
Malam ini Dewa menginap di rumah sahabatnya, Soleh Munawar. Rumah sederhana yang memiliki tiga kamar. Kamar pertama ditempati oleh orang tua Soleh. Kamar kedua ditempati oleh adik perempuan Soleh Dan kamar ketiga ditempati oleh kakak Soleh bersama istri dan seorang anaknya.
"Maaf yah Wa. Gua cuma bisa ngajak lo tidur di sini," ucap Soleh seraya menggelar kasur lantai di ruang tv. "Ga kebagian kamar."
"Gak papa kok Sol ... justru gue yang minta maaf karena udah ngerepotin." Dewa merebahkan dirinya di atas kasur lantai. "Besok kita cari kontrakan yuk," ujarnya.
"Iya ... gue udah bilang bokap dan bokap gue udah ngijinin gue ngontrak rumah bareng lo." Sol turut merebahkan diri di atas kasur lantai.
"Gue pengen cari kerja, Sol," ucap Dewa dengan tatapan menerawang menatap langit-langit.
"Lo siapin aja lamarannya, nanti gue anter lo ngelamar kerja."
"Gua ga bawa ijazah, Sol."
"Hah ... kalau lo ga ada ijazah gimana mau melamar kerja." Sol berbaring menghadapnya.
"Gue ga kepikiran sama ijazah...." Dewa menepuk seekor nyamuk yang melintas di depan wajahnya. "Kerja apa yah yang ga perlu pake ijazah," sambungnya.
"Emm... oiya, tetangga gue kan kemarin baru berhenti kerja di restoran apa rumah makan gitu. Coba deh nanti besok gue tanyain apa di restoran tempat dia kerja dulu, masih butuh karyawan." Sol bangun, ia nampak mencari sesuatu.
"Wah boleh tuh. Gua mau," ucap Dewa bersemangat.
"Iya nanti gua tanyain." Sol sudah mendapatkan yang ia cari yaitu obat nyamuk bakar, lalu membakar ujung spiralnya.
"Di sini banyak nyamuk, Wa ... harus pake ini." Sol menancapkan obat nyamuk bakar ke seng penyangga. "Belum pernah kan lo tidur pake ginian," ledeknya.
Dewa tersenyum, bukan karena menanggapi ucapan Sol tapi Ia sedang mengingat momen tadi siang tentang pertemuannya dengan bidadari, malaikat tak bersayap yang ternyata bernama Mimin. Nama yang sederhana. Namun tidak sederhana untuk menjabarkan bagaimana kecantikan parasnya. Definisi dari cantik luar dalam. Seperti yang diucapkan Bi Siti "... geulis, bageur, solehah, top markotop, endol surendol pokona mah."
Sebelum benar-benar terlelap, Dewa tersenyum sekali lagi. Berharap dalam tidurnya malam ini, ia akan bermimpi. Bermimpi bertemu Mimin sang bidadari.
*****
Sang Fajar telah terbit dan Azan subuh tengah berkumandang. Badannya terasa digoyang-goyang oleh seseorang. Ternyata Sol membangunkannya. "Wa ... bangun!"
Meski terasa berat, Dewa berusaha membuka kelopak matanya. "Emang jam berapa ni Sol?" tanyanya.
"Jam setengah lima," jawab Sol.
"Etdah busyet ... masih subuh ijo ngapain dibangunin. Whoooaam...." sungut Dewa diakhiri dengan menguap lebar-lebar.
__ADS_1
"Salat Wa ... salat ... salat." Dewa bergeming tak menggubris ucapan Sol.
"Kalau di sini harus salat Wa. Bisa diamuk bokap gue kalau ga mau salat." Sol berbicara di telinga Dewa agar terdengar jelas.
Dewa seketika melonjak. "Ya ya ya ... gue bangun," ucap Dewa pasrah.
"Yuk lah wudu terus salat," ajak Sol.
"Hah... Salat."
"Iya... Ayo..." Sol menarik tangannya. Mau tidak mau Dewa mengikuti Sol, berwudu lalu salat.
Dewa bukanlah orang yang tidak pernah melaksanakan salat selama hidupnya. Ia pernah salat, dulu, sudah lama sekali, terlampau lama sehingga ia pun lupa kapan terakhir melaksanakan salat. Karena terbawa dengan lingkungan rumah dimana mama, papa, dan kakaknya tidak pernah melaksanakan salat, ia pun jadi ikut dan terbiasa tak melaksanakan salat.
*****
Matahari pagi perlahan mulai naik. Dewa dan Sol sampai di sebuah tempat. Dewa membaca tulisan besar yang ada di sana Rumah Makan Belut Raos. Ia kemudian masuk ke tempat itu untuk melamar kerja. Tak disangka, Ia langsung diterima dan mulai bekerja saat itu juga. Ia segera menemui Sol untuk memberitahukan bahwa Ia langsung bekerja hari ini.
