
Rio mengepalkan tangannya dengan begitu kuat, rasa sesak di dadanya begitu terasa, matanya pun mulai memanas. Satria tahu bagaimana perasaan Rio dan diapun merasakan hal yang sama, Satria memeluk tubuh Rio kemudian mengusap punggungnya.
"Kenapa dia begitu kejam, ternyata selama ini ibuku juga dibuat menderita olehnya hiks..hiks.. Nak, ayahmu ini begitu tak berguna aku tidak bisa menjaga ibuku dan juga ibumu, lebih baik aku mati saja." ucap Rio putus asa.
Bagaimana hatinya tak hancur, jika memang apa yang diucapkan oleh Arion terbukti sungguh dia bersumpah akan membalas semua perbuatan ayahnya.
"Daddy, kau harus bersabar jika kau memilih mati lantas untuk apa Tuhan mempersatukan kita kembali, apa kau tega meninggalkanku yang baru saja merasakan pelukanmu?" tanya Satria.
Tangis Rio semakin pecah kala mendengar Satria memanggilnya daddy, terlebih lagi ucapan Satria membuatnya tersadar selama bertahun-tahun Satria tidak merasakan pelukannya dan dia juga hanya merasakan dekapan sang ibu sampai usianya menginjak 2 tahun dimana ia belum mengerti apapun.
"Tuan Arion, Baskara sedang menuju ke lokasi rumah Wiguna." ucap anak buahnya tiba-tiba databg memberikan laporan pada Arion.
"APA?!" tanya Adel dan Albert secara bersamaan, keduanya kaget mendengar kabar tersebut.
"Kita harus bergerak cepat!" tegas Arion.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Albert khawatir.
"Jangan hubungi orang rumah atau siapapun itu, Rio dan Satria kalian matikan ponsel kalian! Kurasa kalian harus tetap disini, biarkan Albert dan Adel ikut bersamaku." titah Arion.
__ADS_1
"Mark kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?! Bentuk pasukan Naraga!" tegas Arion.
"Laksanakan tuan!" ucap Mark.
"Ayo, jangan membuang banyak waktu lagi!" ajak Arion.
Adel dan Albert bangkit dari duduknya, mereka berangkat bersama Arion dalam satu mobil. Mark sudah berangkat terlebih dahulu membawa pasukannya, sebelum semuanya terlambat Arion meretas keamanan yang bisa menembus ke kediaman Wiguna.
"Bagaimana dengan Edgar? Apa kita harus memberitahunya?" tanya Albert.
"Tunggu dulu, aku harus memeriksa apakah nomornya disadap atau tidak oleh kakek tua itu." ucap Arion.
Dengan gerakan cepat Arion memeriksa semuanya, Adel sampai mual melihat cepatnya tangan Arion yang berselancar di laptopnya.
Albert langsung saja menghubungi Edgar, beruntung Edgar langsung mengangkat telponnya.
"Hallo."
"Berangkat ke rumahku sekarang juga, kakekmu sedang menuju rumahku aku tidak ingin ibu dan adikku terluka." ucap Albert.
__ADS_1
"Haiishh, dasar tua bangka menyebalkan! Bolehkah aku istirahat sebentar? Badanku lelah sekarang baru aja beres gelud." keluh Edgar.
Adel langsung merebut ponsel dari tangan suaminya, dia mendengar keluhan Edgar yang mana membuatnya jengkel.
"Heh ******, udah ditolongin juga malah ngeluh! Kalau mommy gue kenapa-napa sama adek gue, loe tanggung akibatnya." sewot Adel.
"Hiih, iya-iya aku segera kesana." kesal Edgar.
Tut.
Adel mematikan ponselnya sepihak, dia udah antusias ingin bertarung malah Edgar dengan gampangnya mengeluh.
"Kenapa jadi kamu yang marah?" tanya Arion.
"Helloww tuan Arion, nyawa mertuaku dan adikku pasti dalam bahaya yakali dia minta istirahat dasar manusia gendeng. Aku yakin kita pasti gelut disana, aku gak sabar pen bak-buk-bak-buk jederr." ucap Adel.
"Albert sepertinya kau menikahi wanita langka." ucap Arion.
"Sangat langka, hanya aku yang memilikinya." ucap Albert bangga.
__ADS_1
"Langka, langka. Kalau langka gak bisa berkeliaran di jalan, pastinya dikurung di museum enak aja bilang aku langka! Aku bukan langka tapi hidup apa adanya." sewot Adel.
Albert dan Arion tak berani lagi mengeluarkan suaranya, mereka memilih diam jika diladeni pun Adel pasti akan terus berbicara tanpa jeda yang mana pada akhirnya keluar statement 'Wanita tidak pernah salah'.