
Albert sedang sarapan bersama dengan keluarganya, dia mendapat pesan singkat dari Edgar yang mengatakan kalau Satria sedang dalam incaran kakeknya, dia segera mengajak Rasya lergi menemui Edgar di suatu tempat.
"Sayang aku pamit keluar ya, tadi Edgar mengirim pesan padaku kalau Satria diincar oleh kakeknya." ucap Albert.
"Aku ikut!" ucap Adel.
"Tapi sayang." ucap Albert.
"Ikut atau aku mogok ngomong, gamau tidur bareng, mogok makan sama gak mau ketemu kamu satu tahun." ancam Adel.
"Ih kok gitu ngancamnya sih, yaudah ayok." ucap Albert.
"Nah gitu dong." ucap Adel.
'Haha yang benar saja, mana mungkin aku bisa jauh dari kakanda yang ada gue stress' batin Adel.
"Rasya ayo ikut." ajak Albert.
"Al Satria gak papa kan?" tanya Indah.
"Iya kak, Satria dimana sekarang?" tanya Cindy cemas.
"Nanti aku kabarin lagi." jawab Albert.
Rasya yang sedang memakan rotinya pun langsung berdiri, dia mengikuti langkah kakaknya dari belakang. Cindy memeluk tubuh ibunya, dia sangat cemas takut Satria kenapa-napa.
"Mom, Satria mom." ucap Cindy.
"Kamu yang tenang ya, mommy yakin Satria baik-baik saja." ucap Indah agar Cindy tenang.
__ADS_1
Albert, adel dan juga Rasya langsung masuk kedalam mobil menuju tempat yang diberitahukan oleh Edgar.
Leo berhasil meringkuk pelaku yang memotret kebersamaan Edgar dengan adik dan juga ayahnya, pelaku memakai masker serta hoody serba hitam.
"Ini dia pelakunya tuan." ucap Leo dengan menyeret pelaku.
"Siapa yang menyuruhmu?!" tanya Edgar dingin.
"Aku tidak akan memberitahumu!" jawabnya dengan tegas.
"Punya nyawa berapa kau hah?!" tanya Edgar sengan nada menyentak.
Sreekk..
Edgar mengeluarkan pisau belati dari balik jas yang dipakainya, dia menodongkan belati tersebut ke leher pelaku.
"Baskara." jawabnya dengan suara yang bergetar ketakutan.
"Ciih, nyalimu kecil sekali." cibir Edgar.
"Bereskan para tikus ini." titah Edgar.
"Siap tuan." ucap Leo.
Edgar meletakkan kembali belatinya, Leo membawa pelaku tersebut pergi dari hadapan Edgar.
"Buang-buang waktu saja." ucap Edgar.
Edgar melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit, tak berselang lama mobil Albert sudah sampai di rumah sakit.
__ADS_1
"Dimana Satria?" tanya Albert.
"Dia sudah ku amankan." jawab Edgar.
"Lalu bagaimana dengan tesnya?" tanya Adel.
"Hasil tesnya di palsukan, beruntung aku sudah mempersiapkan semuanya jadi aku tidak terjebak oleh permainan kakek tua itu." jawab Edgar.
"Aku heran kenapa sih kakekmu ingin memisahkan kalian? Bukannya seharusnya dia senang kalian sudah di pertemukan kembali?" tanya Rasya.
"Aku juga belum mengerti, haaaiishh sudahlah memikirkannya saja membuat kepalaku seakan mau pecah." ucap Edgar.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Albert.
"Ke hongkong, jangan banyak nanya dulu mending ikuti saja aku." ucap Edgar.
Edgar masuk ke dalam mobilnya, dia meminta Rasya ikut bersamanya sedangkan Adel satu mobil berdua dengan Albert.
"Aku yakin kakek tua itu pasti membuntuti daddy." ucap Edgar.
"Sepertinya begitu, rumit sekali hidupmu." ucap Rasya.
"Kau yang melihatny saja pusing bukan? Apalagi aku yang menjalaninya."keluh Edgar.
"Yang sabar ya, nasib orang kaya emang suka banyak masalahnya." ucap Rasya.
Edgar melajukan mobilnya diikuti oleh Albert dari belakang, di sepanjang perjalanan Edgar tak hentinya mengumpat karena dia melihat salah satu mobil anak buah kakeknya yang sangat di kenalinya.
"S**t " umpat Edgar.
__ADS_1