Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Ngebakso


__ADS_3

Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Jawaban Opi sukses membuat Dewa tersedak sampai terbatuk-batuk.


Niatnya untuk melegakan kerongkongan malah membuatnya sakit karena tersedak minuman hingga ke hidung.


"Pelan-pelan Ka," sahut Opi.


Opi bangun dari tempat duduknya lalu menghampiri Dewa yang duduk di hadapannya dengan meja makan sebagai penyekatnya. Lalu menepuk-nepuk punggung Dewa sebagai usaha memberikan pertolongan pertama ketika tersedak.


Dewa menghembuskan nafas panjang sambil satu tangannya memegang dada saat telah berhasil melewati drama tersedak barusan. Dan merasakan kerongkongannya sudah lebih nyaman.


"Udah Pi, cukup," ucap Dewa karena Opi masih saja menepuk-nepuk punggungnya.


"Ka Dewa minumnya ga hati-hati sih. Jadi sampai kepeselek gitu," ujar Opi. Ia kemudian duduk di sebelah Dewa. Berpindah dari tempat duduknya semula. Mangkok mi ayam pun ia seret ke posisi dekat tempat duduknya kini.


"Siapa pacarnya?" tanya Dewa sembari melanjutkan aktivitas makannya.


"Namanya Yosil." Ucapan Opi terdengar tidak jelas karena ia baru saja menyuapkan sesendok penuh mie ayam ke dalam mulutnya.


"Siapa? Yosil?" tanya Dewa. Ia memandang Opi yang mulutnya terlihat monyong karena terlalu banyak mi yang ia jejalkan ke dalam mulut. "Lo kalau makan pelan-pelan, sedikit-sedikit aja," ucapnya lagi.


Opi meringis. "Habis... laper sih," jawabnya.


Dewa masih menunggu jawaban Opi. Ia sangat penasaran tentang siapakah sosok pria beruntung yang menjadi kekasih Mimin. "Siapa Pi, pacarnya Mimin?" Ia mengulang pertanyaannya.


"YUSRIL," jawab Opi setelah mi berhasil ditelannya. Ia berkata dengan penekanan agar bisa terdengar jelas oleh Dewa.


"Teman kerja Mimin?" Dewa kini dalam mode kepo akut.


"Bukan. Yusril itu teman sekolah si Teteh dulu waktu SMA," jelas Opi.


"Kok ga pernah lihat ngapelnya?! Perasaan ga pernah lihat Mimin jalan sama cowok."


"Emang dia ga ada di sini. Kerjanya jauh ... di Qatar."


"Jauh amat. Jadi mereka LDR gitu?"


"Iya. Pulangnya tiga bulan sekali. Katanya sih kalau pulang ke sini lagi, nanti mau melamar si Teteh," tutur Opi.


Penuturan Opi ini membuat dada Dewa terasa sesak. Seketika ia merasa membutuhkan oksigen dalam jumlah yang banyak.


*****


Mimin masih ditemani Rahma di menit-menit terakhir pulang kantor. Ia sedang menyelesaikan mengetik laporan bulanan, sambil berbincang dengan Rahma.


"Min, si playboy cap dua anting itu masih suka menghubungi kamu?" tanya Rahma sambil memperhatikan Mimin yang jari jemarinya sedang licah mengetik pada papan keyboard komputer.


"Hah, siapa itu playboy cap dua anting?" Mimin sampai menoleh sekilas ke arah Rahma yang duduk di sampingnya. Menjawab pertanyaan Rahma dengan pertanyaan lagi.


"Yusril."


Mimin tergelak mendengar julukan Rahma kepada Yusril, hingga badannya terguncang-guncang karena tawa. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan karena tawanya tak kunjung mereda. "Asal aja kamu kasih julukan orang. Hahaha...." ucapnya diiringi sisa tawa yang belum berhenti.


"Bener kan, dia tuh playboy cap dua anting. Inget ga dulu dia pernah PDKT sama kita bertiga ... kamu, aku dan Hana," kata Rahma.


"Eee, masa sama Hana juga sih. Bukannya waktu itu Hana enggak tinggal di sini." Mimin melanjutkan kegiatan mengetiknya.


"Iya PDKT ke Hana juga waktu Hana liburan di sini," terang Rahma.

__ADS_1


"Ooh... Aku malah baru tahu. Yusril suka WA sih tapi jarang aku bales," tutur Mimin bertepatan dengan selesainya tugas yang sedang dikerjakan.


"Dengar-dengar Hana mau ke sini lagi loh," ujar Rahma.


"Iya, katanya ada tawaran untuk jadi dosen di sini ya," ucap Mimin seraya mematikan layar komputernya.


"Iya."


"Keren ya Hana. Memang pinter sih dia."


"Udah beres, Min?" tanya Rahma ketika melihat Mimin mematikan komputernya.


"Alhamdulillah beres. Besok tinggal di print."


Mimin membereskan pekerjaannya, merapikan ATK dan file-file ke tempatnya. Ia membuka buku agenda kerja, membaca jadwal Rizal esok hari. Begitu kebiasaan Mimin sebelum pulang kerja. Kemudian pesawat telepon di meja kerjanya berbunyi.


"Min, tolong ke ruangan saya sebentar. Bawa buku agenda kerja." Suara Rizal di ujung telepon.


