
Albert mendengarkan cerita Adel dengan seksama, apa yang Adel ceritakan hampir sama persis yang di ceritaka oleh Burhan selaku dokter yang menangani Albert saat itu.
"Terus kamu lihat gak orang yang ada di mobil satunya lagi?" tanya Albert.
"Lihat, dia lagi berdiri disamping orang yang duduk di belakang bukannya nolongin dia malah nyender ke pintu mobil sambil buka maskernya terus nyalain rokok, dia bilang 'Tahu akibatnya bukan jika kalian bermain-main denganku' gitu katanya, kalo gak salah di lengan kanannya ada tato kupu-kupu warna biru." Ucap Adel.
"Nanti kita bahas di rumah sama mommy, siapa tahu memang benar kalau kamu yang nolongin aku waktu itu karena mommy pernah denger cerita dari Burhan kalau ada gadis yang nolongin aku sampai aku gak mau lepasin tengannya." ucap Albert.
"Wahh, iyakah? Kalau bener beuh kebetulan banget tuh Kakanda, emang udah jodoh kita ya." ucap Adel.
" Yasudah kamu disini aja temenin aku kerja ya? Tinggal duduk manis disampingku biar tambah semangat kerjanya." ucap Albert.
"Oke." ucap Adel membulatkan tangannya membentuk huruf O.
Albert kembali melanjutkan pekerjaannya, dia memutuskan untuk membahas perihal ke elakaan yang pernah dialaminya bersama orangtuanya dulu, dia akan terus menggali informasi agar dia tahu siapa dalang dibalik kecelakaan yang sudah merenggut nyawa ayahnya. Saat sedang sibuk dengan laptop di depannya Albert teringat sesuatu, dia langsung meraih handphonenya menghubungi Cindy.
Tuut..Tuutt.
__ADS_1
"Hallo kak." ucap Cindy dari seberang.
"Kau masih di rumah tidak?" tanya Albert.
"Masih kak, ini baru beres mandi, emangnya ada apa?" tanya Cindy.
"Baguslah, begini aku ingin meminta bantuanmu tolong kau ambil sehelai rambut Satria lalu berikan padaku." ucap Albert.
"Emangnya buat apa?" tanya Cindy.
"Pokoknya kau ikuti perintahku nanti aku jelaskan kalau kau sudah mendapatkannya, ini penting dan tolong jangan sampai Satria mengetahui hal ini." ucap Albert.
Tuut..
Albert menghela nafasnya lega, beruntung sekali ia ingat perkataan Edgar sebelum Satria datang. Tadiny Albert ingin membicarakannya dengan Cindy namun karena Cindy sudah tidur jadi Albert mengurungkan niatnya, Kalau bukan meminta bantuan Cindy entah kepada siap Albert meminta bantuan lagi.
"Kakanda, emangnya buat apa rambut Satria? Mau kamu jual?" tanya Adel.
__ADS_1
"Bukan dijual sayang, ini ada hubungannya sama masa lalu Satria dengan rambut itu aku bisa tau siapa saudara kandung yang saat ini Satria cari." ucap Albert.
"Emang kamu udah tau siapa orangnya?" tanya Adel.
"Aku belum yakin sepenuhnya sih, tapi jika memang benar kalau saudara Kandung Satria adalah orang yang aku kenal itu berarti kita tidak perlu mencari-cari lagi." ucap Albert.
"Iya juga ya, semoga saja itu memang benar." ucap Adel.
"Aammiinn." ucap Albert mengaminkan ucapan Adel.
Satria keluar dari mobilnya di sambut oleh Indah yang tengah berdiri menyirami tanaman di depan rumah, Satria menyalimi tangan Indah sebelum masuk ke dalam mansion.
"Pagi nyonya, Cindy nya ada?" tanya Satria.
"Ada kok, kayaknya masih dikamar deh." jawab Indah.
"Kalau begitu Satria izin menemui Cindy dulu nyonya, permisi." ucap Satria dengan sopan.
__ADS_1
"Iya sok, silahkan." ucap Indah.
Satria masuk ke dalam mansion, dia mendengar suara hentakan sepatu dari arah tangga. Satria mengalihkan pandangannya ke arah tangga, dilihatnya Cindy sudah berdandan dengan sangat cantik membuat Satria mematung ditempatnya saking terpesonany melihat kecantikan yang terpancar dari pujaan hatinya Cindy.