
Malam hari.
Adel turun ke dapur mengambil sendok dan juga gelas, tak lupa dia juga mengambil madu untuk di bawa ke kamar Albert.
Ceklek..
"jangan melamun Al, nanti kesambet loh." ucap Adel.
Al mengalihkan pandangannya ke arah Adel, dia melihat Adel yang sibuk meracik ramuan yang di berikan oleh dokter Zico.
Huekk..huek..
"Ini ramuan apa ****** sih? bau sekali." ucap Adel.
"ada apa? Kenapa kau menutup hidungmu?" tanya Albert.
"tidak apa-apa, tadi ada debu yang masuk ke dalam hidungku jadi hidungku terasa gatal." kilah Adel.
Adel menahan nafasnya karena aroma ramuannya sangatlah kuat, dia berusaha terlihat baik-baik saja walaupun perutnya sudah bergejolak menahan agar isi perutnya tidak keluar.
"ini, minumlah dan ingat!! Jangan sampai di keluarkan lagi." ucap Adel menekankan kata-katanya.
Albert mencium bau yang sangat menyengat, dia memalingkan wajahnya dan menutup hidungnya.
"ya Tuhan, bau apa ini? Huek..." ucap Albert.
"ayo cepat minum." desak Adel menyodorkan gelas ke hadapan Albert dengan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"tapi aromanya bau sekali." protes Albert.
"minum atau aku akan menaburkan ramuan ini ke seluruh kamar, kau mau sembuh tidak?!" Ancam Adel.
Adel menutup hidungngya begitupun Albert, dengan berat hati Albert mengambil gelas dari tangan Adel. baru saja satu tegukan Albert sudah tak sanggup untuk meminumnya lagi.
"cepat habiskan." desak Adel.
"hue..emmmpt."
Adel langsung menutup mulut Albert, jika dibiarkan Al akan mengeluarkan kembali ramuannya.
"telan Al." titah Adel.
Glek.. Glekk..
"Huuueeekkkk..."
"minumlah airnya dan juga telan madunya biar gak terlalu pahit."titah Adel.
Albert menuruti ucapan Adel, dia meminun air putihnya sampai tandas dan juga madunya.
"rasanya aneh sekali." keluh Albert.
"namanya juga obat, kalau mau yang manis tinggal lihat wajahku saja." ucap Adel.
"hemm." ucap Albert.
__ADS_1
Selesai dengan drama minum ramuan Adel membereskan gelas kotor yang dipakai oleh Albert, saat hendak melangkahkan kakinya tak sengaja kaki Adel terpeleset, tubuhnya limbung dan terjatuh di atas tubuh Albert.
"argghhh.. Joniku.." teriak Albert.
"awhh.. Kenapa kau berteriak?" tanya Adel.
"tanganmu menekan joniku." tunjuk Albert.
Adel melihat arah telunjuk Al, dia membulatkan matanya dan langsung bangkit dari tubuh Albert. Albert meringis kesakitan saat joninya tertekan oleh tangan Adel, dia buru-buru menutupi joninya dengan selimut dan mengusap asetnya yang terasa ngilu di balik selimut.
"kenapa kau ceroboh sekali hah?!" sentak Albert.
"yaaakkk.. Namanya juga kecelakaan, siapa juga yang mau kepeleset kagak ada yang nawarin mau kepeleset apa engga, semuanya sudah takdir ya sorry aja." sewot Adel.
Adel merasa bersalah pada Albert, dilihatnya Albert meringis kesakitan meskipun Adel tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya.
"coba ku lihat? Emang sakit banget ya?" tanya Adel hendak membuka selimut Albert.
"sembarangan, bilang aja cari kesempatan dalam kesempitan, enggak.. Enggak kamu diam saja, bukannya diobati nanti malah kamu mainin lagi." ucap Albert mencegah Adel.
"mainin apa?" tanya Adel cengo.
"bukan apa-apa, kau pergi saja bukankah kau ingin membereskan gelas kotor? Ya udah pergi sana, biarkan aku mengobati joniku sendiri." ucap Albert.
"santai aja kali, kagak usah ngusir kek gitu." seqot Adel.
Adel mengambil kembali gelasnya, dia melenggang pergi menunggalkan Albert dan turun ke bawah dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"dasar wanita ceroboh, huhu.. Sabar ya joni ini semua adalah ujian." ucap Albert mengusap joninya yang layu.