
Satu minggu kemudian.
Edgar datang ke rumah sakit bersama Satria dan juga Rio, Leo bertugas menjaga keamanan di rumah sakit agar tidak ada yang melihat Edgar bersama Satria datang bersama. Beberapa bodyguard menyamar mamakai pakaian perawat, petugas kebersihan dan juga sebagai pasien. Edgar sengaja memperketat keamanan dia khawatir orang suruhan kakeknya melihat pergerakannya, dokter datang membawa hasil tes DNA yang di tunggu-tunggu oleh Edgar dan juga Rio.
"Ini hasilnya tuan." ucap dokter menyerahkan amplop putih yang masih tertutup rapat kepda Edgar.
Edgar mengambil amplop tersebut dari tangan dokter, dia langsung membuka amplop tersebut dihadapan Satria dan juga Rio. Satria sudah tak sabar menunggu hasilnya, dia bergerak tak nyaman namun Rio memegang tangannya kemudian tersenyum sebagai isyarat agar Satria tenang. Edgar memberi isyarat kepada Leo, dengan gerakan cepat Leo menodongkan senjata tajam kearah dokter.
Sreekk..Sreekk..
Edgar merobek kertas hasil laboratorium yang diberikan oleh dokter tadi, dia menatap tajam dokter tersebut kemudian dia berdiri didepannya.
"Sungguh kebohongan yang sangat tidak rapih." ucap Edgar dingin.
"Katakan siapa yang menyuruhmu?!" tanya Leo dengan galaknya.
"Ampun tuan, saya tidak bermaksud menipu tuan." ucap sang dokter ketakutan.
"Tulisan yang tidak rapih, editannya sangatlah buruk! Kau pikir aku akan tertipu dengan kebohonganmu? Cepat berikan hasil tes yang sebenarnya!" desak Edgar.
'Bagaimana bisa dia tahu kalau itu adalah editan?' batin dokter.
__ADS_1
"Jelas lah aku tahu, lihatlah tandatangan yang di copy bukan hasil tulis tangan sendiri! Dasar bodoh." ucap Edgar dengan mengumpat.
"Tuan tolong lepaskan aku." ucap dojter tersebut memohon kepada Edgar.
"Kau punya dua pilihan, mati atau jujur padaku!" tekan Edgar.
Glekk.
Dokter yang bernama Vazo menelan ludahnya dengan susah payah, ancaman Edgar mampu merontokkan tulangnya sampai lemas tak bertenaga. Satria dan Rio terkejut melihat pergerakan Leo, lebih terkejut lagi saat mereka mendengar hasil laboratorium yang disabotase.
"Edgar ada apa ini?" tanya Rio.
"Dugaanku tak pernah salah, si tua bangka Baskara sudah mengetahuinya." ucap Edgar.
"Kakekmu yang membuat kita berpisah." jawab Edgar dingin.
"Berikan hasil yang asli atau kau mati sekarang juga, CEPAT BERIKAN!" ucap Edgar mendesak Vazo.
Vazo meraih laptopnya kemudian membukanya, dengan gerakan cepat dia membuka file dan menujukkan hasil laboratorium yang asli kepada Edgar. Edgar mengambil laptop Vazo, dia memindahkan file flashdisk yang dibawanya karena dia sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Bawa dia pergi." titah Edgar.
__ADS_1
Leo menyeret dokter Vazo keluar lalu menyerahkannya kepada anak buahnya, Edgar mengajak Satria dan juga Rio keluar dari rumah sakit diikuti oleh Leo dan juga beberapa pria berbadan besar.
Cekrekk..
Di tengah perjalanan ada seseorang yang diam-diam memotret kearah Edgar, Leo langsung bergerak cepat mencari siapa orang yang berani mengambil gambar secara diam-diam.
"BRENGSEK!" umpat Edgar.
Edgar mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras sampai urat-uratnya pun terlihat dengan jelasnya.
"BOTAK!" panggil Edgar.
"SAYA TUAN." sahut pria berbadan kekar dengan kepala pelontos.
"Bawa adikku dan daddy pergi ke tempat rahasia, pastikan jangan sampai ada orang yang mengikuti." titah Edgar.
"Baik tuan." jawabnya.
Si botak langsung membawa Satria dan juga Rio untuk ikut bersamanya, Edgar memikirkan kembali strategi yang akan digunakannya.
"OMPONG! Haaiishh, kenapa nama panggilan kalian itu aneh-aneh sih?!." ucap Edgar memanggil bodyguard yang lain sambil menggerutu.
__ADS_1
"Iya memang karena kita botak dan ompong tuan, suapaya lebih mudah diingat." jawab bodyguard dengan gigi ompongnya.
"Aku tidak mau tahu itu, sekarang kau ikuti si botak dari belakang ajak 4 bodyguard lainnya, pastikan Satria dan juga daddy aman, paham!" titah Edgar.