Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
seblak


__ADS_3

"aku ingin memberikanmu sesuatu, seharusnya ini sudah menjadi salah satu kewajibanku padamu."ucap Al.


"apa?" tanya Adel.


"tolong ambilkan hp ku." ucap Al.


Adel keluar mengambil hp Al yang berada di ruang tamu, Fatimah mengajak Adel untuk segera ikut bergabung makan bersama yang lainnya namun Adel hanya menganggukkan kepalanya.


" ini hp mu." ucap Adel menyodorkan hp Al yang di balut cassing dompet.


Al mengambil hp nya, mengambil salah satu kartu berwarna hitam kepada Adel.


"ini pakailah sesukamu" ucap Al.


"apa ini?" Adel membolak balikan kartu sultan yang di berikan oleh Al.


"itu adalah kartu black card, kartu itu adalah nafkah bagimu kau bisa membeli apapun yang kau mau tanpa harus izin padaku." ucap Al.


"kenapa tidak uang cash saja? Aku tidak bisa beli seblak pakai kartu ini tau, semua keperluan di rumahmu aja sudah cukup ngapain ngasih lagi? Aku minta 50 ribu saja buat jajan seblak sama beli boba." ucap Adel.

__ADS_1


Albert di buat melongo oleh Adel, istrinya menolak kartu yang dia berikan dan menggantinya dengan uang cash senilai lima puluh ribu padahal di dalam kartu miliknya Adel bisa membeli seblak dan boba beserta tempatnya sekaligus.


"kau tidak mau kartu ini? Kau bisa membeli sekaligus dengan tempatnya kalau kau mau pakai kartu yang aku berikan." ucap Al.


" ya kalo tempatnya di jual, kalo enggak kan tetep harus belinya satu porsi setiap kali mau jajan gimana sih." ucap Adel.


"aku bisa menyewa chef untuk membuatkan seblak dan minuman yang kau mau." ucap Albert.


"emang ada chef yang bikin seblak sama boba?" tanya Adel heran.


"ya ada." jawab Al.


Adel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, setahunya tidak ada chef yang jualan seblak sama boba.


"iya bu" sahut Adel.


Fatimah kembali bergabung dengan suaminya di dapur, Adel membawa kursi roda lalu mengangkat tubuh Al mendudukannya di atas kursi roda.


"kita makan dulu." ajak Adel.

__ADS_1


"apa orangtuamu akan memerimaku?" tanya Al.


"kalo mereka gak nerima kamu, gak bakalan mungkin mereka mau nikahin aku sama kamu. Makanya kalo apa-apa tuh pake logika jangan langsung ambil kesimpulan sendiri, mereka gak sepeerti yang kamu bayangkan." ucap Adel seraya mendorong kursi roda Al.


Albert menundukkan kepalanya dan meremas tangannya gugup. Di dapur sebagian orang sudah menyantap makanannya, Yusuf menghampiri Al dan menggantikan Adel mendorong kursi roda Albert sedangkan Adel dia ikut bergabung lesehan di bawah bersama ibunya.


"Del kamu duduk aja di bawah sekaalian ambilkan nasi sama lauknya buat nak Al." titah Yusuf.


"oke Ayahku tersayang" ucap Adel mengacungkan jempolnya.


Adel mengambil lauk pauk dan menyendokkan nasi ke dalam piring, Albert merasa tidak enak karena di duduk di kursi roda sedangkan yang lainnya duduk beralaskan karpet di bawah.


"nak makanlah dulu, maaf ibu hanya punya makanan sederhana tidak semewah yang biasa kalian makan." ucap Fatimah dengan lembut.


"tidak apa-apa" jawab Al tersenyum.


"kau mau disuapi?" tanya Adel.


"yang sakit kakiku bukan tanganku, kau makan saja biar aku makan sendiri." ucap Albert.

__ADS_1


"kalau butuh sesuatu panggil saja adinda ya kakanda." goda Adel mengedipkan sebelah matanya.


Al hanya tersenyum menanggapi godaan Adel, sedangkan yang lainnya hanya terkekeh. Akhirnya makan siang berlangsung dengan khidmat walaupun dengan lauk seadanya.


__ADS_2