
Pesanan Adel sudah datang, air liur Adel hampir menetes mencium wangi seblak yang menguar masuk ke dalam hidungnya.
"aahhh.. Wanginya.." ucap Adel.
Satria mengeluarkan dompetnya membayar semua jajanan yang di pesan oleh Adel dan Cindy, dia membawa kantong pesanan Adel masuk ke dalam mobil.
"ehh tunggu Cin, ada yang kelupaan." ucap Adel.
"apa?" tanya Cindy.
"paman Ahmad gak di beliin." jawab Adel.
"yaudah pesen lagi aja, bilang aja sama yayang biar dia yang pesenin sekalian cabenya di pisah." ucap Cindy.
Adel meminta Satria memesan satu porsi lagi makanan untuk pak Ahmad, dengan berat hati Satria menuruti kemauan Adel.
"maaf ya lama kakandaku." ucap Adel mengedipkan sebelah matanya.
"hemm." jawab Albert.
"ibu ini seblak buat ibu sama ayah, lagi mabuk kayak gitu mah enaknya makan seblak biar syueeggeerr.." ucap Adel menyodorkan seblak ke belakang.
Yusif mengambil seblak dari tangan Adel, Fatimah bersandar di bahu suaminya tubuhnya sudah lemas tak berdaya, saat Satria sudah masuk membawa pesanan untuk pak Ahmad Albert memerintahkan untuk segera melajukan mobilnya karena tak tega melihat mertua perempuannya yang sudah pucat.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama hanya dalam 10 menit mobil sudah terparkir di halaman rumah Yusuf, Adel turun membantu ibunya keluar dari mobil. Albert menunggu di dalam mobilnya, setelah memastikan ibunya masuk ke dalam rumah Adel berpamitan kepada kedua orangtuanya untuk pulang kembali ke mansion.
"ayah Adel gak bisa lama-lama, udah makin sore nih yah." ucap Adel.
" ya sudah, kalian hati-hati di jalannya ya." ucap Surya mengusap rambut Adel dengan sayang.
"ibu gak papa adel tinggal?" tanya Adel pada ibunya.
"gak papa del, kan ada ayah lagian cuman mual dikit kok." ucap Fatimah.
"ya udah Adel pulang dulu ya ayah,ibu." pamit Adel.
Adel salim kepada kedua orangtuanya, dia keluar dari rumah berjalan menghampiri suaminya. Dari sudut matanya dia bisa menangkap para tetangga yang sedang memantaunya dari jarak jauh, terdengan krasak-krusuk di balik semak-semak.
"mau kemana kamu?!" cegah Albert.
"mau kasih pelajaran sama tuh para cicak yang nemplok di semak-semak. " ucap Adel.
"biarkan saja, ayo kita pulang aku sudah tidak nyaman ingin segera membersihkan tubuhku." ucap Albert.
Dengan hati yang dongkol Adel tidak jadi turun dari mobil, Albert meminta Satria melajukan kembali mobilnya. Cindy sibuk meminum boba miliknya sampai habis, Adel cemberut dia melipat kedua tangannya ke depan.
'lihat saja wahai para tetangga, sekarang kalian boleh lolos tapi aku tidak akan tinggal diam.' batin Adel.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan Adel diam tak mengeluarkan suara, Albert menatap Adel dilihatnya istrinya itu sedang cemberut sambil menikmati minuman kesukaannya.
'kalau lagi cemberut terlihat lucu.' batin Albert.
sampai di mansion penjaga membukakan pintu gerbang, Satria melajukan mobilnya dan berhenti di depan ruang utama. Adel membuka pintu lalu turun, kemudian dia berjalan mengelilingi mobil membuka pintu untuk suaminya. Satria mengambil kursi roda lalu membantu Adel mengangkat tubuh Albert.
"kok sekarang tambah berat ya?" ucap Adel saat mengangkat tubuh Al.
"ya kan setiap hari di kasih makan." sahut Albert.
"iya juga ya." ucap Adel.
Adel mendorong kursi roda Albert masuk ke dalam, Cindy menunggu Satria mengambil seblak di dalam mobil.
"ayang ayo cepet ih." ucap Cindy.
"nona duluan saja, nanti saya akan menyusul nona." ucap Satria.
"ih gak peka banget, mumpung kakak udah masuk kita bisa berduaan gimana sih jadi cowok kaku banget." gerutu Cindy.
Cindy menghentakkan kakinya pergi meninggalkan Satria, sedangkan satria menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal dia sama sekali tidak paham tentang wanita.
"dasar wanita." gumam Satria.
__ADS_1