
satu bulan kemudian.
Kaki Albert kini menunjukkan perubahan yang signifikan, dia sekarang sudah mulai berlatih berjalan di bantu oleh Adel. Dari hari ke hari hubungan Adel dan Albert semakin dekat, Cindy dan Satria pun mulai menyatukan jarak diantara keduanya.
"Coba pelan-pelan, pegang pundakku dan angkat kakimu satu persatu secara perlahan." Ucap Adel.
Di taman Albert memegang kedua pundak Adel layaknya sepasang kekasih yang hendak berdansa, Adel memegang pinggang Albert lalu ia berjalan mundur kebelakang sedangkan Albert ia berjalan maju walaupun masih kaku. Saat baru dua langkah Albert merasakan nyeri namun dia tetap menahannya sampai di langkah kakinya yang ke enam dia tak kuat lagi, Adel menghentikan langkahnya lalu menatap Albert dari dekat.
"awwhh.. Sshh." ucap Albert memegang bahu Adel dengan kuat karena rasa sakit yang berasal dari kakinya.
" Apakah sakit sekali?" tanya Adel.
" Sakit, tapi aku masih bisa menahannya." ucap Albert.
" Jangan di paksakan takutnya kakimu kenapa-napa, nanti bukannya sembuh malah tambah parah." ucap Adel.
" Kalau begitu kita duduk saja dulu, rasanya seperti mau patah." ringis Albert.
Adel membantu Albert untuk duduk di kursi yang terletak di tengah-tengah taman, tak lupa ia juga mengambilkan satu botol air minum kepada suaminya.
"Minumlah dulu." ucap Adel menyodorkan sebotol air mineral ke arah Albert.
__ADS_1
"hmm" Albert berdehem mengambil air minumnya.
Kring... Kring... Kring..
Suara telpon Albert berbunyi, dilihatnya Satria menghubunginya. Albert menggeser tombol hijaunya, lalu ia menempelkan hp nya ke telinga.
" Ada apa?" tanya Albert.
"Tuan muda, tuan Lucas meminta perusahaan wiguna untuk kembali bekerjasama dengan perusahaannya, apa tuan akan menerimanya?" tanya Satria dari sebrang.
" Jemput aku sekarang juga." titah Albert.
Albert mematikan telponnya, dia meremas hp ditangannya dan menatap lurus kedepan. Adel sudah tidak khawatir lagi perihal penyakit mental Albert karena sekarang Albert sudah keluar dari trauma yang di alaminya, Albert memutar ulang kejadian beberapa bulan lalu dimana ia bertemu dengan Lucas untuk yang terakhir kalinya, disaat ia menghinanya tanpa ada rasa belas kasihan.
' Kau ingin menyerahkan dirimu pada singa yang lapar Lucas.' batin Albert.
"Apa ada masalah?" tanya Adel.
" Tidak ada, kau ikut denganku ke kantor." ucap Albert.
" Ngapain ahh males banget." keluh Adel.
__ADS_1
" Ayolah, sebentar saja." bujuk Albert.
Adel memghela nafasnya, dengan malas dia menganggukkan kepalanya. Albert berjalan perlahan menggapai kursi rodanya lalu mendudukkan tubuhnya, Adel mengawasi Albert dari jarak dekat dia ingin Albert berusaha sendiri agar nantinya terbiasa.
Adel mendorong kursi roda Albert masuk ke dalam rumah, kemudian dia membawa suaminya masuk ke dalam lift menuju lantai kamar milik Albert.
" Adel aku ingin kau memakai pakaian yang ada di lemari warna putih, disana ada paperbag warna maroon kau ambil lalu pilih mana yang kau suka setelah itu Cindy akan mendandanimu." ucap Albert.
Adel memutar bola matanya jengah, Albert mulai menerapkan banyak aturan padanya sampai ia pusing dibuatnya.
"Kau ini mau mengajakku ke kantor atau ke kondangan sih Al? Ribet banget harus pake dandan segala, tau gini gausah ikut aja aku gasuka dandan Al." protes Adel.
" Aku tidak menerima penolakan!" tegas Albert Final tidak ingin di bantah.
Adel mengacak-acak rambutnya, dia membalikkan badannya sambil menghentakkan kakinya. Albert menahan tawanya melihat tingkah Adel yang menggemaskan baginya,ia mengeluarkan hp nya mengirim pesan singkat kepada asisten pribadinya.
......'Siapkan semuanya' ......
Send.
' kini telah tiba masanya' batin Albert.
__ADS_1