
Dokter Friska keluar dari ruang bersalin, Albert segera menghampirinya begitupun kedua ibu-ibu rempong yang tak sabar ongin melihat kedua cucunya.
"Apakah aku sudah diperbolehkan masuk dokter?" tanya Albert.
"Silahkan masuk tuan, semuanya sudah selesai." ucap dokter Friska.
Albert bergegas masuk kedalam ruangan Adel, dilihatnya istrinya sudah berganti pakaian dan juga sudah terlihat lebih fresh dari sebelumnya.
"Tuan, kedua anak tuan sudah di bersihkan, silahkan di adzani terlebih dahulu." ucap suster pada Albert.
"Baiklah." ucap Albert.
Albert langsung mendekat kearah kadua bayinya yang sedang tertidur, bayi kembarnya begitu terlihat lucu dan menggemaskan. Albert menempelkan tangan kanannya tepat di telinga sebelah kanannya, dia mengumandangkan adzan tepat di telinga sebelah kanan anak kembarnya secara bergantian, suara adzan Albert terdengar begitu merdu, saat adzan hampir selesai dikumandangkan Albert gak kuasa menahan air matanya, tubuhnya bergetar begitu ia mengingat mendiang ayahnya. Rasya berjalan kearah kakaknya yang tak sanggup meneruskan adzannya, dia menepuk pundaknya dan menyunggingkan senyumannya agar kakaknya kembali menyelesaikan adzannya.
"Kau pasti bisa kak." ucap Rasya mencoba menguatkan Albert.
__ADS_1
ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLALLOH."
Akhirnya Albert berhasil menyelesaikan adzannya dengan tubuh yang bergetar hebat, Rasya langsung memeluk tubuh kakaknya, bohong kalau dia tidak ikut menangis. Indah pun ikut menangis berpelukan bersama Cindy, mereka merasakan hal yang sama yaitu merindukan sosok Wiguna yang sudah lebih dulu berpulang pada yang maha kuasa. Suasana ruang bersalin Adel berubah menjadi penuh haru, tak ada satupun orang yang tidak menangis terutama Edgar.
'Tuhan, apa kau juga akan memberikan kebahagiaan padaku sama seperti mereka' batin Edgar.
Setelah dirasa tenang Albert mengusap air matanya, dia menatap kedua anaknya yang sama sekali tidak terusik mendengar suara tangisan orang-orang yang hadir menemaninya.
"Lihatlah kak, anakmu yang perempuan mirip denganmu." ucap Rasya.
"Iya, kau coba lihat yang perempuan mirip denganmu, kalau yang laki-laki mirip denganku hanya saja hidung serta matanya mirip dengan madam." ucap Rasya.
"Apose mirip loe? Kok gue gak terima ya?" sahut Adel.
"Yeyyy, kalau gak percaya coba lihat aja." ucap Rasya.
__ADS_1
Dua suster menggendong kedua anak Albert untuk diberikan kepada ibunya secara bergantian untuk di susui, Adel melihat anaknya dengan seksama dan ternyata benar yang perempuan mirip sekali dengan Albert, sedangkan yang laki-laki mirip dengan Rasya hanya saja hidung dan matanya benar-benar mirip dirinya.
"Ihh kesel banget, padahal aku yang ngandung terus ngelahirin mereka tapi kenapa aku hanya kebagian mata sama hidungnya doang." kesal Adel.
"Makanya kalau lagi hamil jangan sering ngerjain sama kesel sama gue, tuh kan lihat Tuhan begitu adil anak loe mirip sama gue, harusnya madam bersyukur tuh anak gak mirip Edgar kalau mirp Egdar baru patut di pertanyakan, kalau ama gue mah kalem aja kan wajah gue sama kakak 11 12 satu DNA lagi." ucap Rasya.
"Sialan loe Sya, emang gue cewek apaan?" sewot Adel.
Ceklek.
Dokter Friska masuk menghampiri Adel yang sedang menggendong anak pertamanya.
"Nyonya Adel, sekarang nyonya coba beri asi untuk anaknya." ucap dokter Friska.
Adel hendak membuka bajunya namun segera di cegah oleh Albert, dia langsung meminta para penjenguk untuk keluar, dia tidak mau aset berharga milik Adel dilihat oleh banyak orang.
__ADS_1