Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh

Gadis Barbar Kesayangan Tuan Muda Lumpuh
Misi berhasil


__ADS_3

Mobil Satria sudah terparkir di depan Mansion Wiguna, Satria turun lebih awal membukakakn pintu untuk Cindy. Sebelum masuk Cindy mengecup pipi Satria dan hal tersebut disaksikan langsung oleh pak Ahmad, Satria tak membalas apa yang dilakukan oleh Cindy padanya karena ia melihat keberadaan pak Ahmad.


"Sstt.. Ada pak Ahmad." bisik Satria ditelinga Cindy.


"Gapapa lah, anggap aja paman gak ada." ucap Cindy dengan entengnya.


"Hus jangan gitu, kita harus hormati yang lebih tua kasihan kan pak Ahmad udah lama jomblo nanti dia pengen lagi, emangnya kamu mau nanti pak Ahmad nyosor ke mommy kamu?" goda Satria.


Plakk.


Cindy memukul bahu Satria agak keras, bisa-bisanya dia bawa-bawa nama ibunya.


"Sembarangan." kesal Cindy.


"Hehehe, bercanda sayangku." ucap Satria terkekeh.


Satria mengajak Cindy masuk kedalam rumah, Cindy menggandeng tangan Satria karena mulai saat ini keduanya mulai terbuka dengan hubungannya.


"Selamat malam paman." sapa Cindy.


"Selamat malam juga non, gimana jalan-jalannya lancar?" tanya pak Ahmad.


"Lancar dong paman, nih lihat bagus bukan?" ucap Cindy pamer cincin ditangannya.


"Wuiddihhh, resmi nih Sat?" goda pak Ahmad.


"Resmi dong paman, takut keburu lepas genggaman." jawab Satria.

__ADS_1


"Pantesan aja, di c*** pipinya meneng bae." goda pak ahmad.


"Sirik aja Jomblo." sindir Cindy.


Cindy langsung menarik tangan Satria pergi meninggalkan pak Ahmad, bukannya marah pak Ahmad malah terkekeh melihat kelakuan Cindy.


"Akhirnya nona Cindy sudah mendapatkan kebahagianny, tinggal satu lagi yang masih jadi tanda tanya. Hadeuuh kalo yang ini mah bakalan lama sold out nya, banyak peminat tapi jual mahal." gumam pak Ahmad.


Cindy dan Satria masih tetap bergandengan tangan sambil tertawa renyah, Adel yang sedang duduk di ruang keluarga pun langsung mengalihkan pandangannya melihat dua sejoli yang sedang mabuk asmara.


"Anjay, lagi bahagia loe berdua?" tanya Adel.


"Yoi lah, nih liat gue udah mau sold out." ucap Cindy pamer cincinnya.


"Hellehh, perjalananmu masih panjang nona." ucap Adel.


"Maksud loe apa?" tanya Cindy.


Indah tiba-tiba datang dari arah dapur membawa makanan dan minuman ke arah ruang keluarga.


"Eh kalian udah datang, sini gabung." ucap Indah.


"Mohon maaf nyonya, bukannya saya tidak mau tapi saya harus segera pulang karena ada keperluan yang harus saya urus." ucap Satria menolak ajakan Indah dengan halus meskipun dalam hatinya ia merasa tidak enak.


"Keperluan apa sih? Kok tadi kamu gak bilang?" cecar Cindy.


"Ya ini sekalian bilangnya." jawab Satria.

__ADS_1


"Yaudah gapapa, kamu hati-hati perginya ya." ucal Indah.


"Baik nyonya, kalo gitu saya pamit pergi." ucap Satria.


"Dadah ayang, hati-hati ya di jalannya jangan ngebut, nanti kabarin aku kalau udah sampe apartemen."ucap Cindy.


"Pastinya." ucap Satria.


Satria kembali berpamitan, dia langsung keluar dari rumah Indah kemudian masuk ke dalam mobilnya. Albert keluar dari ruang kerjanya menghampiri istrinya yang sesang asyik ngemil duduk disamping ibunya, ia melihat Cindy yang sudah datang namun ia tak melihat Satria.


"Satria nya kemana?" tanya Albert.


"Udah pulang, katanya ada keperluan baru aja dia pergi." jawab Cindy.


"Gimana ydah dapet belum?" tanya Albert.


"Bentar dulu kak." ucap Cindy.


Cindy langsung membuka tasnya mengeluarkan tisu yang ia gunakan untuk menyimpan rambut Satria, Albert langsung datang menghampiri Cindy.


"Ini kak, cuman sehelai kan?" tanya Cindy sambil menyerahkan tisunya.


Albert dengan hati-hati mengambil tisu dari tangan Cindy, dia meminta istrinya mengambil kotak kecil agar rambut Satria aman ditangannya sebelum ia menyerahkannya kepada Edgar.


"Kerja bagus." ucap Albert.


"Siapa dulu dong Cindy gitu loh." ucap Cindy bangga.

__ADS_1


"Emhh mom, ada yang ingin Al bicarakan soal kecelakaan kita beberapa bulan lalu." ucap Albert.


Indah menyimpan gelas yang ada ditangannya, dia menatap wajah Albert dengan serius. Cindy ikut penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh kakaknya, pak Ahmad di panggil oleh Albert untuk ikut bergabung karena pembahasan kali ini sangatlah serius demi terungkapnya kasus yang sudah lama tak terpecahkan.


__ADS_2