
Al membuka matanya, dia bangun memegang kepalanya yang masih terasa pusing Albert mengedarkan pandangannya melihat sekeliling kamar yang terasa asing baginya, tapi Al melihat foto wanita cantik dengan lesung pipi tersenyum manis disana.
"cantik" ucap Al.
Adel membuka pintu kamar sambil membawa air minum, dilihatnya Al sudah bangun dari pingsannya.
"kapan kau bangun? Kenapa tidak memenggilku?" tanya Adel.
"baru saja," jawab Al.
"ini minum dulu." ucap Adel menyodorkan segelas air minum di tangannya.
Albert mengambil air minum dari tangan Adel, dia meminumnya sampai tandas.
"haus bos?" goda Adel.
"hemm" jawab Al datar.
"kenapa kau diam saja pas wanita jamet itu menghinamu?" tanya Adel.
__ADS_1
Albert mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti maksud Adel yang menyebutkan wanita jamet seingatnya dia tidak mempunyai kenalan wanita yang bernama jamet.
"siapa jamet? Aku tidak kenal wanita yang bernama jamet?" tanya Albert.
Adel menepuk keningnya, dia lupa kalau suaminya itu pria gila bisnis jadi dia tidak akan tau mengenai apa saja yang tengah viral di media sosial.
"wanita yang tadi aku hajar." jawab Adel.
"oh penyihir itu, tadinya aku juga mau melawannya tapi kau keburu datang menarik rambutnya dan lagi saat dia bicara tiba-tiba kepalaku berdenyut nyeri aku tidak tau kenapa padahal aku sudah berusaha mengontrol diriku." ucap Al.
"asal geplak aja bilang penyihir, dia mah iblis pake jeroan manusia tau gak pantes di sebut wanita, kalo di ingat penngen banget tuh ngulek mulutnya." gerutu Adel.
"terimakasih telah menolongku" ucap Al tulus.
Al kembali mengerutkan dahinya, sejak kapan Adel meminta bayaran kepadanya. Al mengingat sesuatu yang ia lupakan terhadap Adel, dari pertama kali Adel menjadi istrinya dia tidak pernah memberikannya kepada Adel.
"apa bayarannya?" tanya Al.
"kau harus membayar jasaku yang telah menolongmu dengan kau yang harus berani melawan rasa takutmu, jika kau masih tidak bisa melakukannya aku anggap kau berhutang padaku." ucap Adel.
__ADS_1
Al kira Adel akan meminta bayaran seperti di belikan tas, barang branded atau yang lainnya. Adel berbeda dengan wanita-wanita yang pernah menjadi kekasihnya, jika wanita lain selalu meminta di belikan barang mewah tapi di kondisinya yang sekaranh Adel hanya meminta dia melawan traumanya sungguh berlian yang sangat langka untuk di dapatkan.
"akan ku usahakan." ucap Al sedikit menyunggingkan senyumnya.
"ahhh.. Dadaku," ucap Adel memegang dadanya.
Albert panik melihat Adel memegang dadanya, dia takut Adel memiliki penyakit yang kini sedang kambuh.
"del kamu kenapa? Mana yang sakit?" tanya Al khawatir.
triiinggg...
Adel menyilangkan jari jempol dan telunjuknya membentuk Finger love.
"Ohh.. Suamiku, senyummu membuat jantungku berdebar melihatnya, sudi kah kau menyembunyikan senyum menawanmu dari wanita lain aku tak mau membaginya." ucap Adel meniru kelebayan Burhan.
Blusshh..
Wajah Albert merona di buatnya, dia menggelengkan kepalanya ada saja kelakuan Adel yang membuatnya geleng-geleng kepala. Walaupun Adel menjengkelkan tapi itu adalah suatu hiburan baginya, Albert terkekeh geli mendengar puisi Adel sedangkan Adel dia terpana melihat ketampanan Al yang berkali lipat saat tersenyum.
__ADS_1
Deg!
Jantung Adel berdetak lebih cepat dari biasanya, meskipun tubuh Al bukan tipenya karena kurus kerempeng tapi senyumannya mampu membuat otaknya hiling ke angkasa.