Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Menemani Satria tidur


__ADS_3

Cindy memelototkan matanya tak terima, dia menunjukkan jari tengahnya kepada Adel yang diambut dengan juluran lidah oleh Adel.


'Awas loe ya gue bikin perhitungan sama loe del, tunggu aja tanggal mainnya kakak biadab' batin Cindy.


" Jangan ngedumel dalem hati nanti gila, mana mau Satria punya kekasih gila yang ada dia nyari cewek waras diluaran sana." teriak Adel.


" AAAADDDEEELLLLLL." teriak Cindy geram.


" Hahahahha." tawa Adel pecah.


Adel sangat suka menggoda atau menjahili Cindy sedari mereka duduk di bangku sekolah, Adel yang usil dipasangkan dengan Cindy yang kesabarannya setipis tissu di belah dua.


"Berisik sekali kau ini." tegur Albert.


" Yah namanya juga gabut, biar ada hiburannya aja gitu." ucap Adel.


"Suamimu ini juga butuh hiburan, bagaimana kalau kau menghiburku di kamar saja." ucap Albert dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


" menghibur seperti apa?" tanya Adel cengo.


"seperti ini misalnya." ucap Albert.


Cupp.


Albert mengecup sekilas cherry di wajah Adel. Jangan tanya bagaimana reaksi Adel, wajahnya merah padam subgguh dia malu sekali.


"Aahhh.. Mau lagi." ucap Adel malu-malu.

__ADS_1


" Nanti di kamar ya." ucap Albert.


Adel menganggukkan kepalanya. Selepas Albert pergi Satria juga pergi meninggalkan Cindy begitu saja, sikap Satria tentu tidak di terima oleh Cindy dia segera menghalangi langkah Satria.


"STOP! Kamu mau kemana lagi?" tanya Cindy.


"Mau tidur." ucap Satria singkat.


" Yaudah aku temenin," ucap Cindy.


Satria menatap tajam wajah Cindy, dia tidak tau kenapa Cindy dengan entengnya berbicara seperti itu di rumahnya sendiri dan jika saja Albert mendengarnya maka bisa di pastikan Satria akan di panggang hidup-hidup oleh Albert.


"Astaga nona, berdosa banget non inget belum muhrim." tegur pak Ahmad.


Ternyata pak Ahmad mendengar percakapan Satria dan Cindy ketika ia tak sengaja lewat memeriksa sekeliling mansion, dia terkejut mendengar jawaban spontan nan membahayakan dari mulut Cindy.


" Apaan sih paman, kan cuman nemenin tidur gak ditidurin beneran kok sama Satrianya." ucap Cindy polos.


"Nona jaga bicaramu!" tekan Satria.


"Tapi.." ucap Cindy tak melanjutkan ucapannya.


Satria berlalu begitu saja, dia tidak mengerti jalan otak Cindy yang sudah terkontaminasi oleh hal-hal ekstrim yang menurutnya sangat berbahaya untuk keselamatan dirinya.


"Astagfirullah.. Untung tuan Al sudah pergi kalau tidak makin susah restunya." gumam Satria.


"Ayang iiihhhh." teriak Cindy.

__ADS_1


Satria terus melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan Cindy yang berteriak dan ngedumel sendiri, sedangkan pak Ahmad menjadi korban atas kekesalan Cindy.


" Gara-gara paman sih." Ucap Cindy.


"Kok jadi paman yang salahin sih?" tanya pak Ahmad heran.


"Iya tadi ngapain nongol, sok-sok'an nyeramahin segala kan Satria nya jadi pergi lagi " omel Cindy.


"Daripada non marah-marah mending kita bikin seblak aja." bujuk pak Ahmad.


"Siapa yang marah-marah sih? Yaudah ayok katanya mau bikin seblak." sewot Cindy.


" ya ayok." ajal pak Ahmad.


Dan pada akhirnya bujukan pak Ahmad berhasil, Cindy dan pak Ahmad membuat seblak ala-ala mereka berdua.


Beberapa saat kemudian aroma seblak sudah tercium baunya, Cindy menuangkan seblak buatannya ke dalam mangkuk. Pak Ahmad jadi ngeri sendiri melihat kuah merah merona yang bisa membuat perut menjerit, Cindy membawa mangkuknya kemudian dia duduk di meja makan.


" non apa gak kepedesan tuh sambelnya?" tanya pak Ahmad.


" kalo lagi galau, pusing enaknya di seblakin aja kesel banget sama Satria dia kalo udah marah lama padahal kan cuman masalah sepele." ucap Cindy mengungkapkan keluh kesah di dalam hatinya.


" Ya lelaki mana yang ridho melihat wanitanya dekat dengan pria lain, Satria lihat non deket-deket sama pria yang bernama Farida dan kelihatannya si Farida itu suka sama non." ucap Pak Ahmad.


" Ga mungkin suka, kita tuh udah biasa kumpul deketan kayak gitu dari zaman sekolah kalo gak percaya tanya aja Adel, lagian nih ya ngapain juga harus cemburu sama sahabat sediri." ucap Cindy sambil kepedesan.


" Namanya juga cinta, cemburu tak bisa melihat apa status lawan jenis yang berada di lingkungan sekitar kita, mau itu dengan sepupu, sahabat atau bahkan saudara sendiri non." ucap pak Ahmad.

__ADS_1


" au ah paman gelap, pantes aja cinta itu berjuta rasanya ternyata banyak asem, manis, pedes,gurih ahh pokoknya pusing deh kalo berurusan sama yang namanya cinta." ucap Cindy.


Pak ahmad terkekeh, dia kemudian menggelengkan kepalanya mendengar curhatan Cindy. Sedari dulu jika ada masalah apapun Cindy pasti curhat padanya, Cindy sudah menganggap pak Ahmad sebagai ayahnya sendiri jadi dia tak sungkan untuk bercerita padanya karena kakak dan juga ibunya yang selalu sibuk sangat susah untuk ia berbagi cerita.


__ADS_2