
Satria mengambil koper dari tangan Cindy, ia berjalan berdampingan dengan Cindy sedangkan pak Ahmad mengekor di belakangnya.
"Aku akan mengantarmu sampai bandara, setelah itu aku akan langsung pergi ke perusahaan nanti kabari aku jika kau sudah sampai disana." ucap Satria.
"Oke👌" ucap Cindy.
"Paman aku titip Cindy, jaga dia baik-baik jangan sampai lecet." ucap Satria.
"Baik, kau tenang saja nona Cindy akan aman bersamaku." ucap pak Ahmad.
Satria memasukkan koper Cindy ke dalam bagasi mobil, Cindy duduk di depan bersebelahan dengan Satria sedangkan pak Ahmad duduk di belakang sendirian.
Satria menyalakan mesin mobilnya kemudian mobil yang di tumpanginya keluar dari mansion melaju ke arah bandara, di dalam mobil Cindy terus menatap wajah Satria.
"Kenapa terus menatapku seperti itu?" tanya Satria.
"Kan mulai sekarang kita akan berpisah selama aku di Negara A, aku pasti bakal kangen banget sama kamu." ucap Cindy.
"Hanya sebentar saja, tidak akan lama apalagi sekarang kondisi nyonya Indah sudah lebih baik hanya tinggal menunggu masa pemulihannya saja." Ucap Satria.
"Kapan kau akan bicara soal hubungan kita sama mommy?" tanya Cindy.
"Secepatnya, aku mohon kau bersabarlah dulu dan fokus dengan kuliahmu untuk urusan kita berdua aku yang akan membicarakannya pada nyonya karena untuk sekarang ada satu hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu." ucap Satria.
"Baiklah, aku akan selalu menunggumu." ucap Cindy.
"Mantap!" ucap pak Ahmad dari belakang mengacungkan jempolnya.
Cindy terkekeh melihat kelakuan pak Ahmad, dia berjanji pada dirinya sendiri akan menunggu Satria sampai kapanpun, dia tak perduli dengan status Satria yang bisa di bilang tidak jelas asal usulnya yang dia tau hanyalah Satria seorang asisten pribadi kakaknya yang sudah menempati ruang kosong di dalam hatinya.
__ADS_1
***
Mobil yang di tumpangi oleh Edgar sudah sampai di mension megah miliknya, sang ibu dan juga ayahnya menyambut kedatangannya di depan pintu utama.
"Akhirnya kau pulang juga." ucap wanita paruh baya menghampiri Edgar.
"Hemm." jawab Edgar dingin.
"Ayo masuk jangan berdiri saja, mommy akan mengenalkan kamu sama anak temen mommy." ajak ibu Edgar.
Edgar menuruti kemauan ibunya, dia berjalan masuk ke dalam mansion dengan wajah dinginnya. Para pelayan menundukkan kepalanya saat melihat Edgar, di ruang keluarga sudah ada wanita cantik duduk dengan anggunnya di dampingi oleh kedua orangtuanya.
"Nak, wanita cantik ini adalah Emilie anak dari tuan Edwin dan juga jeng Rianti." ucap ibunya yang bernama Clarissa.
"Hemm." ucap Edgar datar.
'Ciihh..berani sekali dia menggodaku dasar wanita sampah daur ulang, mana mungkin aku mau dengan wanita yang suka celap-celup sana sini, heh jangan harap!' batin Edgar.
Clarissa merasa tidak enak dengan sikap Edgar yang dingin, dia menyenggol tangan Edgar agar anaknya itu bersikap sopan pada calon besannya.
"Edgar jangan bikin malu mommy." bisik Clarissa.
"Aduhh jeng, ternyata anaknya tampan sekali ya pantesan Emilie mau." ucap Rianti.
"Iya jeng, cuman agak bandel anaknya mohon di maklumi ya." ucap Clarissa.
"Gak papa kok." ucap Rianti.
"Langsung saja pada intinya ya, mommy udah sepakat sama daddy dan juga orangtua Emilie akan menjodohkan kalian berdua." ucap Clarissa to the point.
__ADS_1
Edgar tertawa mengejek, dia menatap Emilie dengan tatapan tidak suka. Clarissa menatap tajam Edgar sedangkan ayah Edgar yaitu Rio hanya diam saja, Edgar bangkit dari duduknya dia memanggil salah seorang bodyguard untuk mengambil sebuah amplop berwarna coklat ke hadapannya.
"Kalian pikir aku mau di jodohkan dengan berang bekas?!" tanya Edgar dengan menaikan volume suaranya.
"Lancang sekali mulutmu mengatakan anakku barang bekas!!" berang Edwin tak terima.
"Siapa bilang aku lancang hah?! pantang bagiku berbicara tanpa bukti yang jelas." sentak Edgar.
Edgar melemparkan map coklat ke atas meja sampai isinya berhamburan, disana terlihat Emilie mabuk bersama seorang gadun dan juga pria tua di salah satu pusat perbelanjaan, tak hanya itu Emilie juga berpacaran dengan pria yang sudah beristri menjadi simpanan selama bertahun-tahun. Edgar sudah pasti menyelidiki para wanita yang di pilihkan oleh ibunya, dia bukanlah orang sembarangan yang mudah tertipu oleh wajah manis para wanita.
"Kau terkejut? Inilah putrimu yang kau kau bela, yang kau banggakan, dia hanya seorang wanita layaknya barang bekas yang di daur ulang oleh para pria hidung belang." ucap Edgar dengan tegas.
PLAKK..
Edwin menampar wajah Emilie sampai menguarkan darah dari sudut bibirnya, bukan hanya terkejut dia juga kecewa kepada putrinya sekaligus malu. Selama ini Edwin sudah menaruh curiga kepada anaknya, tetapi dia belum menemukan bukti yang kuat untuk mengungkap kecurigaannya.
"Pa, itu tidak benar pa." kilah Emilie.
"Buat malu keluarga aja, selama ini aku selalu memenuhi keinginanmu apapun yang kau mau selalu aku turuti karena kau adalah anak kesayanganku tapi inikah balasanmu?!" geram Edwin.
Clarissa kecewa kepada Emilie, meskipun ia ingin anaknya segera mendapatkan jodoh tetapi dia tidak mau mempunyai seorang menantu dengan perilakunya yang buruk.
"Aku kecewa padamu Rianti, ternyata Emilie menjadi seorang simpanan sampai bergonta-ganti lelaki melampiaskan hawa n****nya." ucap Clarissa dengan marah.
"Jeng itu tidak benar, semuanya fitnah." ucap Rianti.
"Perjodohan ini BATAL." ucap Clarissa.
Edwin merasa malu dengan keluarga Giomani atas kelakuan putrinya, dia langsung pergi menyeret Emilie keluar dari mansion megah milik keluarga Giomani kemudiaj ia menghempaskan tubuh Emilie dengan keras.
__ADS_1