"Baik, Pak," jawab Mimin.


Dengan sigap Mimin segera melaksanakan perintah atasannya. "Bentar ya Ma, dipanggil Bos," ujarnya.


Rahma mengangguk.


"Mau dibilangin ke Kang Rizal ga, kalau kamu ada di sini," ujar Mimin sebelum berlalu menuju ruangan Rizal.


"Enggak usah," sahut Rahma.


Tok... Tok... Tok...


Rahma mengetuk pintu ruang kerja Rizal.


Mimin masuk ke ruangan dimana masih ada Deka yang sedang duduk di sofa panjang bersama Rizal.


"Duduk Min," ujar Rizal.


"Iya, terima kasih, Pak." Mimin mendaratkan bokongnya di sofa. Ia memilih duduk di tempat duduk yang muat untuk seorang saja.


"Min, lusa saya ada jadwal ketemu klien ga?" tanya Rizal.


Mimin membuka buku agenda kerjanya. "Untuk sementara jadwal yang sudah tercatat di sini ... lusa ada jadwal pertemuan dengan Pak Arja dan jadwal kunjungan meninjau proyek yang di Balaraja, Pak."


"Emmm... Kalau begitu lusa kamu saja Min yang menemani Pak Deka ke Dinas," ujar Rizal. Ia menatap Mimin. "Ga apa-apa kan, Pak Deka, kalau Mimin yang menemani?" tanya Rizal. Ia kini menatap Deka.


"Oh, tentu tak apa-apa Pak Rizal," jawab Deka. Lalu ia tersenyum menatap Mimin. Mimin yang kebetulan sedang menatap Deka, membalas senyuman Deka sesingkat mungkin.


"Min, kalau pekerjaan kamu sudah selesai...." Rizal melihat jam di tangannya. "Kamu boleh pulang," sambungnya.


"Iya, terima kasih. Saya permisi pulang ya, Pak. Rahma juga sudah nungguin," ujar Mimin seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Rahma ada di sini? Mau ke mana?"


"Iya, Rahma ada di sini, Pak. Enggak kemana-mana cuma mau ngebakso."


"Oh, ya udah hati-hati ya."


Mimin mengangguk lalu mengucap salam. "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Rizal.

__ADS_1


Saat Mimin berjalan keluar dari ruang kerja Rizal, terdengar Deka juga berpamitan.


"Sudah sore, waktunya jam pulang. Saya juga permisi, Pak Rizal," ucap Deka. Ia yang semula duduk kini bangkit berdiri.


"Ya, Pak Deka silakan. Nanti saya kabari lagi lusa. Kalau urusan saya bisa di-cancel, nanti saya yang akan temani Pak Deka ke Dinas, insyaallah," tutur Rizal yang juga turut bangun dari posisi duduknya.


"Kalau Pak Rizal sibuk ... saya ga masalah kok kalau ditemani Jasmin," ujar Deka. Dan tentu saja itu adalah yang sangat diinginkannya.


"Iya Pak Deka. Mimin juga insyaallah bisa diandalkan jika saya berhalangan," ujar Rizal.


Deka tersenyum. "Saya yakin itu, Pak Rizal," ucapnya. Kemudian ia berlalu meninggalkan ruang kerja Rizal.


"Jasmin, kamu mau pulang? Biar saya antar kamu," ucap Deka ketika melihat Mimin sudah menenteng tasnya bersiap untuk pulang.


"Eee, tidak usah, Pak. Saya mau pulang bareng Rahma. Oya kenalkan ini Rahma, adiknya Pak Rizal," ujar Mimin.


Deka mengulurkan tangannya sembari menyebutkan namanya. "Deka."


Rahma membalas dengan mengapitkan kedua tangannya, bersalaman tanpa bersentuhan. "Rahma," balasnya.


"Kalian mau ke mana?" tanya Deka.


"Emmm..." Mimin ragu untuk menjawab pertanyaan Deka.


"Katanya tadi bilang mau ngebakso. Enak juga ya ngebakso. Saya boleh ikut ga?"


Mimin menatap Rahma ia berucap lewat pandangan mata. "Gimana nih?"


Rahma menjawab dengan mengedikkan bahu.


"Oh, ya sudah lain kali saja kalau begitu," ucap Deka akhirnya karena merasa dua gadis ini tidak menginginkannya untuk ikut.


"Kami mau berangkat sekarang. Kalau Bapak mau menyusul, Bapak datang saja ke kedai bakso Mas Bakar," ujar Mimin.


"Sip. Nanti saya ke sana," ucap Deka bersemangat.


"Bapak tahu tempatnya?"


"Bisa pake google map kan?"


Mimin mengangguk. "Kami duluan yah, Pak."


"Iya hati-hati di jalan," ucap Deka mengiringi Mimin dan Rahma yang sudah melangkahkan kaki untuk keluar.


.


.


.


.


Mimin dan Rahma mau ngebakso juga. Apakah mereka nanti akan bertemu dengan Dewa dan Opi?


Apakah nanti Deka ikut menyusul? Lalu bertemu Dewa?


Ikuti terus ya ceritanya.


Jangan lupa dukungannya.

__ADS_1


Terima kasih. 😘😘


__ADS_2