
Adel menyungginggkan senyumnya kearah Burhan, dia mengacungkan dua jempolnya atas sikap Burhan yang terbilang gentlemen.
"Gue suka gaya loe Burhanudin 😎, mau gue anter ke rumahnya Nabila kapan? Gaskeun gue orang pertama yang dukung loe." ucap Adek antusias.
"Tapi gimana ini? Orangtuaku pasti kaget dan belum ada persiakan apapun." ucap Nabila.
"Kau hanya perlu mempersiapkak dirimu, lagipula uangku sudah banyak jadi untuk apa kau mempersiapkannya? Kau tinggal duduk diam, selebihnya aku tinggal membayar orang untuk menyiapkan pesta pernikahan." ucap Burhan.
"Jiaahhh, slebbeww ini mah baru bener lakik." ucap Adel.
"Sepertinya si tolil udah ngebet banget kawin." bisik Rasya di telinga Edgar.
"Iya, pisangnya takut basi kalo lama di diemin." jawab Edgar sama-sam berbisik.
Keduanya terkekeh geli membuat semua orang beralih menatap kearah mereka berdua, Adel si manusia kepo langsung beralih tempat duduknya di sebelah kedua manusia yang sedang gibah.
"Heh kok bisik-bisik gak ngajak sih?" tegur Adel.
"Apaan sih madam, kepo aja kerjaannya heran deh." ucap Edgar.
__ADS_1
Pletak..
Adel menjitak kening Edgar membuat semua orang terkekeh, hanya Adel lah yang paling berani melakukan apapun yang dia mau pada Edgar selain dia tidak ada yang berani lagi walau hanya menatap mata Edgar saja.
"auhh, sakit madam." ringis Edgar mengusap-usap keningnya.
"Aku mendukung semua keputusanmu jika memang kau benar-benar serius dengan apa yang kau ucapkan, tetapi jika suatu saat kau menyakiti hati Nabila atau memperlakukannya dengan tidak baik maka aku dan juga istriku yang akan menjadi garda terdepan melawanmu." tegas Albert.
"Tentu saja kau bisa pegang ucapanku." ucap Burhan mantap.
Satria tiba dilantai bawah sendirian tanpa Cindy, dia melihat semua orang berkumpul di ruang keluarga dengan wajah serius.
"Ada apa ini? Apa ada rapat penting?" tanya Satria pada dirinya sendiri.
"Apa aku melewatkan sesuatu disini?" tanya Satria.
"Eh kau sudah bangun, sini duduk ada kabar gembira loh dari Burhan." ucap Indah.
Adel pindah posisi kesamping Albert, sedangkan Satria duduk di sebelah kakaknya.
__ADS_1
"Kabar apa mom?" tanya Satria.
"Burhan akan menikah dengan Nabila dalam jarak waktu satu minggu lagi." ucap Indah.
"Kok tiba-tiba? Bukannya dia itu jomblo alias tidak punya pasangan?" tanya Satria.
"Tadinya dia emang gak punya, tapi sekarang dia punya dan orang itu ada di depannya. Tadinya aku mau kenalin terus jodohin mereka berdua, eh baru dikenalin nih lakik pengen langsung gass nikah aja." seru Adel.
"Secepat itu?"Satria melongo tak percaya.
"Lagian untuk apa menunda jika memang sudah di depan mata? Kau tahu aku bukan Satria, aku hanya butuh pendamping yang setia, menerima semua kekuranganku dan mengerti akan pekerjaanku itu saja. Aku yakin Nabila pasti menerima semua itu bukan? Benar kan Nabila sayang?" ucap Burhan meminta persetujuan Nabila.
Blushh..
Semburat merah langsung terpancar dari wajah Nabila yang putih bersih alami, dengan malu-malu Nabila menganggukkan kepalanya kearah Burhan.
"Aku tidak mempermasalahkan pekerjaan apapun dan sesibuk apapun kamu dalam pekerjaanmu, disini yang terpenting kau masih ingat pulang, kerja halal, dan menyayangiku layaknya istri pada umumnya selebihnya aku akan berusaha menerima semua kekurangan dan kelebihanmu, bukankah sempurna itu diciptakan ketika kita saling bekerja sama?" ucap Nabila.
Mendengar ucapan Nabila membuat Burhan puas, inilah yang ia cari selama ini dari setiap wanita yang pernah ia dekati.
__ADS_1
"Boleh aku memeluk Nabila?" tanya Burhan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Eitts, nanti dong kalau udah sah. Lagian seminggu bukanlah waktu yang lama, kalo udah sah mah mau loe peluk, c***, atau lebih dari itu juga serah loe." ucap Adel.