Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Kemarahan Cindy


__ADS_3

"Pas di ruangan yang tadi mommy kayak denger ada yang ngomongin cucu deh?" ucap Indah mengalihkan pembicaraan.


"Siapa mom?" tanya Albert.


"Samar-samar sih kedengerannya seperti ada yang bilang mommy harus cepet sembuh katanya kalau mau cucu, gitu deh kalo gak salah denger sih." ucap Indah ragu.


Albert mengerutkan keningnya, seingatnya pas dia masuk ke ruangan sebelum ibunya sadar dia tidak membicarakan soal cucu. Wajah Adel memerah sembari memainkan ujung bajunya, Indah menatap wajah Adel yang terlihat malu-malu dia yakin pasti menantunya yang berbicara soal cucu.


"Adel kamu kan yang bilang mau ngasih cucu buat mommy?" tebak Indah.


Adel menganggukkan kepalanya dengan kepala menunduk, dia menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Albert berjalan mendekati istrinya, dia merangkul tubuh Adel dengan mesra.


"Benarkah itu sayang?" tanya Albert.


"Kalau benar emangnya kenapa? Kamu gak mau ngasih cucu sama mommy ya?" tanya Adel sewot.


Albert tersenyum kepada istrinya, dia menangkup wajah Adel di depan ibunya dan juga Rasya.

__ADS_1


"Siapa bilang aku gak mau? Bahkan aku ingin memiliki banyak anak darimu." ucap Albert tersenyum.


"Banyak? Emangnya berapa?" tanya Adel.


"Kalau bisa sih 20 anak." goda Albert.


"Ehh Buset, gak sekalian aja 24 biar jadi dua lusin biar dapet bonus piring cantik." cibir Adel.


"Ide bagus." ucap Albert mengacungkan jempolnya.


'dia pikir gue anak kucing kali ya?' batin Adel.


"Kalau gitu, kuyy lah kita gass bikin anak biar cepet jadi." Ucap Adel tanpa di saring.


"Astagfirullah, telingaku ternodai ya Allah gusti jauhkanlah hamba dari syaiton satu ini ya Allah." ucap Rasya memelas.


"Ihh ayang aku di katain syaiton sama Rasya," rengek Adel.

__ADS_1


"Berani kau bilang kakak iparmu dengan sebutan syaiton?!" ucap Albert lengkap dengan tatapan tajamnya pada Rasya.


"Hihi.. Enggak deng bercanda kok." ucap Rasya langsung cari aman.


Albert menjewer telinga Rasya, Adel tertawa puas melihat penderitaan adik iparnya. Indah tersenyum melihat pemandangan yang membahagiakan dimana Albert sudah kembali seperti Albert yang dia kenal, Albert yang dingin nan hangat saat bersama keluarga.


Berbeda dengan Indah dan yang lainnya dimana mereka tertawa bahagia, di mansion Cindy marah kepada Satria karena merahasiakan penyakit ibunya darinya. Cindy mengurung dirinya di dalam kamar, segala bujuk rayuan Satria tidak mempan dia terus mengetuk pintu kamar agar Cindy keluar dari kamarnya dan menjelaskan alasan mengapa dirinya merahasiakan semuanya dari Cindy.


Tok..tok..tok..


"Cindy buka pintunya, aku mohon jangan mengurung dirimu seperti ini." ucap Satria.


Bugh.


Cindy melempar guling ke arah pintu, dia sangat kesal kepada Satria selama ini dia di bohongi setiap kali menanyakan dimana ibunya berada karena setiap kali ia mencoba menghubungi ibu dan kakaknya selalu saja tidak bisa, Satria selalu bilang kalau ibunya sedang ada urusan bisnis di luar negeri tepatnya di pulau terpencil sehingga susah untuk berkomunikasi dan Cindy tentunya mempercayai semua jawaban Satria.


"PERGI, AKU BENCI SAMA KAMU!!" teriak Cindy.

__ADS_1


"Cindy, aku bisa menjelaskan semuanya disini aku hanya menjalankan perintah dari tuan Rasya dan nyonya besar, tapi jika kamu tidak mau mendengar penjelasanku tidak apa-apa aku akan pergi dari sini, tolong jaga dirimu baik-baik ." ucap Satria dengan lembut.


Satria sudah berulang kali mengetuk pintu Cindy dan terus berusaha membujuknya, tetapi Cindy tetap tidak mau membuka pintu kamarnya sampai akhirnya Satria pun menyerah.


__ADS_2