengganggunya. Albert naik ke atas ranjang kemudia ia kembali menyambar b**** Adel dengan penuh kelembutan, Adel mengalungkan tangannya ke leher Albert lalu memejamkan matanya. Perlahan tapi pasti Albert membuka satu persatu kancing baju yang digunakan oleh Adel sampai terlihat dua buah pepaya yang menggantung di pohonnya, air liurnya hampir menetes ternyata dibalik baju oversize yang sering Adel gunakan tersimpan pepaya besar nan menggoda. Adel meutup pepaya miliknya menggunakan kedua tangannya karena malu, Albert menatap dua gundukan pepaya Adel tanpa berkedip ia menyingkirkan kedua tangan Adel yang mengahalangi pemandangan indah miliknya.
"Sangat indah dan besar." ucap Albert.
__ADS_1
Wajah Adel memerah karena malu, Albert mengangkat dagu Adel dan memberikan kembali c***** lembut yang semakin lama semakin menuntut. Albert meraba punggung Adel mencari tali pengikat pepaya milik Adel, dia membuka pengaitnya dan melemparkan kacamata kuda Adel ke sembarang arah. Tangan Albert mulai m*****s pepaya yang menjuntai terpampang nyata di hadapannya, tanpa sadar Adel mengeluarkan suara erotis dari mulutnya.
"Emhh."
Albert semakin bergairah mendengar suara erotis yang keluar dari mulut Adel, dia membuka semua pakaiannya melemparkannya ke sembarang arah. Tubuh keduanya semakin memanas, Albert membuka kain penghalang yang menutupi goa yang sudah basah.
Albert m*******p pepaya Adel dengan lembut, sedangkan tangannya bermain di ****** yang sudah berlendir.
Tubuh Adel menggelinjang saat Albert sibuk bermain dengan ********, Albert mengasah pedangnya agar tajam saat di pakai. Mata Adel melotot sempurna melihat pedang yang sedang suaminya asah, pedang yang begitu panjang dan mempunya ukuran yang lumayan besar membuatnya meringis.
"Aku akan melakukannya dengan pelan, jika dinda merasakan sakit dinda boleh mencakar, menjambak rambutku atau menggigit pundakku."ucap Albert.
__ADS_1
Adel menganggukkan kepalanya, Albert mengarahkan pedangnya masuk ke bagian **** Adel. Adel merasakan sakit saat pedang Albert mulai menerobos masuk ke bagian *******, melihat istrinya menahan sakit Albert mengecup mata Adel kemudian ia m****** b**** Adel dengan lembut agar istrinya lebih rileks, perlahan pedang Albert sedikit demi sedikit mulai masuk dan..
Sreekkk..
"Emmhhh.. Sakit, hiks." ringis Adel.
"Tenanglah sayang, rasa sakitnya hanya sebentar nanti juga enak kok." ucap Albert.
Albert mengecup seluruh wajah Adel, dia m****** kembali b**** Adel agar ia lupa dengan rasa sakitnya, tangan Albert tak tinggal diam dia ******* kedua pepaya Adel sampai Adel meracau
karena sensasi geli yang belum pernah di rasakannya.
__ADS_1
Rasa sakit yang Adel rasakan kini menjadi sebuah kenikmatan, keduanya melakukannya sampai berjamjam lamanya dengan berbagai posisi. Ketika tenaga keduanya sudah mulai habis mereka tertidur saling memeluk satu sama lain, rasa nikmat yang mereka rasakan membuat keduanya lupa waktu.