Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Pergi berziarah


__ADS_3

Rio masuk ke ruang rahasia yang terletak di balik rak buku di ruang kerja miliknya, dia mengambil foto seorang wanita cantik yang menggendong dua bayi lucu di tangannya.


"Dimana kau sekarang? Aku merindukanmu, kemana lagi aku harus mencarimu Nadia? di seluruh kota sudah ku cari bahkan aku menyewa banyak detektif agar aku bisa menemukanmu dan juga anak kita." ucap Rio mengusap foto di tangannya.


**


Cindy dan pak Ahmad sudah sampai di negara A, mereka turun dari pesawat di sambut oleh Rasya yang sudah menyambut kedatangan keduanya.


"KAKAK." teriak Cindy sambari berlari menghampiri kakaknya.


Rasya merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Cindy, dia memeluk adik kesayangannya yang sudah lama tak bertemu.


"Kakak aku kangen sama kakak." ucap Cindy.


"Kangen beneran atau ada maksud lain nih?" tanya Rasya.


"Hehe.. Dua-duanya," ucap Cindy nyengir.


Rasya menyentil kening Cindy, di balik kata manis adiknya pasti ada sesuatu yang diinginkan oleh si bontot Cindy yaitu membantu mengerjakan tugas kuliah.


"Sudah kuduga pasti ada maunya, ayo kita pergi mommy sudah nungguin daritadi." ucap Rasya.


"Lets go." ucap Cindy.

__ADS_1


Pak Ahmad menyimpan koper ke bagasi sebelum ia masuk ke dalam mobil, setelah selesai ia duduk di belakang bersama Cindy.


Cindy memberi kabar kepada Satria, memberitahukan kalau dia sudah sampai di negara A.


...To Sayang💙💋...


...Ayang aku udah sampai di negara A...


...Sekarang lagi jalan ke rumah sakit...


...Aku di jemput sama kak Rasya...


...Send....


Di sisi lain tepatnya di sebuah makam, Satria berjongkok dan menengadahkan tangannya membacakan doa untuk seseorang yang telah pergi meninggalkan dirinya seorang diri. Satria tak kuasa menahan air mata yang sudah menganak di pelupuk matanya, selama ini dia mengira kalau dirinya di buang oleh orangtuanya tetapi pada kenyataannya dia ditinggal pergi oleh ibunya untuk selama-lamanya tanpa tahu bagaimana rupanya dan merasakan belaiannya.


"Kenapa kau meninggalkanku seorang diri? Aku tak tau bagaimana rupamu, kau berjuang menyelamatkan anakmu ini agar tetap bisa melanjutkan hidupnya, tapi taukah kau ibu aku sudah berprasangka buruk padamu tolong maafkan aku, aku berjanji kepadamu ibu akan kubalas semua perbuatan orang yang sudah menyakitimu." ucap Satria sambil menangis.


"Ibu.. hiks..hiks..teganya ia menghabisi nyawamu bu," tangis Satria.


"Semua takdir sudah di gariskan oleh yang maha kuasa sebelum manusia lahir ke dunia, tak perlu menangisi yang telah tiada karena itu tak akan membuatnya kembali, hanya do'a lah yang mereka butuhkan bukan harta ataupun kemewahan lainnya." ucap salah seorang pria tua yang menghampiri Satria.


Satria mengusap air matanya, dia menatap pria tua yang berbicara kepadanya.

__ADS_1


"Tuan siapa?" tanya Satria.


"Aku adalah abah Naim penjaga kuburan disini, kalau boleh tahu apakah makam dihadapanmu adalah ibumu?" tanya abah Naim.


"Iya benar." jawab Satria.


"Dia ada di sampingmu." ucap abah Naim tersenyum ke arah Satria.


Deg!!


'Ya Allah' batin Satria


Satria melihat ke kanan dan ke kiri, dia tak melihat siapapun di sampingnya. Abah Naim tersenyum melihat Satria yang kebingungan mencari sosok ibunya, abah Naim mempunyai kemampuan melihat makhluk tak kasat mata, saat sedang membersihkan makam tak sengaja ia mendengar isakan tangis seorang pria sampai akhirnya ia mencari sumber suara yang di dengarnya, melihat Satria yang menangis di depan makam abah Naim melihat seorang permpuan yang berusaha memeluk Satria.


"Kau tidak akan bisa melihatnya tetapi dia bisa melihatmu, dia ingin memelukmu tapi dunia kita berbeda, ibumu bilang cari ayahmu dan saudara kembarmu jangan pernah membenci ayahmu karena semua bukan kesalahannya" ucap abah Naim.


"Saudara? aku memiliki saudara kembar?" tanya Satria.


"Dia bilang iya, sekarang dia sudah pergi karena ada yang menjemputnya." ucap abah Naim.


"Hiks, terima kasih tuan." ucap Satria.


"Sama-sama." ucap abah Naim.

__ADS_1


Abah Naim pergi menibggalkan Satria, dia melanjutkan kembali pekerjaannya. Satria menaburkan bunga diatas tumpukan tanah sebagai tempat peristirahatan terakhir ibunya, dia juga mencium nisan ibunya sebelum pergi meninggalkan makam.


__ADS_2