Rumah makan ini terdiri dari dua konsep, indoor dan outdoor. Untuk outdoor terdapat beberapa saung yang berjejer rapi. Dan ternyata untuk rumah makan yang terhitung besar ini hanya memiliki lima orang karyawan, termasuk koki.
Saat waktu jam makan siang adalah saat tersibuk untuk seluruh karyawan. Dewa bekerja mulai dari membantu koki menangkap belut, menulis menu pesanan tamu, mengirimkan makanan kepada tamu, membereskan bekas makan para tamu, bahkan sampai jadi tukang parkir.
Malam hari Dewa baru pulang dengan dijemput Sol. Mereka sampai rumah pukul sepuluh malam. Karena badannya terlalu lelah, Ia pun langsung tertidur.
Esok harinya sebelum berangkat kerja, Dewa dan Sol sepakat untuk mencari kontrakan. Mereka mulai berkeliling mencari kontrakan dari pukul setengah tujuh pagi. Mencari kontrakan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ada yang cocok, namun mereka harus menunggu tiga minggu sampai penghuni kontrakan sebelumnya selesai berkemas dan pindah. Itu pun mereka harus menyerahkan DP sebesar lima puluh persennya.
"Terus gimana nih, Wa?" tanya Sol.
"Udah ah, besok aja kita lanjutkan. Sekarang gue mau kerja dulu," jawab Dewa sambil melirik jam di tangannya. "Nanti gue bisa terlambat," sambungnya.
Sol mengantar Dewa ke tempat kerja kemudian seperti biasa Ia langsung pergi menuju kios membantu ayahnya. Kegiatan Sol sehari-hari adalah menjaga kios jilbab dan kerudung milik ayahnya.
Dewa melirik jam di tangannya. Ia sadar bahwa ini sudah terlambat lima menit. Ketika hendak masuk, di depan pintu sudah berdiri pria berkepala botak dan berperut buncit yang tak lain adalah bosnya.
"Jam berapa sekarang!" bentak si Bos.
"Maaf Pak, saya terlambat." Dewa berbicara dengan menunduk untuk menghargai bosnya.
"Kamu saya pecat!!"
__ADS_1
Dewa terkejut. "Kenapa saya dipecat Pak?!"
"Pake nanya lagi. Karena kamu sudah terlambat datang," jelas si Bos dengan angkuhnya.
"Tapi Pak, saya kan cuma terlambat lima menit." Dewa membela diri.
"Apa kamu bilang?! Cuma lima menit?! Kalau pun kamu terlambat lima detik, tetap saya akan pecat. Karena itu artinya kamu adalah individu yang tidak bisa menghargai waktu."
Dewa menggelengkan kepalanya, kini ia menatap tajam pria berkepala botak dan berperut buncit itu.
"Oh begitu. Silakan Anda pecat saya. Karena saya juga tidak mau bekerja dengan manusia yang tidak bisa memanusiakan manusia!" ucapnya dengan tegas dan lantang.
"Saya bisa laporkan Anda ke kementerian tenaga kerja. Anda sudah menerapkan kerja rodi di sini! Rumah makan sebesar ini hanya memiliki lima karyawan, yang bener aja. Udah gitu gajinya kecil jauh di bawah standar. Bertentangan dengan undang-undang tenaga kerja." Ia berbicara dengan berapi-api.
"Berani kamu sama saya!!" Wajah pria berkepala botak dan berperut buncit itu sudah merah karena amarah. Lalu menggulung lengan bajunya.
"Waduh gawat." gumam Dewa.
Dewa segera mengambil langkah seribu. Bukan karena takut tapi ia cukup tahu diri bahwa ini adalah negeri orang, ia hanya orang asing di sini.
"Hey... Sini kamu! Awas kamu ya!" si Bos berteriak sambil terus mengejarnya.
Dewa terus berlari. Ia baru berhenti berlari setelah yakin pria itu tidak mengejarnya lagi.
"Pagi-pagi udah olahraga ... dikejar bulldog guk guk guk," gumamnya dengan nafas terengah-engah.
Dewa duduk di sebuah batu besar di pinggir jalan. Ia meminum air mineral dalam bentuk gelas yang ia beli setelah berkeliling mencari kontrakan bersama Sol. Ia meminumnya hingga tandas.
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang bapak tua berkopiah sedang terbatuk-batuk.
"Batuk Pak Haji..." sapa Dewa. Tangannya menyodorkan air mineral dalam bentuk gelas untuk Bapak berkopiah.
.
.
.
__ADS_1
.